BERITAOPINI.ID BLORA JATENG | Fenomena tanah ambles di Kecamatan Banjarejo dan Tunjungan, Kabupaten Blora, Jawa Tengah dipicu kondisi tanah yang jenuh air akibat hujan berintensitas tinggi, kata Pelaksana Tugas Kepala Cabang Dinas ESDM Wilayah Kendeng Selatan Blora Hadi Susanto. Menurutnya, karakter tanah di wilayah sekitar aliran sungai membuat pergerakan tanah lebih mudah terjadi saat curah hujan meningkat.Blora, 5 Januari 2025
“Tanah aluvial di sekitar daerah aliran sungai (DAS) memang mudah jenuh air sehingga ketika hujan deras, air mengisi rekahan tanah, menambah beban, dan akhirnya memicu amblesan atau pergerakan tanah,” ungkap Hadi.
Hadi mengungkapkan secara geologi tidak ditemukan sesar aktif di wilayah terdampak. Menurut dia, kejadian serupa banyak ditemukan di kecamatan sekitar aliran sungai dan pergerakan tanah lebih terlihat pada musim hujan dibanding musim kemarau.
Terkait dugaan penyebab lain seperti pengeboran air tanah, ia menilai dampaknya kecil dan tidak signifikan.
“Hingga saat ini, tingkat pemanfaatan air tanah di Kabupaten Blora masih tergolong minim,” kata Hadi.
Ia mengatakan pemetaan potensi pergerakan tanah secara detail hingga kini belum tersedia, namun pihaknya membuka peluang apabila Pemkab Blora melakukan kajian lanjutan. Ke depan, penanganan akan dikoordinasikan lintas sektor bersama Dinas PUPR, TKPSDA, serta BBWS Pemali Juana karena wilayah DAS berada dalam kewenangan instansi terkait.

Masyarakat diimbau segera melaporkan apabila terjadi tanah ambles yang berpotensi membahayakan agar dapat ditindaklanjuti secara terpadu. Anggota Tim Reaksi Cepat (TRC) BPBD Kabupaten Blora Agung Triyono mengatakan pergerakan tanah telah berdampak pada sejumlah rumah warga.
Di Kecamatan Banjarejo terdapat tiga rumah terdampak, sedangkan di Kecamatan Tunjungan dua rumah mengalami kerusakan, dan wilayah terdampak meliputi Desa Buluroto serta Desa Tutup. Ia menjelaskan di Kecamatan Tunjungan pergerakan tanah terjadi di Dukuh Ngetrep, Desa Tutup pada Jumat, 2 Januari 2025, dengan penurunan tanah sedalam 15–30 sentimeter dan panjang rekahan sekitar 100 meter.
“Dua rumah warga mengalami rusak sedang dan tiga rumah lainnya terancam,” ujar Agung.
“Dua rumah rusak sedang masing-masing milik Djaiz dan Suyatno dengan total estimasi kerugian mencapai Rp16 juta,” tambahnya.
Di Kecamatan Banjarejo, pergerakan tanah terjadi di Dukuh Sambiroto, Desa Buluroto pada Senin (22/12) dengan penurunan sekitar 50 sentimeter dan panjang rekahan sekitar 200 meter. Hingga kini pergerakan tanah masih berlangsung dengan laju penurunan sekitar dua sentimeter per hari.
“Di lokasi tersebut, tiga rumah warga rusak sedang, masing-masing milik Sriyono, Janarto, dan Sayid, dengan total kerugian diperkirakan mencapai Rp30 juta,” kata Agung.
BPBD Kabupaten Blora mengimbau masyarakat di wilayah rawan bencana untuk meningkatkan kewaspadaan, terutama saat hujan lebat berdurasi lama, karena potensi pergerakan tanah dan longsor susulan masih cukup tinggi.
















