BERITAOPINI.ID PALEMBANG SUMSEL | Duka itu datang dengan hening, namun meninggalkan jejak yang begitu dalam. Anastasia Wardiati, ibunda tercinta dari Bapak Heriyanto—yang akrab disapa Kungkung, Dewan Pembina Pengurus Wilayah Persatuan Islam Tionghoa Indonesia (PITI) Sumatera Selatan—telah berpulang pada Rabu, 29 April 2026, di usia 102 tahun.
Dalam usia yang begitu panjang, almarhumah menutup perjalanan hidupnya dengan tenang di kediamannya di Sukarame, Palembang. Sebuah kehidupan yang bukan hanya tentang waktu yang panjang, tetapi juga tentang cinta yang luas dan keteladanan yang membekas.
Kini, jasad beliau disemayamkan di Rumah Duka Charitas Palembang, tempat keluarga, sahabat, dan para pelayat datang silih berganti, membawa doa, kenangan, dan rasa kehilangan yang sama. Misa Requiem akan dilaksanakan pada Sabtu, 2 Mei 2026 pukul 10.00 WIB di Paroki St. Yoseph Palembang, sebelum akhirnya beliau dimakamkan pada pukul 11.00 WIB di Talang Kerikil Palembang.
Namun, di tengah duka yang menyelimuti, ada pemandangan yang begitu menggetarkan hati. Rumah duka dipenuhi oleh wajah-wajah dari beragam latar belakang. Tidak hanya umat Katolik, tetapi juga saudara-saudara dari umat Islam turut hadir—dari kalangan Nahdlatul Ulama hingga Muhammadiyah—semua datang dengan satu tujuan: memberikan penghormatan terakhir.
Di sana, perbedaan seakan luruh. Yang tersisa hanyalah rasa hormat, cinta, dan kemanusiaan.
Dalam wawancara Tim media bersama multimedia PITI Sumsel Seorang pelayat dengan mata berkaca-kaca berkata lirih,
“Kami datang bukan karena kesamaan, tetapi karena persaudaraan. Ibu Anastasia telah melahirkan sosok yang mengajarkan kami arti kebersamaan itu.”
Sosok Heriyanto atau Kungkung memang dikenal luas sebagai jembatan antar umat, dan kehadiran banyak pelayat lintas agama seakan menjadi refleksi nyata dari nilai-nilai yang hidup dalam keluarganya—nilai tentang saling menghargai, merangkul perbedaan, dan menempatkan kemanusiaan di atas segalanya.
Di usia 102 tahun, Anastasia Wardiati telah menyelesaikan kisah panjangnya di dunia. Namun, warisan terindahnya bukan hanya keluarga yang ia tinggalkan, melainkan juga jejak harmoni yang kini terasa nyata dalam setiap doa yang dipanjatkan, dari berbagai iman yang berbeda.
Hari ini, Palembang tidak hanya berduka. Palembang belajar kembali—bahwa cinta tidak mengenal batas, dan bahwa dalam kehilangan, kita justru menemukan arti kebersamaan yang sesungguhnya.
Selamat jalan, Ibu Anastasia Wardiati.
Doa kami mengiringi langkahmu menuju keabadian.
Dan kisahmu akan terus hidup, dalam setiap hati yang percaya bahwa perbedaan adalah kekuatan, bukan pemisah.


















