BERITAOPINI.ID SURAKARTA JATENG | Di pinggir kota Surakarta tepatnya di Desa Cemani, Sukoharjo, kumpulan Seniman dan Spiritualis membicarakan tentang jati diri masyarakat Nusantara kiwari pada Kamis (27/02/2026).
Kegiatan ini diinisasi oleh PASIBA SORA (Paguyuban Sinau Bareng Se-Solo Raya). Adalah Ki Amat, Ki Jlintheng dan Rekan Wahyu. Mereka adalah penggerak yang mengadakan ruang-ruang diskusi.
Bertempat di kediaman Ki Amat yang berlokasi di Desa Cemani, kurang lebih puluhan spiritualis dan regligius berkumpul membicarakan pemahaman Jawa yang kian hari kian dibayang-bayangi keterpurukan.
Syahdan, diskusi berlangsung begitu hangat. Malam yang dingin diselimuti aroma dupa yang menguar, Ki Jlinteng selaku pembicara mengajak para hadiri menilik kembali makna tindak laku rakyat Jawa.
Ki Jlinteng sang Pendalang dari Wayang Kampung Sebelah, punya sejuntalan materi memaknai Republik Indonesia yang dibayang-bayangi oleh elit tak nampak. Kata Jlintheng, ada kelompok dibalik layar yang mengatur keberlangsungan Ekonomi, Sosial, bahkan kesepakatan politik, ujarnya pada Kamis (27/02).
Ia memulainya dengan kesadaran spiritual dan relijius. Sebuah ‘Gunungan Jawa’ terpampang di layar monitor. Di situ, Jlinteng membedah kesadaran manusia Jawa secara khusus punya analisa mendalam. Jauh hari masyarakat Jawa telah mengetahui makna kesadara diri, sebelum tokoh-tokoh barat meramunya. Misalnya gagasan eksistensialisme yang dipromosikan oleh Jean Paul Sarte, di Jawa sudah ada Ki Ageng Suryo Mentaram yang tak kalah teruji.
Syahdan, malam itu lekat dengan perenungan. Jlintheng mengutarakan, ‘para elit global’ ujarnya, memiliki sejenis pemaknaan laku untuk mempengaruhi dunia. “Mereka yang menterang itu, juga punya sejenis ritus-ritus tertentu di samping penguasaan teknologi terbarukan,” ujarnya.
Slogan-slogan seperti ‘The New World Order’ ataupun dunia baru yang lebih cerah disinggung dalam diskusi tersebut. Kata Ki Jlinteng pertemuan itu pada Kamis (26/02/2026) sebagai ruang refleksi, bagaimana narasi itu nyatanya nampak, di balik temaram yang sengaja agar kita menutup rapat-rapat.
Jlintheng memulainya dengan membedah sebuah gunungan Jawa. Sebagai jebolah dari Fakultas Ilmu Budaya Universitas Sebelas Maret itu, Jlinteng mengatakan bahwa gunungan Jawa hampir punya kemiripan dengan logo milik Freemasonry.
Perbandingan itu bukan untuk menyandarkan kepada Freemasonry, akan tetapi sebagai sebuah refleksi, bagaimana pengaruh Freemasonry, kata Jlinteng kelompok itu telah menjamur dan punya pengaruh di banyak segmen, diperkuat dari spiritulitas. Jlinteng menyuguhkan sebuah ‘tesis’, bahwa ‘para elit global’ yang sering ia sebut, juga punya sebuah ritus-ritus penting, disamping penguasaan terhadap teknologi yang cukup masif.
Jlinteng berpesan kepada seluruh pengunjung agar senantiasa ‘eling lan waspodo’ (baca: mengingat dan waspada).
Di samping itu Ki Amat selaku tuan rumah dan penggagas diskusi, mengatakan bahwa kegiatan itu sebagai wadah komunikasi dan mengasah spiritualitas yang kini kian ditinggalkan.
“Manusia yang senantiasa mengingat, akan senantiasa tahu, dan bijaksana. Namun bila mereka sering lupa, akan berimbas kepada kemurungan,” papar Ki Amat pada (26/02) malam.
Ki Amat memandang situasi kini nampak kelabu. Melalui apa yang ia rasakan, pertemuan tersebut dapat melipur dan menyembuhkan.
“Lihat kerusakan alam tinggi, perang berkecamuk di mana-mana, situasi negara yang perlu kita tilik kembali. Ini menjadi sebuah pertanda, agar kita tetap mengingat,” paparnya.
Pelaksanaan kegiatan ini merupakan inisiator dari Ki Amat dan rekan. Menurut Ki Amat, pelaksanaan diskusi rutin tiap malam Kamis ini telah berlangsung selama dua kali. Kedepannya, diskusi akan berlangsung rutin, untuk merawat kesadaran menjemput kebijaksanaan.


















