Example floating
Example floating
Example 468x60 Example 468x60 Example 468x60
BeritaHeadlineJawa TengahKota Surakarta

Bahas Penanganan HIV dan AIDS di Surakarta, Mitra Alam Libatkan OMS dan Pemerintah

21
×

Bahas Penanganan HIV dan AIDS di Surakarta, Mitra Alam Libatkan OMS dan Pemerintah

Sebarkan artikel ini
Example 468x60

BERITAOPINI.ID SURAKARTA, JAWA TENGAH | Yayasan Mitra Alam menggelar diskusi antar Organisasi Masyarakat Sipil (OMS) dan jajaran pemerintahan kota Surakarta di Wedangan Bolo Dewe Banjarsari untuk menyatukan persepsi terkait penanggulangan HIV dan AIDS di Surakarta pada Senin (22/06) pagi.

Kegiatan ini bertujuan untuk menguatkan peranan aktif masyarakat sipil dalam menanggulangi dan menyikapi HIV AIDS di Surakarta. Sebagaimana terlampir di dalam Peraturan Presiden (Perpres) No. 16 tahun 2018 yang menekankan terkait dengan peranan kontrak sosial dalam penangannya.

Di situ keberadaan Organisasi Masyarakat Sipil dan Pemerintah menjadi pemeran utama dalam menyikapi dan menanggulangi HIV AIDS. Kendati demikian Yayasan Mitra Alam punya ambil besar dalam mengikat simpul menuju visi bersama dalam menangani dan menyikapi HIV AIDS.

Kepala Mitra Alam Ligik Triyoga menandaskan bahwa perjumpaan dengan melibatkan OMS se-Surakarta dan jajaran pemeritahan, bertujuan untuk menguatkan sinergitas dalam menyikapi dan menangani HIV AIDS di Kota Surakarta.

“Kami memegang prinsip-prinsip deklarasi Universal Hak Asasi Manusia Internasional. Kendati demikian tidak ada diskriminasi, semua sama dilayani, untuk melayani kemanusian,” papar Ligik dalam sambutannya.

Dalam memandang ataupun menyikapi terkait dengan penyintas HIV dan AIDS, kita sering memandangnya bias. HIV dan AIDS sering kali ditujukan kepada kelompok tertentu. Menurut Ligik dalam penjangkitan HIV dan AIDS kita tidak diperkenankan untuk menunjuk kepada salah satu kelompok tertentu sebagai penyebabnya.

“HIV AIDS adalah masalah perilaku. Aman dan tidak aman. Kendati demikian untuk mengarah ke pada ‘aman’ kita perlu memberikan pengatahuan kepada Masyarakat luas,” jelas Ligik.

Guna mewujudkan situasi yang aman, Ligik menandaskan pentingnya pengetahuan bukan hanya kelompok yang rentan, akan tetapi seluruh Masyarakat. Maka keberadaan diskusi itu, untuk menyamakan persepsi dalam menyikapi dan menanggulangi HIV dan AIDS.

“Jadi, bagaimana implementasi pencegahan, disitu pula dibarengi dengan pendampingan bagi mereka yang terlanjur terinfeksi,” papar Ligik.

Kemudian pendampingan bagi mereka yang terlanjur terinfeksi penting untuk dilangsungkan. Menurut Ligik dengan menyadur beberapa referensi, pencegahan dan pendampingan secara detil dan terukur dapat membawa kepada zero evidence case.

Dalam kegitan tersebut dihadiri beberapa Dinas dari Kota Surakarta. Antara lain Dinas Pendidikan, Dinas Kesehatan, Dinas Pariwisata dan Dinas Sosial.

Yudi Agung Setiawan selaku perwakilan dari Dinas Kesehatan menandaskan bahwasannya pihaknya telah menjalankan pendampingan kepada mereka yang terjangkit. Yudi menegaskan bahwasannya, mereka yang terjangkit oleh HIV dan AIDS ini perlu didampingi.

“Di solo ada 36 layanan. Di situ ada 17 puskesmas yang lainnya rumah sakit. Apabila ada yang terjangkit,” jelasnya.

Selain itu penekanan kepada Masyarakat Sipil agar andil dalam penanggulangan HIV dan AIDS turut disoroti oleh Yudi.

“PPCP diselenggarakan untuk menanggulangi HIV dan Aids. Zero Discrimination ditekankan. Dinas kesehatan berharap agar para pelaku kunci ini bisa didampingi dan tidak diskriminasi,” paparnya.

Pemahaman tentang HIV dan AIDS sering dipahami bias dan keliru. Kekeliruan itu menyebabkan Masyarakat kurang tepat dalam menyikapinya. Misalnya data yang disampaikan oleh Heru Karsono selaku perwakilan Dinas Pendidikan Surakarta, menyampaikan bahwa pihaknya telah melakukan pendampingan kepada anak yang tertular HIV dan AIDS karena penularan perinatal.

“Adalah Sekolah Ramah Anak. Kita telah mewujudkan sekolah ramah anak di Surakarta. Mereka yang mengidap, kami damping untuk pemulihan,” paparnya.

Di samping itu, pihaknya juga menggaet dengan beberapa pihak untuk mengadakan sosiali guna memberikan pengetahun kepada siswa agar tak acuh dalam memahami HIV dan AIDS.

Perjumpaan selama tiga jam itu, akan menjadi acuan praksis bagi Mitra Alam dalam menjalan tugasnya dalam menanggulani HIV dan AIDS dalam medio 2026-2029.

Uwik dari Gayatri Sehati Indonesia mengatakan bahwa dalam penanganan HIV dan AIDS perlu penyamaan persepsi. Kata Uwik diskriminasi kepada kelompok tertentu, yang dituding sebagai penyebab muncul HIV dan AIDS membuat penanganan terhambat. Kendati demikian, Uwik mengajak agar seluruh Masyarakat Sipil dan dinas terkait agar bersinergi dan menyamakan persepsi, bahwa HIV dan AIDS perlu untuk ditanggulangi secara bersama tanpa ada diskriminasi.

Example 300250 Example 468x60 Example 300250

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Example 468x60