BERITAOPINI.ID SURAKARTA JATENG | Suasana Masjid Raya Fatimah Surakarta pada akhir pekan ini tampak berbeda. Tidak hanya diisi oleh jemaah umum, masjid bersejarah ini menjadi saksi bisu berkumpulnya puluhan seniman jalanan, komunitas punk, eks preman, hingga penyandang tuna netra dalam sebuah program bertajuk “Pesantren Jalan Cahaya”. Minggu (07 Maret 2026).
Program yang diinisiasi Seniman Eling Gusti bekerja sama dengan Badan Amil Zakat Nasional (BAZNAS RI) dalam rangkaian semarak Ramadan 1447 H. Kota Surakarta terpilih menjadi salah satu dari 20 titik pelaksanaan program ini secara nasional.
Kegiatan yang berlangsung selama dua hari 7-8 Maret 2026 ini bertujuan memberikan akses pembinaan spiritual bagi kelompok masyarakat yang selama ini sering terpinggirkan dari ruang keagamaan formal.
Kegiatan ini memberikan ruang bagi mereka yang rentan. Seniman dan pekerja kreatif acap kali dikaitkan dengan kebebasan. Melalui pesantren ini besar harap dapat mendekatkan para seniman dan pekerja kreatif untuk mendekat kepada Islam yang lurus.
Kemudian ada pula Komunitas Punk dan Eks Preman. Stigma negatif acap kali menunjuk mereka. Maka pesantren ini dibikin untukenampik stigma itu dan menegaskan bahwa secercah harapan bagi mereka.
Selanjutnya penyandang Tuna Netra di mana memerlukan fasilitas ibadah inklusif serta metode belajar agama yang ramah disabilitas.
Berbeda dengan pesantren pada umumnya, Pesantren Jalan Cahaya menggunakan pendekatan budaya yang menyentuh. Materi keislaman disampaikan melalui seni Wayang Jemblung dan monolog yang reflektif. Selain itu, para peserta menjalani ibadah bersama, qiyamul lail, sesi motivasi hijrah, hingga konseling spiritual empat mata.
“Kami ingin menghadirkan dakwah yang merangkul, bukan menghakimi. BAZNAS berkomitmen agar saudara-saudara kita dari komunitas marjinal merasakan hangatnya Ramadan dan memiliki kesempatan yang sama untuk bertumbuh,” ujar M. Reno Fathur Rahman, perwakilan BAZNAS RI.
Senada dengan hal tersebut, Ketua Seniman Eling Gusti, Ikhsan Adi Kurniawan, menekankan pentingnya ruang aman bagi mereka yang ingin berubah.
“Kami percaya setiap manusia memiliki cahaya dalam dirinya. Di sini, teman-teman seniman hingga eks preman diajak menemukan kembali jati diri dan harapan hidup yang lebih baik,” jelasnya.
Kehangatan program ini dirasakan langsung oleh Asepso, salah satu peserta dari komunitas punk Solo Raya. Ia mengaku terharu dengan perlakuan yang ia terima selama kegiatan.
“Saya merasa diterima tanpa dihakimi. Di sini kami dipeluk, bukan dijauhi. Ini menjadi pengalaman Ramadan yang sangat berbeda dan menyentuh hati saya,” ungkapnya dengan antusias.
Tak hanya berhenti di pembinaan rohani, BAZNAS RI berencana menjadikan kegiatan ini sebagai pintu masuk bagi program Zakat Community Development (ZCD). Ke depannya, para peserta akan mendapatkan pendampingan lebih lanjut, baik dalam aspek penguatan iman maupun pemberdayaan ekonomi dan sosial.
Sebagai bentuk kepedulian nyata, kegiatan ini ditutup dengan pemberian santunan dan dukungan kebutuhan dasar bagi seluruh peserta untuk membantu meringankan beban ekonomi di bulan suci.


















