BERITAOPINI.ID BREBES, JAWA TENGAH | Menteri Lingkungan Hidup, Mohammad Jumhur Hidayat menyebut, sekitar 30 persen dari 3,4 juta hektar kawasan mangrove Indonesia mengalami kerusakan. Perlu segera dipulihkan karena menimbulkan kerawanan terhadap bahaya abrasi.
Total luas hutan mangrove nasional sekitar 3,4 juta hektare dan 30 persen atau sebanyak 770 ribu hektare berada dalam kondisi rusak. Kerusakan hutan itu perlu segera mendapatkan penanganan rehabilitasi.
Menurut Jumhur, pemulihan mangrove merupakan pekerjaan besar yang tidak dapat diselesaikan oleh pemerintah semata. Penanganan ini membutuhkan kolaborasi seluruh elemen masyarakat.
“Saat ini sekitar 30 persen mangrove di Indonesia mengalami kerusakan. Dari total sekitar 3,4 juta hektare, sekitar 770 ribu hektare perlu direhabilitasi. Ini menjadi pekerjaan besar bersama untuk memastikan kawasan mangrove dapat dipulihkan,” ujar Jumhur saat acara tanam mangrove di Pantai Randusanga Indah, Brebes, Jumat (3/7).
Lebih lanjut Jumhur menyampaikan, pemerintah tengah menyiapkan langkah jangka panjang untuk mengatasi abrasi di Pantai Utara Jawa melalui pembangunan Giant Sea Wall. Namun demikian, rehabilitasi mangrove tetap menjadi solusi paling efektif dari sisi daratan untuk menekan laju abrasi sembari menunggu proyek Giant Sea Wall terealisasi.
“Pantai utara Jawa sangat rentan terhadap abrasi. Giant Sea Wall memang sedang dipersiapkan, tetapi prosesnya masih panjang. Karena itu, penanaman mangrove menjadi upaya penting agar abrasi tidak terus berlangsung,” bebernya.
Di sisi lain, pemerintah juga sedang menyusun regulasi mengenai water farming, yaitu kewajiban bagi pengguna air tanah dalam skala besar. Hal ini untuk mengembalikan air ke dalam tanah melalui berbagai metode, seperti pembangunan biopori dan penanaman pohon.
Kebijakan tersebut diharapkan dapat mengurangi laju penurunan muka tanah (land subsidence) yang selama ini turut memperparah kerusakan kawasan pesisir, khususnya di wilayah Pantai Utara Jawa.
Dalam penanaman mangrove ini, Menteri LH mengapresiasi keterlibatan berbagai pihak, mulai dari relawan, dunia usaha, perguruan tinggi, pemerintah daerah, hingga masyarakat. Termasuk Universitas Harkat Negeri Tegal yang menginisiasi penanaman mangrove dalam rangka Dies Natalis pertama.
Usai penanaman, Rektor Universitas Harkat Negeri, Sudirman Said, mengatakan penanaman mangrove merupakan bentuk kolaborasi lintas sektor dalam menjaga kelestarian lingkungan, khususnya ekosistem pesisir.
“Pak Menteri membuka pidato dengan sangat indah. Tidak ada agenda yang bisa menyatukan manusia dari berbagai warna, agama, latar belakang, maupun usia, kecuali menyelamatkan bumi,” kata Sudirman Said, sembari menambahkan pada Dies Natalis ini melakukan penanaman sebanyak 2.000 batang.


















