BERITAOPINI.ID PALEMBANG, SUMSEL | Ketua Lembaga Seni dan Budaya Muslimin Indonesia (Lesbumi) PWNU Sumatera Selatan, Kgs. Muhammad Ilham Akbar, yang akrab disapa Kiagus Ilham atau Gus Ilham, melaksanakan silaturahmi (sowan) kepada KH. Baba Azim Amin, putra dari KH. Amin Azhari (Kiai Cek Ming), yang merupakan murid langsung KH. Kemas Abdullah bin KH. Kemas Muhammad Azhari Al-Falimbani.
Kunjungan tersebut turut didampingi oleh Ir. Dailami Malik selaku Ketua Yayasan Sekolah NU Palembang, Kgs. Dedy selaku kader penggerak Nahdlatul Ulama sekaligus ayah dari Gus Ilham, serta Ustadz Setiawan selaku Wakil Ketua PCNU Palembang.
Silaturahmi ini menjadi momentum untuk mempererat ukhuwah sekaligus menggali kembali jejak sejarah keilmuan, kebudayaan, dan literasi Islam yang berkembang di Negeri Palembang. Dalam kesempatan tersebut, rombongan juga berkesempatan melihat secara langsung Al-Qur’an Mushaf Azhari, sebuah artefak bersejarah yang hingga kini dirawat oleh KH. Baba Azim Amin. Mushaf tersebut merupakan salah satu peninggalan penting dalam sejarah percetakan Islam di dunia Melayu. Berdasarkan kolofonnya, mushaf ini selesai dicetak pada 21 Agustus 1848 Masehi menggunakan teknik litografi (cetak batu), yaitu teknologi percetakan abad ke-19 yang memungkinkan tulisan tangan kaligrafi direproduksi dalam jumlah lebih banyak tanpa menghilangkan keindahan bentuk aslinya.
Mushaf Azhari memiliki nilai sejarah yang tinggi karena berkaitan dengan Percetakan KH. Muhammad Azhari, yang dikenal sebagai salah satu pelopor percetakan mushaf Al-Qur’an di dunia Melayu. Keberadaan mushaf tersebut menjadi salah satu bukti penting bahwa Negeri Palembang pernah menjadi mercusuar ilmu dan budaya Islam di Nusantara. Pada masanya, Palembang berkembang sebagai pusat lahirnya ulama, penulis, penyalin manuskrip, kaligrafer, dan intelektual Muslim yang membangun tradisi keilmuan serta literasi Islam yang kuat. Tradisi tersebut tidak hanya melahirkan karya-karya keislaman, tetapi juga mendorong berkembangnya percetakan kitab-kitab Islam dan mushaf Al-Qur’an yang berkontribusi terhadap penyebaran ilmu pengetahuan dan kebudayaan Islam di dunia Melayu. Warisan tersebut menjadi pengingat bahwa kemajuan suatu peradaban dibangun di atas fondasi ilmu, budaya, dan tradisi literasi yang terus dirawat, dikembangkan, dan diwariskan kepada generasi berikutnya.
Berdasarkan beberapa penelitian telah menyebutkan bahwa Al-Quran Mushaf Azhari yang disimpan oleh Baba KH. Azim Amin adalah cetakan tertua di Nusantara.
Dalam pertemuan tersebut, KH. Baba Azim Amin berpesan agar Lesbumi PWNU Sumatera Selatan terus mengambil peran dalam menjaga dan mengembangkan kebudayaan Islam di Nusantara, khususnya warisan para ulama di Sumatera Selatan.
“Lesbumi Sumatera Selatan harus terus berperan dalam melestarikan sekaligus memajukan kebudayaan Nusantara, khususnya kebudayaan Islam yang merupakan warisan para ulama di Sumatera Selatan. Warisan ini harus dijaga, dikenalkan, dikaji, dan diwariskan kepada generasi berikutnya,” pesan KH. Baba Azim Amin.
Menanggapi pesan tersebut, Ketua Lesbumi PWNU Sumatera Selatan, Kgs. Muhammad Ilham Akbar, menegaskan bahwa tantangan generasi masa kini bukan hanya menjaga warisan yang telah ada, tetapi juga melanjutkannya dengan karya dan gagasan baru.
“Tugas generasi hari ini bukan hanya menjadi pelestari budaya dan pelestari ilmu, melainkan juga harus menjadi agen-agen yang memajukan kebudayaan dan memberikan sumbangan keilmuan yang baru. Warisan para ulama harus menjadi fondasi untuk membangun peradaban yang terus berkembang, sehingga kebudayaan Islam di Sumatera Selatan tidak hanya dikenang sebagai sejarah, tetapi terus hidup, berkembang, dan memberi manfaat bagi masyarakat,” ujar Ilham.
Silaturahmi ini diharapkan menjadi langkah awal dalam memperkuat sinergi antara ulama, budayawan, dan generasi muda Nahdlatul Ulama untuk mendokumentasikan, melestarikan, serta mengembangkan khazanah kebudayaan Islam di Sumatera Selatan. Melalui peran Lesbumi, warisan intelektual para ulama diharapkan tidak hanya terjaga sebagai peninggalan sejarah, tetapi juga menjadi inspirasi dalam membangun peradaban yang berakar pada ilmu pengetahuan, nilai-nilai Islam Ahlussunnah wal Jama’ah, dan kebudayaan Nusantara.


















