BERITAOPINI.ID, JAWA TENGAH, KAB. SUKOHARJO — Desa Grogol, Kecamatan Weru, Kabupaten Sukoharjo, terus menguatkan posisinya sebagai salah satu sentra pengrajin genteng di Jawa Tengah. Identitas ini berkembang secara alami dari masyarakat melalui pengalaman panjang, inovasi, dan kepercayaan konsumen sejak awal 1990-an.
Dari Klotok Deplok ke Mesin Press
Industri genteng di Desa Grogol berawal dari pembuatan genteng klotok deplok pada era 1980-an. Model lama ini dibuat dengan cara diinjak-injak dan dicetak menggunakan lumpur hitam. Memasuki tahun 1990–1995, warga mulai beralih ke mesin press yang meningkatkan kualitas sekaligus kapasitas produksi. Inovasi desain pun berkembang, dari bentuk bulat kecil hingga model garuda, mantili, dan morande.
Pengrajin genteng Desa Grogol, Wahyudi, mengatakan sebelum ada mesin press warga membuat genteng klotok deplok dari tanah lempung hitam. “Setelah ada mesin press, proses produksi lebih cepat dan model genteng semakin beragam,” ujarnya.
Usaha Turun-Temurun
Saat ini terdapat sekitar 200 pengrajin genteng aktif di Desa Grogol. Sebagian besar merupakan keluarga yang meneruskan profesi dari generasi sebelumnya. Pertumbuhan usaha didorong oleh reputasi yang menyebar dari mulut ke mulut.
Wahyudi menuturkan para pengrajin sejak dulu berusaha menjaga kualitas. “Pembeli yang puas biasanya cerita ke tetangga atau saudaranya istilahnya getok tular. Dari situ usaha ini terus berkembang,” katanya.
Rata-rata setiap pengrajin memproduksi sekitar 500 genteng per hari. Dalam satu kali pembakaran, jumlah produksi bisa mencapai 10.000 genteng dengan durasi sekitar 15 jam.
Ciri Khas Genteng Grogol

Genteng Grogol memiliki ciri khas yang membedakannya dari produk daerah lain. Bahan baku berasal dari tanah liat berkualitas Bayat, Klaten. Proses pembakaran dilakukan penuh dengan kayu bakar sehingga kematangannya merata. Genteng yang matang menghasilkan suara khas “tang-tang-tang” saat diketuk, tanda produk kuat dan tidak mudah pecah. Selain itu, pengeringan masih mengandalkan sinar matahari. “Genteng yang matang akan berbunyi ‘tang-tang-tang’ ketika diketuk. Itu menjadi ciri khas genteng dari desa kami,” ujar Wahyudi.
Kualitas inilah yang membuat genteng Grogol banyak dikirim ke luar daerah, termasuk Jakarta dan Kalimantan.
Branding dari Masyarakat
Identitas Desa Grogol sebagai sentra genteng terbentuk tanpa penetapan formal. Branding ini lahir dari konsistensi para pengrajin menjaga mutu produk dan memenuhi permintaan pasar.
Wahyudi menjelaskan nama Grogol sebagai sentra genteng muncul dari masyarakat sendiri. “Kami menjaga kualitas, dan pembeli yang merasakan akhirnya menyebarkan informasi ke daerah lain,” katanya.
Kini komunikasi dengan pembeli semakin mudah melalui rekomendasi pribadi, WhatsApp, Facebook, dan grup daring antarwilayah. Media sosial membuka peluang pemasaran yang lebih luas.
Dampak Branding
Branding alami yang terbentuk dari konsistensi pengrajin menjaga mutu produk terbukti memberikan hasil nyata. Penjualan genteng meningkat, permintaan datang dari berbagai provinsi, dan daya saing produk semakin kuat.
“Banyak pembeli dari luar daerah datang karena mereka sudah mendengar kualitas genteng Grogol. Harganya terjangkau, tetapi ketahanannya tidak diragukan,” kata Wahyudi.
Meski industri genteng di Grogol berkembang pesat, beberapa kebutuhan seperti akses bahan bakar dan pendampingan pemasaran digital masih menjadi tantangan. Ke depan, diperlukan lebih banyak kolaborasi untuk mendukung proses produksi dan memperkuat pemasaran agar potensi industri genteng Desa Grogol semakin dikenal luas.
















