Example floating
Example floating
Example 468x60 Example 468x60 Example 468x60
BeritaKota KupangNusa Tenggara Timur

Peringati Hari Bumi, Komunitas Sahabat Alam dan WALHI NTT Gelar Aksi Tanam Mangrove

186
×

Peringati Hari Bumi, Komunitas Sahabat Alam dan WALHI NTT Gelar Aksi Tanam Mangrove

Sebarkan artikel ini
Example 468x60

BERITAOPINI.ID KUPANG NTT| Dalam semangat memperingati Hari Bumi 2025, Komunitas Sahabat Alam NTT berkolaborasi dengan Wahana Lingkungan Hidup Indonesia (WALHI) Nusa Tenggara Timur menggelar aksi penanaman mangrove di Pesisir Pantai Oesapa Barat, Kota Kupang, Selasa (22/04/2025). Lebih dari sekadar seremonial, kegiatan ini menjadi wujud nyata kepedulian terhadap pelestarian lingkungan, khususnya ekosistem pesisir yang semakin terancam.

Aksi yang bertemakan “Bergerak, Bersuara Untuk Pemulihan Lingkungan Hidup dan Keselamatan Rakyat Nusa Tenggara Timur” ini, dihadiri oleh berbagai elemen masyarakat, mulai dari komunitas pecinta alam, mahasiswa, dan tokoh masyarakat. Semangat kebersamaan dan gotong royong tampak jelas dalam upaya menanam ratusan bibit mangrove di kawasan pesisir yang dulunya gersang.

“Penanaman pohon mangrove ini tentu belum terasa dalam satu atau dua tahun mendatang, tetapi akan dirasakan pada generasi anak dan cucu kita,” ungkap Hadi Jatmiko dari Walhi Nasional, menekankan pentingnya pandangan jangka panjang dalam pelestarian lingkungan.

Kegiatan ini tidak hanya melibatkan penanaman bibit mangrove, tetapi juga diisi dengan edukasi singkat tentang pentingnya ekosistem pesisir dan sesi komitmen bersama untuk pelestarian lingkungan. Semangat kebersamaan dan kepedulian terhadap lingkungan hidup terpancar dari setiap peserta yang hadir.

“Kita tahu bahwa kenaikan suhu di bumi sudah semakin meningkat. Kemarin, catatannya sudah empat melebihi satu koma lima derajat celsius. Artinya itu alarm untuk planet bumi kita, dan itu bukan lagi pemanasan global, tetapi sudah menjadi pendidihan global,” lanjut Hadi Jatmiko, menggambarkan betapa mendesaknya masalah perubahan iklim yang dihadapi dunia saat ini.

Ancaman terhadap lingkungan hidup di NTT tidak hanya datang dari perubahan iklim global, tetapi juga dari aktivitas manusia yang merusak. “Energi kotor masih terus beroperasi, hutan-hutan dibabat, laut dikapling-kapling, sehingga ruang-ruang hidup rakyat itu semakin tergerus dan menyebabkan kemiskinan,” tegasnya.

Suci Fitria Tanjung dari Walhi Jakarta menambahkan, “Inilah momentum kita menjadi bagian dari gerakan rakyat, untuk sama-sama menginisiasikan penyelamatan lingkungan hidup dan melestarikan lingkungan hidup untuk kehidupan di masa depan yang akan datang.”

Sementara itu, Umbu Wulang Tanaamah Paranggi selaku Direktur Walhi NTT dalam sambutan menyampaikan harapannya, “kita berharap anak muda yang ada pada siang hari ini dapat memberi inspirasi bagi anak-anak muda lainnya untuk terus menyelamatkan apa yang harus kita selamatkan di Nusa Tenggara Timur.”

NTT sebagai provinsi kepulauan memiliki karakteristik geografis yang unik dan rentan terhadap dampak perubahan iklim dan kerusakan lingkungan. “Seringkali cara kita berpikir bahwa kehidupan hanya berlangsung di daratan, seolah-olah tidak ada kehidupan di laut. Sehingga sering kita mengabaikan daerah pesisir dan pulau-pulau kecil,” ujar Umbu Wulang T. Paranggi.

“Semogah di momentum hari bumi ini juga mengingatkan kita betapa menjadi orang NTT itu adalah simbol tentang militansi, simbol tentang kerja keras, simbol tentang dedikasi, simbol tentang komitmen, sebab tidak mudah untuk hidup di provinsi kepulauan seperti ini,” lanjutnya, membangkitkan semangat dan kebanggaan sebagai masyarakat NTT.

Umbu Wulang T. Paranggi juga mengingatkan tentang pentingnya menjaga warisan leluhur dan menolak segala bentuk pembangunan yang merusak alam dan merampas hak-hak masyarakat.

“Sebaiknya, setangguh-tangguhnya manusia NTT, juga adalah tangguh melawan setiap pembangunan yang merampas hak-hak warga, dan tidak memperdulikan hak asasi manusia. Jangan sampai karya-karya kita, karya-karya leluhur kita, karya-karya generasi baru terhadap alam ini, merusak dengan hadirnya kepentingan-kepentingan tertentu,” tegasnya.

“Kita di Nusa Tenggara Timur sering dicap sebagai orang-orang miskin dengan tingkat pendidikan rendah. Kalau NTT miskin, tidak mungkin Belanda, Portugis datang dan menjajah kita. Karena kita kaya sehingga penjajah datang menjamah daerah kita. Tidak ada penjajah yang bodoh, untuk menjarah daerah yang miskin. Jadi narasi-narasi bahwa NTT itu miskin adalah narasi pembodohan, supaya ada alasan untuk kita dihancurkan, dan dieksploitasi,” paparnya, membantah stigma negatif yang seringkali dilekatkan pada masyarakat NTT.

Lebih lanjut, Marshanda May Longa selaku divisi Konservasi, Shalam NTT menjelaskan bahwa mangrove memiliki peran penting dalam menjaga keseimbangan ekosistem pesisir.

“Sebagaimana yang kita tahu bahwa mangrove ini tidak hanya tanaman simbolik tetapi juga sebagai tanaman yang juga menjaga pantai kita dari abrasi akan air laut, dan tempat tinggal dari biota laut,” jelasnya.

“Mewakili teman-teman dari Sahabat Alam NTT, saya juga mengucapkan terima kasih, kepada perwakilan Walhi Nasional, kepada eksekutif Walhi NTT, para undangan dan rekan-rekan saya Sahabat Alam NTT, yang sudah antusias dan tetap semangat meski panas matahari membara,” pungkasnya, mengapresiasi seluruh pihak yang telah berpartisipasi dalam kegiatan ini.

Aksi penanaman mangrove ini diharapkan menjadi inspirasi bagi masyarakat luas untuk lebih peduli dan aktif dalam menjaga kelestarian lingkungan hidup, khususnya di Nusa Tenggara Timur. Semangat “Energi Kita, Planet Kita!!” terus digaungkan sebagai pengingat bahwa setiap individu memiliki peran penting dalam menjaga bumi untuk generasi mendatang.

Example 300250 Example 468x60 Example 300250

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *