Example floating
Example floating
Example 468x60
BeritaKabupaten Penukal Abab Lematang IlirSumatera Selatan

Berjuang Setengah Mati Sampai Jual Mobil dan Kebun, Curhat Orang Tua Oknum Kades di Talang Ubi Banjir Komentar Netizen

22
×

Berjuang Setengah Mati Sampai Jual Mobil dan Kebun, Curhat Orang Tua Oknum Kades di Talang Ubi Banjir Komentar Netizen

Sebarkan artikel ini
Example 468x60

BERITAOPINI.ID PALI SUMSEL | Unggahan video berisi curahan perasaan yang diduga disampaikan oleh orang tua seorang oknum kepala desa di Kecamatan Talang Ubi, Kabupaten Penukal Abab Lematang Ilir (PALI), menuai perhatian publik di media sosial Facebook.

Dalam video tersebut, sang orang tua menyampaikan curahan hati dengan logat daerah dan nada suara bergetar

“Ikaklah kehidupan ku… ngarap dukung anak jadi kades. Jangan nak nyangking tobo, gawenye ke mane-mane, Kepunan kalau ade nak ngenjuk tau rentue. Ngum Palembang tau-tau lah bejalan, sekali belum. ‘Aey bak tunggu rumah kami nak ke Palembang’, bejalan ke mane-mane dak pernah minta izin. Tau-tau lah di Lampung. Kepunan, aman nak ngajak permisi bae idak.”

Ia menumpahkan kisah perjuangan hidup demi mendukung sang anak hingga terpilih menjadi kepala desa. Orang tua tersebut mengaku berjuang setengah mati, bahkan sampai menjual mobil dan kebun, dengan satu harapan anaknya menang dan kehidupan keluarga menjadi lebih baik.

“Bekuat setengah mati njual mobil, njual kebon. Harapan kami, mobil yang lah dijual pacak diganti anyar. Tapi lah sekian tahun berlalu, gawe nye sebagai kades, buat rumah, beli balam…sekalipun dak tepikir ” aey cak Mane mobil bak” idak pernah terpikir.”

Curhatan tersebut dengan cepat menyebar luas dan menjadi viral di media sosial. Banyak warganet menilai kisah itu mencerminkan retaknya hubungan keluarga, sekaligus memunculkan pertanyaan tentang perubahan gaya hidup oknum pejabat desa setelah menjabat.

Hingga kini belum ada klarifikasi resmi dari pihak yang bersangkutan, video tersebut menjadi pengingat bahwa jabatan publik tidak hanya berkaitan dengan kekuasaan, tetapi juga tanggung jawab moral terutama kepada keluarga yang selama ini berada di belakang layar perjuangan.

Selain viral dibagikan, kolom komentar unggahan tersebut juga dipenuhi beragam respons dari warganet. Sejumlah netizen menyampaikan empati dan rasa prihatin atas kondisi yang diceritakan dalam video itu.

Akun bernama Januar menilai situasi tersebut sebagai sesuatu yang menyedihkan dan menyebut perlakuan sang anak terhadap orang tua terkesan terlalu keras. Komentar itu kemudian mendapat tanggapan lain yang memperkuat nada keprihatinan.

Netizen lain, Rina Nose, menuliskan pesan singkat bernada dukungan agar sang orang tua tetap bersabar menghadapi kondisi yang dialami. Sementara akun Dewan Iswadi mengungkapkan kesedihan setelah menyimak isi curhatan tersebut, disertai ungkapan simpati.

Doa dan pesan penguatan juga datang dari sejumlah warganet. Akun Yuli Irawan menuliskan harapan agar orang tua tersebut diberikan ketabahan dan ridho Tuhan. Sedangkan akun As Bani menyampaikan semangat agar tetap kuat dalam menghadapi ujian hidup.
Di sisi lain, terdapat pula komentar yang bernada menenangkan dan mengajak agar persoalan tersebut tidak terus diperpanjang di ruang publik. Akun Suwanto Wanto menilai bahwa hal-hal yang telah berlalu sebaiknya dijadikan pelajaran dan tidak perlu terus dipersoalkan.

Beragamnya komentar tersebut menunjukkan besarnya perhatian publik terhadap unggahan yang viral itu. Namun, respons netizen juga mencerminkan adanya pandangan berbeda mengenai batas antara persoalan pribadi dan konsumsi publik, terutama ketika bersinggungan dengan jabatan publik.

Hingga berita ini diturunkan, belum ada klarifikasi resmi dari pihak oknum kepala desa yang dimaksud maupun dari pemerintah setempat. Publik pun masih menunggu penjelasan guna mencegah berkembangnya spekulasi dan menjaga kondusivitas di tengah masyarakat.

Example 300250 Example 468x60 Example 300250

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *