Example floating
Example floating
Example 468x60 Example 468x60
BeritaHeadlineKota PalembangOpiniSumatera Selatan

Tegas Berprinsip Tanpa Kehilangan Adab

63
×

Tegas Berprinsip Tanpa Kehilangan Adab

Sebarkan artikel ini
Example 468x60

BERITAOPINI.ID PALEMBANG, SUMSEL | Perbedaan pendapat merupakan bagian yang tidak terpisahkan dari kehidupan manusia. Tidak ada masyarakat yang tumbuh tanpa perbedaan gagasan, sebagaimana tidak ada peradaban yang maju tanpa tradisi berpikir kritis. Yang membedakan masyarakat yang beradab dengan masyarakat yang mudah terpecah bukanlah ada atau tidaknya perbedaan, melainkan bagaimana perbedaan itu dikelola dengan ilmu, adab, dan tanggung jawab.

Dalam kehidupan demokrasi, kritik merupakan instrumen penting untuk menjaga arah perjalanan bangsa. Namun, kritik yang bermartabat bukanlah kritik yang dibangun di atas prasangka, sentimen, atau kebencian. Kritik kepada pemerintah harus berlandaskan data yang valid, kajian yang ilmiah, dan argumentasi yang rasional. Kritik yang baik tidak bertujuan menjatuhkan pemerintah, melainkan memperbaiki kebijakan demi kepentingan rakyat. Sebaliknya, kritik yang lahir dari emosi tanpa dasar hanya akan melahirkan kegaduhan dan memperlebar jurang perpecahan.

Example 468x60

Begitu pula dalam hubungan antarsesama anak bangsa. Perbedaan pilihan politik, organisasi, maupun pandangan sosial tidak boleh berubah menjadi permusuhan. Yang harus dipertemukan adalah gagasan dengan gagasan, argumentasi dengan argumentasi, bukan emosi dengan emosi. Mengkritik sebuah pendapat tidak berarti membenci orang yang menyampaikannya. Kedewasaan intelektual justru tampak ketika seseorang mampu menguji sebuah gagasan tanpa merendahkan kehormatan pemilik gagasan tersebut.

Tradisi seperti ini telah lama hidup di lingkungan Nahdlatul Ulama melalui Forum Bahtsul Masail. Dalam forum tersebut, para kiai, masyayikh, dan santri duduk bersama membahas berbagai persoalan keagamaan dengan merujuk kepada Al-Qur’an, hadis, kaidah usul fikih, serta kitab-kitab turats. Setiap pendapat diuji berdasarkan kekuatan dalil dan metodologi, bukan berdasarkan usia, jabatan, kedudukan, ataupun popularitas.

Tidak jarang seorang santri yang memiliki penguasaan kitab dan argumentasi yang kuat menyampaikan pendapat yang berbeda dengan seorang kiai senior yang juga memiliki dasar keilmuan yang kokoh. Bahkan, perbedaan pendapat yang tajam juga sering terjadi di antara para kiai sendiri. Masing-masing membawa rujukan, metodologi, dan cara pandang yang berbeda dalam menyikapi suatu persoalan. Perdebatan bisa berlangsung panjang, dinamis, bahkan terasa panas. Namun, panasnya perdebatan tidak pernah berubah menjadi permusuhan. Yang diperdebatkan adalah dalil, argumentasi, dan cara memahami persoalan, bukan kehormatan orang yang menyampaikannya.

Dalam tradisi Nahdlatul Ulama, perbedaan pendapat tidak pernah menjadi alasan untuk menghilangkan penghormatan kepada seorang guru atau kiai. Seorang kiai senior tetap dimuliakan meskipun pandangannya berbeda dengan santri maupun dengan kiai lainnya. Perbedaan dalam persoalan ijtihadiyah tidak mengurangi kedudukannya sebagai ulama yang telah mengabdikan hidup untuk ilmu, umat, dan perjuangan. Keberkahan ilmu tidak diukur dari seberapa sering seseorang menyetujui gurunya, melainkan juga dari adabnya ketika berbeda pendapat dengan gurunya.

Karena itu, setelah forum selesai, para santri tetap mencium tangan para kiai, tetap memohon doa, tetap meminta nasihat, dan tetap menanti dawuh yang penuh hikmah. Begitu pula para kiai yang berbeda pandangan tetap saling menghormati, saling memuliakan, dan tetap menjaga ukhuwah. Perbedaan pilihan, perbedaan pandangan, bahkan perbedaan keputusan tidak pernah menghapus kedudukan seorang kiai senior sebagai sosok yang dihormati, dimintai petunjuk, serta diharapkan keberkahan ilmunya. Adab tetap menjadi mahkota ilmu, dan penghormatan tetap berdiri tegak meskipun pendapat berjalan pada arah yang berbeda.

Sikap inilah yang menjadi kekuatan tradisi keilmuan Nahdlatul Ulama: tegas dalam mempertahankan argumentasi, tetapi rendah hati dalam menerima perbedaan; berani mengoreksi pendapat, tetapi tidak pernah merendahkan pribadi; keras dalam substansi, tetapi lembut dalam akhlak. Sebab yang dicari bukan kemenangan pribadi, melainkan kemaslahatan umat.

Pelajaran yang sama dapat ditemukan dalam sejarah berdirinya Republik Indonesia. Para pendiri bangsa bukanlah orang-orang yang selalu sepakat dalam setiap persoalan. Ketika merumuskan dasar negara, bentuk negara, hingga Undang-Undang Dasar, terjadi perdebatan yang panjang, tajam, dan penuh argumentasi. Tokoh-tokoh dari berbagai latar belakang pemikiran menyampaikan gagasannya dengan sungguh-sungguh. Namun, tujuan mereka bukan untuk saling mengalahkan, melainkan mencari titik temu demi persatuan dan kesatuan bangsa. Musyawarah menjadi jalan untuk melahirkan kesepakatan, bukan alat untuk memperdalam perpecahan.

Sejarah juga mengajarkan bahwa perbedaan harus diselesaikan melalui jalan konstitusi, musyawarah, dan dialog. Ketika ruang perdebatan ditinggalkan lalu digantikan dengan pemberontakan dan kekerasan, yang dipertaruhkan bukan lagi sekadar sebuah gagasan, melainkan keutuhan bangsa. Pengalaman sejarah Indonesia, termasuk pemberontakan PKI maupun DI/TII, menjadi pelajaran bahwa penggunaan kekerasan untuk memaksakan kehendak di luar mekanisme konstitusional hanya membawa penderitaan, merenggut banyak korban, dan mengancam persatuan nasional.

Oleh karena itu, ruang publik Indonesia semestinya meneladani tradisi Bahtsul Masail dan semangat para pendiri bangsa. Kritik kepada pemerintah harus dibangun di atas data yang dapat diuji, analisis yang ilmiah, serta solusi yang konstruktif. Kritik kepada sesama anak bangsa harus mengedepankan argumentasi, bukan sentimen. Perbedaan pendapat harus menjadi ruang untuk memperkaya perspektif, bukan alasan untuk saling menghina atau memutus persaudaraan.

Bangsa yang besar bukanlah bangsa yang tidak pernah berbeda pendapat. Bangsa yang besar adalah bangsa yang mampu menjaga persatuan di tengah perbedaan, menjunjung ilmu dalam setiap perdebatan, serta memelihara adab dalam setiap ucapan dan tindakan. Sebab, ketegasan tanpa adab hanya akan melahirkan kesombongan, sedangkan adab tanpa ketegasan akan membuat kebenaran kehilangan suaranya.

Mari merawat tradisi berpikir yang diwariskan para ulama dan para pendiri bangsa: tegas dalam prinsip, kuat dalam argumentasi, santun dalam penyampaian, serta tetap menjaga adab dan persaudaraan. Dengan cara itulah perbedaan menjadi kekuatan, kritik menjadi jalan perbaikan, dan persatuan menjadi fondasi kokoh bagi Indonesia yang maju, berkeadaban, dan bermartabat.

Kgs. M. Ilham Akbar,SH., MH

Ketua Lembaga Seni & Budaya Muslimin Indonesia (Lesbumi) PWNU Sumatera Selatan

Example 300250 Example 468x60

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Example 468x60