Example floating
Example floating
Example 468x60 Example 468x60 Example 468x60
BeritaHeadlineJawa TimurKota Surabaya

Ratusan Massa “Rakyat Surabaya Menggugat” Gelar Aksi Reformasi Jilid II, Suarakan Kritik terhadap Pemerintah

16
×

Ratusan Massa “Rakyat Surabaya Menggugat” Gelar Aksi Reformasi Jilid II, Suarakan Kritik terhadap Pemerintah

Sebarkan artikel ini
Example 468x60

BERITAOPINI.ID SURABAYA, JAWA TIMUR | Sekitar 300 massa yang tergabung dalam kelompok Rakyat Surabaya Menggugat menggelar aksi unjuk rasa bertajuk “Reformati Indonesia” di pusat Kota Surabaya, Senin (22/6). Aksi yang berlangsung dari kawasan Monumen Bambu Runcing hingga depan Gedung Negara Grahadi tersebut menjadi wadah penyampaian berbagai kritik terhadap pemerintahan Presiden Prabowo Subianto dan Wakil Presiden Gibran Rakabuming Raka.

Aksi yang dimulai sejak pukul 14.00 WIB itu dikoordinasikan oleh Rayhan Radit dari LBH Surabaya dan Deni Oktaviano selaku Koordinator Daerah BEM Nusantara Jawa Timur. Massa secara bertahap berkumpul di kawasan Monumen Bambu Runcing sebelum melakukan long march menuju Gedung Negara Grahadi dengan pengawalan aparat kepolisian.

Setibanya di depan Grahadi sekitar pukul 15.25 WIB, para peserta aksi membentangkan sejumlah spanduk dan poster berisi berbagai tuntutan politik dan sosial. Beberapa di antaranya bertuliskan “Reformati Indonesia”, “Tolak Reklamasi”, “Bebaskan Tahanan Politik”, hingga “Turunkan Prabowo-Gibran”.

Dalam orasi yang disampaikan secara bergantian, massa menyuarakan kritik terhadap berbagai kebijakan pemerintah yang dinilai tidak berpihak kepada rakyat. Para demonstran menyoroti isu ekonomi, demokrasi, kebebasan sipil, hingga dugaan menguatnya pengaruh oligarki dalam proses pengambilan kebijakan negara.

Kelompok Rakyat Surabaya Menggugat juga menyampaikan tiga tuntutan utama. Pertama, mendesak Presiden dan Wakil Presiden untuk mengundurkan diri sebagai bentuk pertanggungjawaban politik dan konstitusional atas berbagai persoalan yang dinilai merugikan masyarakat. Kedua, mendorong pembentukan pemerintahan transisi sesuai mekanisme konstitusional guna memulihkan demokrasi, perlindungan hak asasi manusia, serta menjamin proses politik yang transparan dan partisipatif. Ketiga, mengajak masyarakat sipil melakukan perubahan mendasar terhadap sistem politik yang dianggap tidak lagi mampu menghasilkan kepemimpinan yang berpihak kepada rakyat.

Selain menyampaikan tuntutan, massa juga membacakan dokumen yang mereka sebut sebagai “Nawa Nestapa”, yakni sembilan poin kritik terhadap kondisi pemerintahan saat ini. Poin-poin tersebut meliputi isu legitimasi politik, pelemahan demokrasi, supremasi hukum, meningkatnya peran militer di ruang sipil, persoalan lingkungan hidup, kondisi sosial-ekonomi masyarakat, hingga perlindungan terhadap kelompok rentan dan minoritas.

Menjelang sore hari, aksi terus diisi dengan orasi dan pembacaan pernyataan sikap. Pada pukul 17.20 WIB, massa mulai membubarkan diri secara bertahap. Seluruh rangkaian kegiatan berakhir sekitar pukul 18.00 WIB.

Berdasarkan pemantauan di lapangan, aksi berlangsung dalam kondisi tertib dan kondusif. Arus kegiatan berjalan lancar dengan pengamanan aparat kepolisian, tanpa adanya insiden yang mengganggu ketertiban umum selama demonstrasi berlangsung.

Kelompok yang terlibat dalan aksi terdiri dari :

a. Arek Gerak

b. KontraS Surabaya

c. LBH Surabaya

d. Aksi Kamisan Surabaya

e. BEM UNAIR

f. BEM FISIP

g. ⁠PARAMEDIS Jalanan

h. UMSURA

i. FISIP UPN

j. ITS

k. BEMNUS JATIM

l. FH UNAIR

m. Keperawatan Unair

n. Serikat Pekerja Kampus

o. Kader HIjau Muhammadiyah Surabaya

p. Gerakan GUSDURian Surabaya (Gerdusuroboyo)

q. Politik UNAIR

r. FSPMI/Partai Buruh Kota Surabaya

s. FMR

t. ⁠Bara Api

u. GMNI.

Example 300250 Example 468x60 Example 300250

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Example 468x60