Example floating
Example floating
Example 468x60 Example 468x60
BeritaHeadlineJawa TengahKabupaten Batang

Ribuan Peserta Ikuti Upacara Hari Santri di Tersono, Bupati Batang Ajak Santri Melek Teknologi dan Jaga Tradisi Pesantren

27
×

Ribuan Peserta Ikuti Upacara Hari Santri di Tersono, Bupati Batang Ajak Santri Melek Teknologi dan Jaga Tradisi Pesantren

Sebarkan artikel ini
Example 468x60

BERITAOPINI.ID BATANG, JAWA TENGAH | Ribuan peserta dari berbagai unsur masyarakat mengikuti upacara peringatan Hari Santri Nasional (HSN) yang digelar di Stadion Mini Tersono, Kecamatan Tersono, Kabupaten Batang, Kamis (22/10/2026). Kegiatan yang dihadiri para santri, pelajar, pengasuh pondok pesantren, serta masyarakat umum tersebut dipimpin langsung oleh Bupati Batang, M. Faiz Kurniawan, S.H., M.H., selaku inspektur upacara.

Dalam amanatnya, Faiz menegaskan bahwa Hari Santri Nasional yang diperingati setiap 22 Oktober merupakan momentum penting untuk mengenang jasa para ulama dan santri dalam memperjuangkan sekaligus mempertahankan kemerdekaan Indonesia. Ia berharap semangat perjuangan tersebut terus diwariskan melalui penguatan peran pondok pesantren, baik dalam bidang pendidikan, penyebaran nilai-nilai agama, maupun pemberdayaan masyarakat.

“Kami berharap pondok pesantren bisa semakin baik dalam menjalankan tiga tugas utamanya, yakni pendidikan, dakwah, dan pemberdayaan masyarakat,” ujar Faiz.

Usai upacara, Faiz menyoroti tantangan yang dihadapi generasi santri di tengah perubahan global dan pesatnya kemajuan teknologi. Menurutnya, santri harus mampu menyesuaikan diri dengan perkembangan zaman tanpa kehilangan identitas keislaman. Nilai-nilai Ahlussunnah wal Jamaah (Aswaja) yang telah mengakar dalam kehidupan pesantren perlu terus dijaga sebagai pedoman dalam menghadapi berbagai perubahan.

“Pertama, santri harus tetap meneguhkan nilai-nilai keislaman dan nilai-nilai keaswajaan yang telah tumbuh dari dulu sampai sekarang. Kedua, harus adaptif terhadap perubahan dan kemajuan teknologi. Sehingga ke depan santri bisa tumbuh menjadi pribadi-pribadi yang maju,” ungkapnya.

Faiz menilai, perkembangan zaman membuka kesempatan semakin luas bagi lulusan pesantren untuk berkiprah dalam berbagai bidang profesi. Bekal pendidikan agama dan pembentukan karakter selama berada di pesantren diharapkan mampu menjadi landasan bagi santri untuk mengembangkan potensi, baik sebagai tenaga profesional maupun pemimpin di tengah masyarakat.

“Mereka bisa tumbuh menjadi seorang pendidik, menjadi dokter, bahkan mungkin ketua DPRD, kepala daerah, atau pemimpin bangsa. Tetapi mereka tetap memegang nilai-nilai keislaman dan nilai-nilai luhur yang diwariskan dari pesantren dari tahun ke tahun,” jelasnya.

Selain mendorong peningkatan kualitas santri, Pemerintah Kabupaten Batang juga memberikan perhatian terhadap kesejahteraan tenaga pendidik di lingkungan pesantren. Faiz menyampaikan bahwa pemerintah daerah bersama DPRD telah menyepakati dukungan anggaran bagi para ustaz atau asatiz melalui pemberian tunjangan serta jaminan sosial, termasuk jaminan hari tua dan keselamatan kerja.

“Sekarang para ustadz sudah mulai mendapatkan tunjangan, jaminan hari tua, serta jaminan keselamatan kerja. Supaya ustadz-ustadz yang mengajar para santri bisa lebih fokus dan bisa mentransfer ilmunya kepada para santri dengan lebih baik, dengan kesejahteraan yang semakin meningkat,” terangnya

Menurut Faiz, peningkatan kesejahteraan pengajar merupakan salah satu upaya untuk mendukung kualitas pendidikan pesantren. Di sisi lain, pemerintah daerah juga sedang menyiapkan sejumlah program pengembangan kemampuan santri, mulai dari pelatihan kewirausahaan, peningkatan keterampilan, hingga pendampingan akademik bagi mereka yang ingin melanjutkan pendidikan ke perguruan tinggi negeri.

“Kita juga sekarang sedang merancang program untuk pelatihan entrepreneur kepada para santri. Termasuk kita libatkan dalam program-program daerah, bimbingan belajar persiapan masuk ke perguruan tinggi negeri, dan peningkatan skill lainnya,” katanya.

Lebih lanjut, Faiz mengakui bahwa kemajuan teknologi membawa tantangan tersendiri bagi keberlangsungan sistem pendidikan pesantren. Di satu sisi, pesantren perlu mengikuti perkembangan ilmu pengetahuan dan kebutuhan generasi muda. Namun, di sisi lain, tradisi pembelajaran klasik seperti metode bandongan dan kajian kitab kuning tetap harus dipertahankan sebagai bagian dari kekayaan intelektual Islam.

“Memang ini tantangan yang luar biasa. Saya harus akui bahwa ini membutuhkan penyesuaian, bagaimana menyeimbangkan antara warisan tradisi pesantren klasik, tradisi pesantren yang dulu bandongan, yang berakar pada kitab-kitab kuning, dengan tantangan ke depan dan tantangan kecepatan perubahan,” tuturnya.

Ia menekankan bahwa proses penyesuaian pendidikan pesantren dengan perkembangan teknologi tidak bisa dilakukan secara terburu-buru. Diperlukan konsep dan perencanaan yang matang agar inovasi pendidikan tetap berjalan seiring dengan upaya menjaga tradisi keilmuan pesantren. Terlebih, proses mencetak ulama yang memiliki kedalaman ilmu agama membutuhkan waktu dan pembinaan yang berkelanjutan.

Melalui peringatan Hari Santri Nasional tersebut, Faiz berharap pesantren di Kabupaten Batang semakin berkembang dan mampu menjawab kebutuhan masyarakat. Dukungan terhadap kesejahteraan tenaga pendidik, penguatan keterampilan santri, serta pemanfaatan teknologi diharapkan dapat melahirkan generasi yang berilmu, mandiri, dan siap menghadapi persaingan global tanpa meninggalkan ajaran agama maupun nilai-nilai luhur pesantren.

Example 300250 Example 468x60

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Example 468x60