Example floating
Example floating
Example 468x60 Example 468x60 Example 468x60
BeritaHeadlineJawa TengahKota Surakarta

Aksi Refleksi 28 Tahun Reformasi: Aktivis 98 Solo Tuntut Perubahan Nyata

50
×

Aksi Refleksi 28 Tahun Reformasi: Aktivis 98 Solo Tuntut Perubahan Nyata

Sebarkan artikel ini
Example 468x60

BERITAOPINI.ID, SURAKARTA, JAWA TENGAH | Suasana di depan Balai Kota Surakarta, Jalan Jenderal Sudirman, memanas pada Kamis (21/05/2026). Sekelompok aktivis lintas generasi yang tergabung dalam elemen perjuangan rakyat menggelar aksi refleksi 28 tahun tumbangnya Orde Baru. Meski diikuti oleh massa terbatas, orasi yang disampaikan dalam aksi tersebut berlangsung lantang dan tajam.

Aksi yang berlangsung sejak pukul 14.45 hingga 15.29 WIB ini dipimpin oleh koordinator lapangan Fajar Dananjoyo (Fajar Janoko). Beberapa tokoh eksponen 98 tampak hadir di barisan depan, di antaranya Ahmad Farid Assegaf (Habib Farid), Lilik Paryanto, serta aktivis lainnya.

Dalam orasinya, orator Luci Sugeng Nugroho menyoroti kondisi ekonomi yang semakin menjepit masyarakat. Ia menekankan bahwa meskipun terjadi pergantian kepemimpinan nasional, nasib rakyat kecil tidak kunjung membaik. “Rupiah terpuruk, masyarakat menjerit karena kebutuhan pokok kian mahal. Pergantian presiden sudah, tetapi negara tetap seperti ini,” tegasnya.

Senada dengan hal tersebut, aktivis Ahmad menyampaikan kekecewaan atas perjalanan 28 tahun reformasi yang dianggapnya jalan di tempat. Ia menagih bukti nyata kesejahteraan dari janji-janji kampanye Presiden Prabowo Subianto. “Rakyat butuh bukti kesejahteraan, bukan sekadar janji. Semua serba sulit dan harga kebutuhan pokok mencekik,” ujarnya.

Ketegangan mencapai puncaknya saat Habib Farid menyampaikan orasi. Ia menyebut 28 tahun perjalanan reformasi justru membawa kemunduran bagi bangsa. Ia bahkan melontarkan kritik keras terhadap kebijakan luar negeri dan program makan bergizi (MBG) pemerintah.

“Kami sebagai saksi sejarah menilai hari ini tidak ada perubahan, malah semakin hancur. Katanya Macan Asia, ternyata hanya omon-omon (banyak bicara saja),” ujar Habib Farid di hadapan massa aksi. Ia pun mengajak massa untuk teguh pada semangat pergerakan guna menurunkan rezim yang dianggap anti-rakyat.

Dalam aksi tersebut, massa aksi membacakan pernyataan sikap resmi sebagai bentuk perlawanan terhadap kebijakan yang dianggap menindas. Mereka menegaskan penolakan keras terhadap perampasan ruang hidup rakyat, oligarki ekonomi-politik, serta kriminalisasi terhadap gerakan rakyat.

Tujuh tuntutan utama yang disampaikan mencakup: Penegakan demokrasi sejati yang berpihak kepada rakyat, pelaksanaan reforma agraria dan keadilan sosial yang nyata, perlindungan hak-hak kaum buruh, petani, nelayan, dan masyarakat miskin, penghentian segala bentuk kriminalisasi terhadap aktivis dan pembungkaman kritik, pengelolaan kekayaan alam untuk kemakmuran rakyat luas dan merintahan yang bersih, transparan, dan bebas dari oligarki dan tuntutan penyelesaian atas segala pelanggaran HAM berat dan kasus penculikan paksa masa lalu.

Aksi refleksi ini berakhir dengan damai pada pukul 15.29 WIB. Meski aksi berjalan singkat, pesan yang disampaikan para aktivis ini menjadi pengingat bagi penguasa bahwa semangat perlawanan 1998 masih terus menyala di jantung Kota Solo.

Example 300250 Example 468x60 Example 300250

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Example 468x60