BERITAOPINI.ID PALI, SUMSEL | Keluhan masyarakat terkait keterbatasan air bersih di tengah musim kemarau serta kondisi kabut asap akibat kebakaran hutan dan lahan (karhutla) menjadi perhatian serius di Kabupaten Penukal Abab Lematang Ilir (PALI), Sumatera Selatan.
Kondisi tersebut dinilai membutuhkan respons cepat dan langkah nyata dari Pemerintah Kabupaten PALI, khususnya untuk memastikan kebutuhan dasar masyarakat tetap terpenuhi di tengah kondisi cuaca yang kering dan kualitas udara yang menurun.
Muhammad Rizky Apriansyah meminta Pemerintah Kabupaten PALI tidak hanya melakukan penanganan ketika kondisi sudah memburuk, tetapi mulai membangun langkah antisipasi jangka panjang untuk menghadapi persoalan kekeringan dan keterbatasan air bersih.
“Air bersih adalah kebutuhan dasar masyarakat. Pemerintah harus hadir ketika warga mulai kesulitan mendapatkan air, bukan menunggu persoalan semakin besar.” ujar Muhammad Rizky Apriansyah.
Ia mengusulkan agar Pemkab PALI memperbanyak pembangunan sumur bor dan sumber air alternatif di wilayah yang selama ini rawan mengalami kekeringan. Selain itu, pemerintah dinilai perlu menyiapkan penampungan air dan sistem distribusi air bersih yang dapat digunakan masyarakat ketika musim kemarau berkepanjangan.
Usulan tersebut sejalan dengan langkah mitigasi kekeringan yang juga didorong pemerintah secara nasional, termasuk pembangunan sumur bor dan pipanisasi sebagai bagian dari upaya menjaga ketersediaan air bersih di daerah rawan kekeringan.
JANGAN HANYA BEREAKSI, HARUS ADA SOLUSI
Menurut Muhammad Rizky, persoalan air bersih tidak boleh dipandang sebagai masalah sementara. Pemerintah daerah perlu memiliki peta wilayah yang rawan kekeringan sehingga bantuan maupun pembangunan infrastruktur air dapat dilakukan secara tepat sasaran.
Ia juga meminta pemerintah menyiapkan mobil tangki air bersih sebagai langkah darurat untuk masyarakat yang benar-benar mengalami kesulitan mendapatkan air.
“Kalau masyarakat sudah kesulitan mendapatkan air untuk kebutuhan sehari-hari, pemerintah harus turun langsung. Distribusi air bersih bisa menjadi solusi sementara, tetapi pembangunan sumber air seperti sumur bor harus menjadi solusi jangka panjang,” tegasnya.
KABUT ASAP JUGA HARUS MENJADI PERHATIAN
Selain persoalan air bersih, kondisi kabut asap juga menjadi perhatian. Pemerintah melalui Kementerian Kesehatan telah mengingatkan bahwa paparan asap karhutla dapat meningkatkan risiko gangguan kesehatan, terutama bagi kelompok rentan seperti anak-anak dan lansia.
Bahkan, dalam pemantauan kualitas udara pada 27 Agustus 2026, Kabupaten PALI tercatat memiliki nilai ISPU 255 yang masuk kategori “sangat tidak sehat”.
Karena itu, Muhammad Rizky meminta penanganan karhutla di PALI dilakukan secara serius dan terintegrasi, mulai dari pencegahan, pemantauan titik api, hingga perlindungan masyarakat yang terdampak asap.
“Persoalan air bersih dan kabut asap ini saling berkaitan dengan kondisi kemarau. Jangan sampai masyarakat menghadapi dua persoalan sekaligus: kesulitan mendapatkan air bersih dan harus menghirup udara yang tidak sehat,” katanya.
USULAN UNTUK PEMKAB PALI
Muhammad Rizky menyampaikan sejumlah langkah yang menurutnya perlu segera dipertimbangkan Pemkab PALI:
1. Memperbanyak pembangunan sumur bor di wilayah rawan kekeringan.
2. Menyiapkan penampungan air di desa-desa yang mengalami keterbatasan sumber air.
3. Memperkuat distribusi air bersih menggunakan mobil tangki sebagai langkah darurat.
4. Membangun sistem pipanisasi untuk memperluas akses air bersih masyarakat.
5. Memetakan desa rawan kekeringan dan karhutla agar penanganan lebih tepat sasaran.
6. Memperkuat pencegahan dan penanganan karhutla secara terpadu.
7. Meningkatkan perlindungan kesehatan masyarakat ketika kualitas udara memburuk.
Ia menegaskan bahwa pembangunan infrastruktur air bersih bukan sekadar proyek fisik, tetapi merupakan investasi pelayanan dasar yang manfaatnya dapat dirasakan masyarakat dalam jangka panjang.
“Masyarakat PALI tidak hanya membutuhkan janji. Mereka membutuhkan air yang mengalir, udara yang lebih sehat, dan pemerintah yang hadir ketika rakyat menghadapi kesulitan” pungkas Muhammad Rizky Apriansyah.

















