Example floating
Example floating
Example 468x60 Example 468x60
BeritaHeadlineJawa TengahKabupaten Batang

Harga Cabai Melonjak, Kualitas Sayuran di Pasar Batang Menurun Akibat Kemarau BERITAOPINI.ID, BATANG – Sejumlah komod

33
×

Harga Cabai Melonjak, Kualitas Sayuran di Pasar Batang Menurun Akibat Kemarau BERITAOPINI.ID, BATANG – Sejumlah komod

Sebarkan artikel ini
Example 468x60

BERITAOPINI.ID BATANG, JAWA TENGAH | Sejumlah komoditas bahan pangan di Pasar Batang, Kabupaten Batang, Jawa Tengah, mengalami kenaikan harga dalam sepekan terakhir. Lonjakan harga terutama terjadi pada cabai dan sejumlah jenis sayuran yang pasokannya mulai terbatas. Selain harga yang semakin mahal, pedagang juga mengeluhkan menurunnya kualitas bahan pangan akibat cuaca panas selama musim kemarau.

Salah seorang pedagang sayur di Pasar Batang, Mafidah (35), mengungkapkan kenaikan harga paling terasa pada komoditas cabai. Harga cabai merah besar yang sebelumnya Rp35.000 per kilogram kini mencapai Rp45.000. Sementara cabai rawit hijau naik dari kisaran Rp37.000 hingga Rp38.000 menjadi Rp50.000 per kilogram. Kenaikan serupa terjadi pada cabai rawit merah yang sebelumnya berkisar Rp48.000 hingga Rp50.000, kini menembus Rp60.000 per kilogram.

“Cabai merah besar biasanya Rp35.000, sekarang Rp45.000. Cabai rawit hijau biasanya Rp37.000 sampai Rp38.000, sekarang Rp50.000. Terus cabai rawit merah biasanya Rp48.000 sampai Rp50.000, sekarang Rp60.000,” ujar Mafidah.

Menurut Mafidah, kenaikan harga tersebut mulai dirasakan dalam beberapa hari terakhir. Ia menduga kondisi musim kemarau yang belum disertai turunnya hujan menjadi salah satu penyebab terganggunya hasil panen. Cuaca panas juga memengaruhi kondisi sayuran yang diterima pedagang sehingga sebagian barang sudah tidak dalam keadaan segar ketika tiba di pasar.

“Kualitas barangnya kurang bagus. Banyak busuk, banyak layu. Daun bawang terutama, baru datang tapi sudah kuning, sudah layu. Kurang fresh,” ungkapnya.

Tidak hanya cabai, kenaikan harga juga terjadi pada komoditas buncis dan sawi putih. Mafidah menyebut harga buncis yang biasanya Rp12.000 per kilogram kini naik menjadi Rp16.000 hingga Rp18.000. Sementara harga sawi putih meningkat dari Rp6.000 menjadi sekitar Rp9.000 hingga Rp10.000 per kilogram. Kedua jenis sayuran tersebut juga mulai sulit diperoleh dibandingkan kondisi sebelumnya.

“Buncis biasanya gampang, sekarang susah. Barangnya juga enggak ada, harganya naik. Sawi putih juga biasanya Rp6.000, sekarang Rp9.000 sampai Rp10.000,” jelasnya.

Kondisi tersebut turut mendapat perhatian Ketua Paguyuban Pedagang Pasar Batang, Budi Pramono. Ia membenarkan adanya keluhan dari sejumlah pedagang mengenai kenaikan harga dan penurunan kualitas komoditas selama musim kemarau. Keluhan itu kerap disampaikan melalui grup komunikasi antarpedagang, terutama terkait harga dari distributor yang tidak menentu dan kondisi barang yang diterima.

“Kadang ini kok harga naik, kadang barang itu memang enggak sebagus di musim-musim yang enggak kemarau. Ya mungkin kita juga menyadari, permintaan ke daerah-daerah lain untuk distributornya kan banyak,” kata Budi.

Budi menjelaskan, fluktuasi harga bahan pangan menjadi tantangan tersendiri bagi pedagang pasar tradisional. Perubahan harga dari distributor yang sulit diprediksi membuat pedagang harus menyesuaikan harga jual dalam waktu relatif singkat.

“Harga-harga itu kadang fluktuatif dari distributor. Hari ini sudah naik, nanti pekan depan itu naik lagi. Jadi enggak ada kejelasan kenaikan persentasenya,” ujarnya.

Kenaikan harga dan penurunan kualitas sejumlah komoditas pangan selama musim kemarau menambah tantangan bagi pedagang Pasar Batang yang masih menghadapi penurunan jumlah pengunjung dan keterbatasan modal. Para pedagang berharap pasokan bahan pangan kembali stabil, sementara paguyuban meminta perhatian pemerintah terhadap perbaikan fasilitas pasar untuk menunjang kelangsungan aktivitas perdagangan.

Example 300250 Example 468x60

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Example 468x60