BERITAOPINI.ID KUPANG NTT | Dewan Pimpinan Cabang Gerakan Mahasiswa Nasional Indonesia (DPC GMNI) Kupang resmi melaksanakan Kaderisasi Tingkat Dasar (KTD) yang mengangkat tema “Aktualisasi Marhaenisme dengan Membentuk Kader Militan yang Progresif Revolusioner dalam Kehidupan Berbangsa dan Bernegara”. Kegiatan ini merupakan bagian dari proses kaderisasi formal yang diatur dalam konstitusi organisasi.
Sebanyak 71 calon kader mengikuti proses pengkaderan yang berlangsung selama enam hari sejak Selasa, 26 November hingga Senin, 01 Desember 2025 di Garda GMNI Kupang. Kegiatan ini bertujuan membentuk kader GMNI yang memiliki kesadaran politik, kemampuan analisis kritis, serta kepekaan sosial terhadap ketimpangan dan kemiskinan struktural yang masih membelenggu masyarakat.
Ketua DPC GMNI Kupang, Jacson Markus, dalam sambutannya menegaskan bahwa Marhaenisme tidak boleh hanya dihafal sebagai ideologi, tetapi harus menjadi metode perjuangan bagi setiap kader dalam membela kelompok Marhaen yang tertindas.
“Menjadi kader GMNI bukanlah hal mudah. Kader harus siap ditambatkan di mana saja dan menjadi pelopor perubahan masyarakat. Marhaenisme harus dapat diterima oleh semua elemen masyarakat melalui tindakan nyata kita,” tegas Jacson.
Sementara itu , Sekretaris DPD GMNI NTT mengingatkan bahwa GMNI sebagai organisasi gerakan harus mampu menyesuaikan diri dengan perkembangan zaman. Namun adaptasi tersebut tetap harus berlandaskan nilai-nilai Marhaenisme sebagai asas perjuangan.
Kegiatan KTD secara resmi dibuka oleh perwakilan Persatuan Alumni (PA) GMNI NTT, Leo Liwun. Dalam sambutannya menyampaikan dukungan penuh PA terhadap kaderisasi GMNI aktif.
Dirinya berpesan agar DPC GMNI Kupang menciptakan lebih banyak ruang kaderisasi non-formal yang dapat melatih ketahanan, karakter, dan semangat juang kader.
“Kaderisasi formal penting, tetapi ruang non-formal juga sangat dibutuhkan untuk memperkuat mental dan militansi kader GMNI,” ujarnya.
Kegiatan KTD dijadwalkan berlangsung hingga akhir pekan dengan materi ideologi, organisasi, dan analisis sosial yang dirancang untuk menciptakan kader yang militan, progresif, dan revolusioner.
















