BERITAOPINI.ID OKU SUMSEL | Banjir musiman yang terus berulang di sejumlah desa dan kecamatan di OKU Timur tak bisa lagi ditoleransi sebagai peristiwa alam biasa. Ketika masalah yang sama hadir setiap tahun, maka yang patut dipertanyakan bukan hujannya, melainkan keseriusan tata kelola. Kamis 08 Januari 2026.
Pemerintah Kabupaten OKU Timur seharusnya menjadikan persoalan ini sebagai prioritas strategis, bukan sekadar agenda darurat saat air sudah menggenang. Normalisasi irigasi, pembersihan dan penataan sungai-sungai kecil, serta pengawasan alih fungsi lahan adalah langkah dasar yang seharusnya berjalan rutin dan terukur.
Menjelang usia OKU Timur ke-22 tahun, publik tentu berharap pada kematangan kebijakan, bukan pengulangan masalah. Dua dekade lebih adalah waktu yang cukup untuk membuktikan bahwa pembangunan hadir untuk melindungi rakyat, bukan sekadar memperindah laporan.
Sudah saatnya perayaan ulang tahun daerah diiringi dengan evaluasi jujur dan kerja nyata. Karena pembangunan yang bermakna adalah yang mampu mencegah penderitaan, bukan hanya menanggapi setelah kerugian terjadi.
Adapun solusi yang perlu dilakukan hemat pikir saya antara lain :
1. Normalisasi irigasi dan sungai kecil secara berkala, bukan insidental.
2. Pemetaan titik rawan banjir berbasis data dan keterlibatan masyarakat.
3. Penertiban bangunan dan aktivitas yang menghambat aliran air.
4. Transparansi anggaran penanggulangan banjir agar publik bisa mengawasi.
Banjir bukan takdir, jika kebijakan berjalan dengan akal sehat dan keberpihakan.
















