BERITAOPINI.ID BATANG, JAWA TENGAH | Program Makan Bergizi Gratis (MBG) dengan sistem prasmanan mulai diuji coba di SMP Negeri 2 Kandeman, Kabupaten Batang, sejak 5 Oktober. Uji coba yang dilaksanakan oleh Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) Ujungnegoro ini melibatkan 64 siswa dari dua kelas secara bergiliran selama dua pekan. Berbeda dengan sistem ompreng, makanan disajikan menggunakan wadah khusus layaknya katering sehingga siswa dapat menikmati hidangan dalam kondisi hangat. (08/10/2026).
Kepala SPPG Ujungnegoro, Wahyu Nugroho, mengatakan bahwa SMPN 2 Kandeman menjadi satu-satunya sekolah yang saat ini melaksanakan uji coba MBG prasmanan dari dapur SPPG Ujungnegoro. Setiap hari, sebanyak dua kelas dengan masing-masing 32 siswa mendapat kesempatan menikmati makanan melalui sistem tersebut.
“Untuk prasmanan sendiri kita ambil dua kelas, masing-masing 32 siswa, jadi totalnya 64 porsi. Uji coba ini dilaksanakan selama dua minggu mulai tanggal 5 Oktober. Sampai sekarang baru di SMPN 2 Kandeman,” ujar Wahyu.
Menurutnya, perbedaan utama sistem prasmanan dengan pembagian MBG reguler terletak pada cara penyajian dan pengemasan makanan. Jika sebelumnya makanan dibagikan menggunakan ompreng atau wadah makan individual, kini makanan ditempatkan dalam loyang khusus seperti yang digunakan dalam layanan katering. Proses memasak juga memperhatikan suhu makanan agar tetap hangat ketika sampai di sekolah.
“Kalau biasanya kita menggunakan ompreng, sekarang pakainya loyang-loyang seperti katering. Untuk memasaknya juga kita memperhatikan suhu antara 60 sampai 80 derajat Celsius. Karena makanan sampai di sini jam sembilan, kita mulai masak jam delapan,” jelasnya.
Wahyu menambahkan, pelaksanaan MBG prasmanan mengacu pada konsep penyajian makanan di sekolah-sekolah Jepang. Selain memperhatikan kualitas penyajian, sistem tersebut dirancang untuk melatih kemandirian dan tanggung jawab siswa. Dalam pelaksanaannya, para siswa turut bertugas menyajikan makanan kepada teman-temannya.
“Dari SOP-nya memang mengacu pada konsep Jepang yang mengajarkan kemandirian siswa. Kalau ada siswa yang ingin menambah makanan juga diperbolehkan, selama memang masih ada sisa,” katanya.
Pemilihan SMPN 2 Kandeman sebagai lokasi uji coba juga mempertimbangkan jarak sekolah dengan dapur SPPG Ujungnegoro. Kedekatan lokasi dinilai memudahkan proses distribusi, terutama untuk memastikan makanan dapat segera disajikan setelah dimasak.
Sementara itu, Pelaksana Tugas (Plt.) Kepala SMPN 2 Kandeman, Adam Malik, mengungkapkan bahwa penerapan MBG prasmanan mendapat sambutan positif dari para siswa. Mereka terlihat antusias karena makanan yang diterima masih hangat dan dinilai lebih segar dibandingkan makanan yang dibagikan menggunakan ompreng.
“Anak-anak sangat antusias karena menunya masih hangat dan lebih segar dibandingkan kalau memakai ompreng. Tadi bahkan ada kelas yang karena pelaksanaannya bergiliran malah minta prasmanan, tidak mau yang ompreng,” ungkap Adam.
Menurut Adam, pelaksanaan MBG prasmanan di sekolahnya juga didukung oleh lokasi yang relatif dekat dengan dapur SPPG Ujungnegoro. Kondisi tersebut menjadi keuntungan tersendiri apabila terdapat kekurangan perlengkapan maupun kebutuhan lain selama proses pembagian makanan berlangsung.
“Informasi dari SPPG, SMPN 2 Kandeman dipilih karena dekat dengan dapur SPPG Ujungnegoro. Jadi kalau misalnya ada yang kurang, baik perlengkapan maupun kebutuhan lainnya, bisa lebih cepat mengambilnya dibandingkan dengan sekolah lain yang lokasinya lebih jauh,” terangnya.
Meski mendapat respons positif, Adam mengakui masih terdapat sejumlah kendala teknis yang perlu diperhatikan apabila sistem prasmanan diterapkan secara lebih luas. Salah satunya adalah kondisi geografis lingkungan sekolah yang memiliki perbedaan ketinggian antarruang kelas. Sejumlah kelas berada di bagian bawah sehingga akses distribusi makanan dan perlengkapan harus melewati tangga.
“Sebenarnya bagus prasmanan ini, cuma kendalanya di sekolah kami secara geografis ada kelas yang posisinya di bagian bawah, jadi harus turun dan naik tangga. Ini yang mungkin menjadi kendala untuk membawa perlengkapan ke kelas,” jelasnya.
Adam berharap sistem MBG prasmanan dapat terus dilanjutkan karena dinilai memberikan pengalaman berbeda bagi siswa, baik dari sisi penyajian makanan maupun pembiasaan kemandirian. Namun, pelaksanaannya perlu disesuaikan dengan kondisi sarana dan akses masing-masing ruang kelas
“Kalau bisa prasmanan ini dilanjutkan lagi. Untuk kelas yang atas mungkin lebih mudah, tetapi untuk yang bawah nanti kita pikirkan bagaimana kendala atau penyelesaiannya supaya lebih mudah melaksanakan prasmanan,” pungkasnya.
Uji coba MBG prasmanan di SMPN 2 Kandeman menjadi bagian dari upaya penerapan alternatif penyajian makanan bergizi di sekolah. Selama masa uji coba dua pekan, pelaksanaan sistem ini diharapkan dapat memberikan gambaran mengenai kesiapan distribusi, penyajian, serta keterlibatan siswa sebelum dipertimbangkan untuk penerapan lebih lanjut.


















