Example floating
Example floating
Example 468x60 Example 468x60
BeritaJawa TengahKota Surakarta

Jaga Toleransi di Solo: Kemenag Atur Penggunaan Speaker Masjid Saat Nyepi 1948 Saka

20
×

Jaga Toleransi di Solo: Kemenag Atur Penggunaan Speaker Masjid Saat Nyepi 1948 Saka

Sebarkan artikel ini
Example 468x60

BERITAOPINI.ID SURAKARTA JATENG | Harmoni keberagaman di Kota Solo kembali diuji melalui momentum langka pada tahun 2026. Perayaan Hari Raya Nyepi Tahun Baru Saka 1948 dan Idul Fitri 1447 Hijriah jatuh di waktu yang hampir bersamaan. Menanggapi hal tersebut, Kantor Kementerian Agama (Kemenag) Kota Surakarta bergerak cepat mengeluarkan imbauan khusus demi menjaga kekhusyukan umat beragama.

Fokus utama imbauan ini tertuju pada kawasan di sekitar Pura Indra Prasta, Kampung Mutihan, Kelurahan Sondakan, Laweyan. Mengingat Nyepi jatuh pada 19 Maret 2026 dan Idul Fitri diperkirakan jatuh pada 20 atau 21 Maret 2026, maka malam takbiran dipastikan akan beririsan dengan waktu pelaksanaan Catur Brata Penyepian.

Aturan Takbiran di Sekitar Pura
Kepala Kantor Kemenag Solo, Ulin Nur Hafsun, menegaskan bahwa pihaknya tidak melarang syiar agama, melainkan mengatur teknis pelaksanaannya agar saling menghormati.

“Kami mengimbau masjid yang berdekatan dengan pura untuk menggunakan pengeras suara dalam saat takbiran, maksimal hingga pukul 21.00 WIB. Setelah jam tersebut, dianjurkan tanpa pengeras suara,” ujar Ulin saat meninjau Pura Indra Prasta, Selasa (17/3).

Selain pengaturan suara, Kemenag juga menekankan poin-poin berikut:

Larangan Takbir Keliling: Masyarakat dilarang melakukan konvoi takbir keliling dengan kendaraan, terutama di jalur yang melintasi kawasan pura.

Larangan Petasan: Larangan keras penggunaan petasan atau kembang api agar tidak mengganggu keheningan umat Hindu.

Peran Penyuluh: KUA dan penyuluh agama dikerahkan untuk melakukan pendampingan langsung di masyarakat, khususnya di wilayah Kecamatan Laweyan.

Momentum Memperkuat Toleransi
Penyuluh Agama Hindu Kemenag Surakarta, Nur Suryaningsih, menyebutkan bahwa rangkaian Nyepi akan dimulai dengan Upacara Tawur Agung di Candi Prambanan pada 18 Maret. Meski sebagian dari sekitar 370 umat Hindu di Solo memilih pulang kampung ke Bali, mereka yang bertahan di Solo tetap akan menjalankan Catur Brata Penyepian dengan khidmat.

“Ini adalah momen luar biasa. Nyepi dan Idul Fitri hanya selisih satu hari. Ini mengajarkan kita semua tentang arti penting saling menghormati di tengah perbedaan,” ungkap Nur.

Langkah preventif yang diambil Kemenag Solo ini diharapkan dapat menjaga predikat Solo sebagai kota toleran, di mana gema takbir dan keheningan Nyepi dapat berjalan beriringan tanpa mencederai makna satu sama lain.

Example 300250 Example 468x60 Example 300250

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Example 468x60