Example floating
Example floating
Example 468x60 Example 468x60 Example 468x60
BeritaHeadlineJawa TengahKabupaten Brebes

Kajian Sejarah Mbah Kisyam bin Ki Pencar dari Kraton Surakarta Hadiningrat Keturunan Leluhur Kedawon Brebes

15
×

Kajian Sejarah Mbah Kisyam bin Ki Pencar dari Kraton Surakarta Hadiningrat Keturunan Leluhur Kedawon Brebes

Sebarkan artikel ini
Example 468x60

BERITAOPINI.ID BREBES, JAWA TENGAH | Pondok Pesantren Al Hasaniyah Kedawon, Larangan, Brebes, menyelenggarakan kajian sejarah Mbah Kisyam bin Ki Pencar, keturunan leluhur warga Kedawon. Kajian ini menghadirkan Kanjeng Pangeran Siswantodiningrat dari Kraton Surakarta Hadiningrat.

Upaya pelestarian sejarah, budaya, dan silsilah keturunan Kedawon mengambil tema : Napak Tilas Sejarah Mbah Kisyam bin Ki Pencar. Acara ini berlangsung pada Minggu (28/6) di Aula Pondok Pesantren Putra Putri Al Hasaniyah Kedawon, Desa Rengaspendawa, Kecamatan Larangan, Kabupaten Brebes.

Forum ini diprakarsai oleh Pondok Pesantren Putra Putri Al Hasaniyah Kedawon bersama Forum Silaturahmi Dzuriyah Mbah Kisyam bin Ki Pencar dihadiri oleh unsur pemerintah, tokoh agama, budayawan, akademisi, pemerhati sejarah, keluarga besar dzuriyah, santri, dan masyarakat.

Hadir pula Sekretaris Dinas Pendidikan dan Kebudayaan, Kantor Kearsipan Perpustakaan Kabupaten Brebes dan Kepala Dinas Kebudayaan dan Pariwisata.

Kegiatan diawali dengan tahlil dan doa bersama yang dipersembahkan kepada para leluhur, khususnya Mbah Kisyam bin Ki Pencar, serta para tokoh yang berjasa membuka wilayah Kedawon dan menyebarkan syiar Islam.

Suasana berlangsung khidmat sebagai bentuk penghormatan kepada jasa para pendahulu dan doa agar perjuangan mereka menjadi amal jariyah yang terus memberi manfaat.

Dalam kajian itu, Mbah Kisyam disebut tokoh nyata pembabad Alas Kedawon. Ustadz Miftahudin, Sekretaris Umum Forum Silaturahmi Dzuriyah Mbah Kisyam bin Ki Pencar, menjelaskan bahwa forum tersebut merupakan langkah awal menghimpun berbagai sumber sejarah yang selama ini tersebar di lingkungan keluarga dan masyarakat.

Menurutnya, berdasarkan tradisi lisan yang diwariskan secara turun-temurun, Mbah Kisyam berasal dari wilayah Tegal dan datang ke Kedawon pada masa kerja rodi. Miftahudin menegaskan bahwa Mbah Kisyam bukan sekadar tokoh legenda, melainkan tokoh sejarah yang diyakini benar-benar pernah hidup.

“Dalam tradisi masyarakat Kedawon, Mbah Kisyam dikenal sebagai tokoh babad alas Kedawon yang membuka kawasan tersebut, membangun kehidupan masyarakat, serta menyebarkan ajaran Islam melalui dakwah yang santun, pendidikan, dan keteladanan,” ujarnya.

Ustadz Miftahudin berharap forum seperti ini menjadi awal penyusunan dokumentasi sejarah Mbah Kisyam bin Ki Pencar yang berbasis silsilah keluarga, manuskrip, arsip, dan tradisi lisan.

Kesaksian Mbah Kisyam sebagai pembabad tanah Kedawon diungkap oleh Dzuriyah Mbah Abas dan Mbah Abdulloh. Perwakilan keluarga Mbah Abas Gelonggong, Ust. Sabaruhi Al Hafidz, menyampaikan bahwa berdasarkan silsilah keluarga, Mbah Abas Gelonggong merupakan adik dari Mbah Kisyam Kedawon. Sementara itu, Ustadz Sarwono, selaku perwakilan anak angkat Mbah Abdulloh Kedawon, menjelaskan bahwa Mbah Abdulloh merupakan adik Mbah Abas Gelonggong.

“Dalam tradisi masyarakat Kedawon, Mbah Abdulloh dikenal sebagai perintis masjid pertama di Dukuh Kedawon, yang menjadi pusat ibadah, pendidikan Islam, musyawarah masyarakat, dan penyebaran dakwah,” beber Sabarukhi.

Kraton Surakarta Hadiningrat yang diwakili oleh Kanjeng Pangeran Siswantodiningrat dalam pemaparannya menjelaskan, berdasarkan kajian silsilah yang menjadi rujukan di lingkungan Kraton Surakarta Hadiningrat, Mbah Kisyam merupakan putra Abdurrohman atau Ki Pencar.

Perwakilan Keraton menyampaikan bahwa menurut kajian tersebut, Abdurrohman (Ki Pencar) merupakan putra Raden Ayu Dewi atau Raden Ayu Sobrah, yang disebut sebagai putri Susuhunan Amangkurat IV. Dalam tradisi keluarga dikenal dengan sebutan Raden Ayu Suralaya Ing Brebes.

“Silsilah yang dipaparkan telah melalui proses kajian berdasarkan data silsilah yang menjadi rujukan di lingkungan Kraton Surakarta Hadiningrat,” tegasnya.

Disebutkan pula, rangkaian garis keturunan yang menurut kajian tersebut menghubungkan Prabu Brawijaya V hingga Dr. KH. Nuridin Syamsudin, S.H., M.Pd.I., Pendiri dan Pengasuh Pondok Pesantren Putra Putri Al Hasaniyah Kedawon.

Tokoh ulama ini juga telah menerima Pikukuh dan Kancingan dari Kraton Surakarta Hadiningrat.

Menurut pemaparannya, KH. Nuridin Syamsudin memperoleh Kathepedan Ganjaran Pangkat Bupati Sepuh Anom-Anom dan dianugerahi gelar Kanjeng Raden Tumenggung Nuridin Syamsudin Hadinegoro, S.H., M.Pd.I. sebagai bentuk penghargaan atas pengabdiannya di bidang pendidikan, dakwah, pelestarian sejarah, budaya, dan pembinaan masyarakat.

Juru Kunci Amangkurat Tegal Arum Paparkan Sejarah Kipencar

Narasumber berikutnya, R.T. Irham Rizqi Reksopuspoko, selaku Juru Kunci Komplek Makam Amangkurat Tegal Arum, menyampaikan bahwa dirinya merupakan keturunan Ki Pencar (Abdurrohman). Dia menjelaskan bahwa berdasarkan silsilah keluarga yang diwariskan secara turun-temurun, Ki Pencar memiliki delapan orang anak. Beberapa di antaranya adalah Ki Sarna Tegal, Mbah Kisyam Kedawon, Mbah Abas Gelonggong, dan Mbah Abdulloh Kedawon.

“Ki Sarna Tegal dimakamkan di Komplek Makam Amangkurat Tegal Arum dan merupakan leluhur keluarga juru kunci. Sementara itu, Mbah Kisyam dikenal sebagai pembabad alas Kedawon dan penyebar syiar Islam, Mbah Abas menjadi leluhur masyarakat Gelonggong, sedangkan Mbah Abdulloh dikenang sebagai perintis masjid pertama di Dukuh Kedawon,” bebernya.

R.T. Irham berharap tradisi lisan, silsilah keluarga, manuskrip, dan arsip sejarah dapat terus dihimpun sehingga menjadi dokumentasi sejarah yang lengkap dan dapat dipertanggungjawabkan.

KH. Nuridin Syamsudin menyampaikan bahwa Wedar Leluhur merupakan ikhtiar bersama untuk menjaga sejarah agar tidak hilang ditelan zaman.

Ulama ini menegaskan bahwa tujuan utama forum ini bukan sekadar mengetahui garis keturunan, melainkan mengambil hikmah dari perjuangan para leluhur yang membangun masyarakat melalui dakwah, pendidikan, persatuan, dan pengabdian.

“Warisan terbesar para leluhur bukan hanya silsilah, tetapi nilai-nilai keikhlasan, akhlak, ilmu, persaudaraan, dan perjuangan. Sejarah harus kita jaga, kita teliti, kita tulis, dan kita wariskan kepada generasi penerus,” ujar KH. Nuridin Syamsudin.

Wedar Leluhur Kedawon diharapkan menjadi agenda berkelanjutan yang mampu melahirkan dokumentasi sejarah Mbah Kisyam bin Ki Pencar secara lebih komprehensif melalui kajian manuskrip, arsip, silsilah keluarga, dan tradisi lisan.

Example 300250 Example 468x60 Example 300250

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Example 468x60