Example floating
Example floating
Example 468x60 Example 468x60 Example 468x60 Example 468x60 Example 468x60
Uncategorized

Teater Saka Beri Edukasi Terkait Obyektivikasi Perempuan Melalui Kisah Dilarang Menyanyi di Kamar Mandi

152
×

Teater Saka Beri Edukasi Terkait Obyektivikasi Perempuan Melalui Kisah Dilarang Menyanyi di Kamar Mandi

Sebarkan artikel ini
Example 468x60

BERITAOPINI.ID SURAKARTA JATENG | Sebuah pertunjukan teater berhasil dihelat oleh Teater Sakha dari Universitas Nahdlatul Ulama Surakarta di Gedung Serbaguna Kampus UNU pada Sabtu (27/12/2025).

Pertunjukan ini sebagai peringatan Teater Sakha ke 5. Teater Sakha menggandeng Mapala Kaki Langit untuk menghelat pertunjukan teater.

Pertunjukan itu mengusung tema tentang obyektivitas terhadap perempuan. Tema ini dipilih untuk membeberkan bagaimana perempuan acap kali menjadi obyek di sela-sela realitas manusia.

Ganang selaku sutradara menandaskan bahwa proses ini, sebagai langkah untuk mengasah kreativitas anggota Teater Sakha. Dilarang Menyanyi di Kamar Mandi oleh Gusmel Riyad dipilih untuk menjadi pertunjukan menarik dari Teater Sakha.

“Naskah Dilarang Menyanyi di Kamar Mandi ini menjadi referensi bagi Teater Sakha untuk berproses,” jelas Ganang di Gedung Serbaguna Universitas Nahdlatul Ulama Surakarta pada Sabtu (28/12).

Melalui naskah gubahan Gusmel Riyad itu, Teater Sakha memoles dengan kreativitasnya untuk mencipta dan mengeksplorasi pertunjukan teater dalam versinya sendiri.

Kata Ganang, rekan-rekan Teater Sakha melakoni latihan selama dua bulan untuk membikin pertunjukan teater. “Ini bentuk kegigahan rekan-rekan Teater Sakha, sebagai tekad terjun dalam dunia kesenian teater,” tambahnya.

Ganang menyoroti terkait dengan kondisi kiwari, di mana perempuan acap kali menjadi tujuan obyektivitas laki-laki. Atas situasi demikian, perempuan sering kali kurang memiliki ruang aman. “Perempuan sering menjadi obyektivikasi, kemudian diamini, tanpa analisa secara kritis, misalnya lekuk tubuh, suara dan beberapa lainnya yang membuat perempuan sering dipenjara,” jelas Ganang.

Teater ini menceritakan seorang perempuan indekos bernama Zus. Ia tinggal di sebuah perkampungan padat penduduk. Kejanggalan muncul, ketika zus yang saban kali mandi, ia selalu berdendang. Anehnya, bapak-bapak atau kaum laki-laki itu terpikat.

Di samping menggambarkan gesekan antara pengobyekan terhadap perempuan, Ganang turut pula menggambarkan kondisi antrhopologis masyrakat perkampungan. Toilet umum dipilih sebagai tempat berjumpa, bagi penghuni indekos, yang menggunakan toilet itu secara bergantian.

Saat ditanyai mengapa harus toilet umum dan kamar mandi, menurut Ganang, ia ingin membikin pertunjukan teater ini serealis mungkin, dan dapat menyuguhkan sisi kehidupan yang jarang kali dilihat, yaitu kehidupan perkampungan padat yang setiap rumahnya kurang beruntung memiliki toilet umum.

Latar tempat toilet umum dipilih menjadi tempat letupan teater terjadi. Para pria mengintip Zus dengan merambati dinding toilet umum. Mereka mendengarkan penuh kejanggalan, saat Zus bernyanyi di Kamar Mandi. Zus tertekan merasa dirinya menjadi obyek dari gairah pria-pria mata keranjang. Kemudian, Zus memutuskan untuk pindah di indekos lainnya, berharap bisa menjauhi pria-pria pengintip itu.

Naas, saat ia pindah berharap rasa aman hadir ke dalam dirinya, malah berubah menjadi lebih parah. Zus tetap diintip, membuatnya merasa terganggu. Kelakuan pria-pria itu kepada Zus, nampaknya berimbas kepada istri-istri mereka. Di situ dibeberkan, istri-istrinya merasa dinomorduakan. Mereka terpikat oleh Zus.

Teater tersebut mempertunjukan bagaimana perempuan acap kali ditakar kecantikannya. Saat ditanyai, mengapa hal tersebut disuguhkan di dalam pentas, Ganang menyitir sebuah buku gubahan Naomi Wolf berjudul Mitos Kecantikan, ia mempertegas bahwasannya kecantikan bagi perempuan itu pisau bermata dua.

“Itu bisa menjadi berkah, namun di sisi lainnya menyebabkan perempuan dipenjara oleh obyektifikasi yang bermuka dua,” jelas Ganang.

Di dalam pentas, Ketua Rukun Tetangga mencoba menyelesaikan masalah itu. Ia membuat sebuah ruang kebugaran, agar istri para pria pengintip dapat bugar, seperti tubuh milik Zus.

“Pertunjukan ini sebagai wahana refleksi dan juga edukasi bagi para penonton,” tambah Ganang.

Di tempat yang sama, Gigok Anurogo turut pula hadir dalam pertunjukan tersebut. Ia mengucapkan selamat kepada Teater Sakha yang kelima. Selain itu, ia juga memberikan dorongan kepada para seniman Teater agar terus berproses dan menciptakan karya-karyanya.

Selain itu, Prawoto Susilo selaku Pembina Teater Saka, membeberkan bahwa, perlu ada proses secara kontinyu bagi Teater Saka untuk mencipta pertunjukan. Mengenai pertunjukan Teater, ia mengacungi jempol, berkat latihan yang konsisten selama dua bulan.

“Menarik, namun perlu perbaikan. Pertunjukan ini sebagai proses guna pertunjukan teater kedepan yang lebih baik,” jelasnya

Example 300250 Example 468x60 Example 300250

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *