Example floating
Example floating
Example 468x60 Example 468x60
BeritaHeadlineKota PalembangSumatera Selatan

Perbedaan Dalam Muktamar: Ketika Dinamika Menjadi Kekuatan NU

48
×

Perbedaan Dalam Muktamar: Ketika Dinamika Menjadi Kekuatan NU

Sebarkan artikel ini
Example 468x60

BERITAOPINI.ID PALEMBANG, SUMSEL | Muktamar Nahdlatul Ulama ke-35 di Tambak Beras, Jombang bukan sekadar sebuah forum organisasi. Ia adalah pertemuan antara sejarah, tradisi keulamaan, gagasan, dan masa depan Nahdlatul Ulama.

Tambak Beras bukanlah tempat yang asing bagi perjalanan panjang peradaban Nusantara. Ia pernah menjadi bagian dari ruang sejarah yang menyaksikan pergulatan zaman, sejak era Majapahit hingga berkembangnya tradisi keislaman dan perjuangan para ulama Nusantara. Dari tanah inilah tumbuh tradisi keilmuan dan perjuangan yang melahirkan banyak tokoh bangsa.

Salah satu nama besar yang tidak dapat dilepaskan dari jejak perjuangan tersebut adalah KH. Wahab Hasbullah. Gagasan dan perjuangannya tidak hanya berpengaruh dalam tubuh Nahdlatul Ulama, tetapi juga memberikan warna penting dalam perjalanan kebangsaan Indonesia.

Presiden Soekarno memiliki kedekatan intelektual dan ideologis dengan sejumlah gagasan kebangsaan yang diperjuangkan para ulama, termasuk KH. Wahab Hasbullah. Dalam konteks hubungan antara ulama dan pemimpin bangsa tersebut, lahir pula berbagai tradisi kebangsaan yang kemudian mengakar kuat di tengah masyarakat. Salah satunya adalah tradisi Halal Bihalal, yang hingga hari ini menjadi bagian penting dari budaya silaturahmi masyarakat Indonesia setiap Idulfitri.

Maka ketika Muktamar NU digelar di Tambak Beras, sesungguhnya NU sedang kembali ke sebuah ruang sejarah yang memiliki makna sangat dalam.

Di tempat yang pernah menjadi saksi perjalanan zaman, para nahdliyin kembali mempertemukan gagasan.

Dinamika Adalah Tanda Kehidupan Organisasi

Dalam setiap Muktamar, tentu akan muncul dinamika.

Ada perbedaan pandangan. Ada perbedaan pilihan. Ada perbedaan strategi. Ada pula perbedaan dalam membaca masa depan organisasi.

Hal tersebut adalah sesuatu yang lumrah dalam kehidupan organisasi.

Justru organisasi yang sama sekali tidak memiliki dinamika perlu dipertanyakan kehidupannya.

Organisasi adalah kumpulan manusia yang memiliki pengalaman, pengetahuan, kepentingan, dan cara pandang yang tidak selalu sama. Perbedaan tersebut tidak dengan sendirinya menjadi ancaman. Perbedaan dapat menjadi energi untuk menemukan gagasan yang lebih baik.

Dalam perspektif teori konflik, konflik tidak selalu berarti kehancuran. Konflik dapat menjadi bagian dari mekanisme perubahan sosial dan organisasi. Perbedaan pendapat dapat membuka ruang evaluasi, mempertemukan kepentingan, dan melahirkan kesepakatan baru.

Persoalannya bukan apakah konflik boleh terjadi atau tidak.

Persoalannya adalah bagaimana konflik itu dikelola.

Konflik yang dikendalikan dengan adab, aturan, musyawarah, dan kepentingan organisasi dapat menjadi kekuatan.

Sebaliknya, konflik yang kehilangan kendali dapat berubah menjadi perpecahan.

Karena itu, dalam sebuah Muktamar, silang pendapat bukan sesuatu yang harus ditakuti. Yang harus dijaga adalah tertibnya proses, akhlaknya, dan persatuannya.

Pikiran Menjadi Pikiran Ketika Berhadapan dengan Pikiran Lain

Ada sebuah kenyataan sederhana dalam tradisi intelektual Islam:

Pikiran baru benar-benar menjadi pikiran ketika ia memiliki lawan bicara.

Gagasan yang tidak pernah diuji oleh pertanyaan, kritik, dan perbedaan pendapat akan sulit berkembang.

Begitulah tradisi keilmuan para fuqaha. Mereka berdiskusi, berdebat, mempertanyakan dalil, membandingkan pendapat, kemudian mencari kesimpulan yang dianggap paling mendekati kebenaran.

Perbedaan pendapat bahkan menjadi bagian penting dalam sejarah perkembangan fikih Islam.

Para ulama tidak membangun ilmu dengan cara saling membungkam.

Mereka membangun ilmu melalui dialog, argumentasi, penelitian, dan ijtihad.

Dalam sejarah Nabi Muhammad SAW pun terdapat berbagai peristiwa yang menunjukkan adanya ruang bagi para sahabat untuk menyampaikan pandangan.

 

Salah satu contoh yang dikenal dalam sejarah adalah proses penetapan azan sebagai syiar dan penanda masuknya waktu salat. Para sahabat memiliki gagasan mengenai bagaimana umat Islam dikumpulkan untuk melaksanakan salat, kemudian Allah SWT memberikan petunjuk mengenai syiar tersebut.

Pelajaran pentingnya adalah bahwa dalam tradisi Islam terdapat ruang untuk mendengarkan, mempertimbangkan, dan mencari jalan terbaik, sebelum suatu persoalan mendapatkan ketetapan berdasarkan petunjuk Allah SWT.

Bahkan Sejarah Politik Islam Mengenal Perbedaan Pendapat

Sejarah Islam juga mencatat bahwa setelah wafatnya Rasulullah SAW, persoalan kepemimpinan umat tidak serta-merta berlangsung tanpa perdebatan.

Dalam peristiwa Saqifah Bani Sa’idah, para sahabat berbeda pandangan mengenai siapa yang paling tepat memimpin umat Islam setelah Rasulullah SAW.

Ada argumen dari kalangan Anshar.

Ada pula pandangan dari kalangan Muhajirin.

Terjadi dialog dan perdebatan.

Namun pada akhirnya, mereka mencari titik temu demi menjaga persatuan umat.

Peristiwa tersebut memberikan pelajaran penting:

Perbedaan pendapat tidak selalu berakhir dengan perpecahan.

Perbedaan dapat berakhir pada kesepakatan apabila semua pihak menempatkan kepentingan yang lebih besar di atas kepentingan pribadi dan kelompok.

Inilah salah satu pelajaran penting bagi organisasi sebesar Nahdlatul Ulama.

Muktamar Bukan Sekadar Memilih Pemimpin

Muktamar tidak boleh direduksi hanya menjadi persoalan siapa yang menang dan siapa yang kalah.

Muktamar adalah ruang untuk menentukan arah perjalanan organisasi.

Di dalamnya terdapat gagasan tentang masa depan NU.

Ada pembacaan terhadap perubahan zaman.

Ada evaluasi terhadap perjalanan organisasi.

Ada perdebatan mengenai kebijakan.

Ada aspirasi dari berbagai daerah.

Ada harapan dari para ulama, kader, dan warga Nahdliyin.

Karena itu, dinamika yang muncul dalam Muktamar hendaknya dibaca sebagai bagian dari ijtihad organisatoris.

Ijtihad tidak berarti setiap orang harus selalu sepakat.

Ijtihad justru lahir karena adanya persoalan yang membutuhkan pemikiran.

Pemikiran berkembang ketika ada pertanyaan.

Pertanyaan melahirkan jawaban.

Jawaban melahirkan kritik.

Kritik melahirkan penyempurnaan.

Kemudian lahirlah kesepakatan.

Begitulah peradaban tumbuh.

Silang Pendapat Demi Kemaslahatan

Dalam tradisi NU, kita mengenal prinsip:

المحافظة على القديم الصالح والأخذ بالجديد الأصلح

Al-muhafazhatu ’ala al-qadimi al-shalih, wal-akhdzu bil-jadidil-ashlah.

Mempertahankan tradisi lama yang baik dan mengambil sesuatu yang baru yang lebih baik.

Prinsip tersebut menunjukkan bahwa tradisi dan perubahan bukan dua hal yang harus dipertentangkan.

Ada ruang untuk mempertahankan.

Ada ruang untuk memperbaiki.

Ada ruang untuk melakukan pembaruan.

Dan semua itu membutuhkan dialog.

Maka silang pendapat demi kemaslahatan adalah sesuatu yang biasa dalam proses ijtihad.

Yang tidak boleh hilang adalah adab.

Yang tidak boleh hilang adalah ukhuwah.

Yang tidak boleh hilang adalah kecintaan kepada organisasi.

Dan yang paling penting, jangan sampai perbedaan pilihan dalam Muktamar membuat kita kehilangan kesadaran bahwa kita berada dalam satu rumah besar: Nahdlatul Ulama.

Tambak Beras Harus Menjadi Saksi Persatuan

Tambak Beras telah menyaksikan perjalanan panjang Nusantara.

Ia pernah menjadi bagian dari sejarah masa lalu.

Ia menjadi tempat tumbuhnya tradisi keilmuan dan perjuangan ulama.

Kini Tambak Beras kembali menjadi saksi.

Bukan hanya saksi atas siapa yang terpilih.

Bukan hanya saksi atas siapa yang menang atau kalah.

Tetapi menjadi saksi atas bagaimana Nahdlatul Ulama mengelola perbedaan dengan tradisi keilmuan, akhlak, dan kebijaksanaan.

Sebab kebesaran NU tidak diukur dari tidak adanya perbedaan.

Kebesaran NU justru diuji ketika perbedaan itu hadir.

Jika perbedaan dapat dikelola dengan musyawarah, maka konflik menjadi energi.

Jika kritik dapat diterima dengan lapang dada, maka organisasi akan semakin matang.

Jika setiap pihak bersedia menerima hasil Muktamar dengan ikhlas, maka persatuan akan menjadi kekuatan.

Dan jika setelah Muktamar seluruh pihak kembali bergandengan tangan, maka kemenangan sesungguhnya bukan milik satu kubu.

Kemenangan itu adalah kemenangan Nahdlatul Ulama.

Karena pada akhirnya, Muktamar bukan tentang siapa yang paling kuat mempertahankan pendapat.

Muktamar adalah tentang siapa yang paling mampu menempatkan kemaslahatan umat, bangsa, dan keberlangsungan Nahdlatul Ulama di atas kepentingan pribadi dan kelompok.

Dari Tambak Beras kita belajar bahwa sejarah tidak pernah lahir dari keseragaman.

Sejarah lahir dari pertemuan gagasan.

Dari perbedaan lahir dialog.

Dari dialog lahir kesepakatan.

Dari kesepakatan lahir gerakan.

Dan dari gerakan yang dijaga oleh persatuan, lahirlah peradaban.

Maka, berbeda dalam Muktamar adalah hal yang wajar. Berbeda pilihan adalah bagian dari dinamika. Tetapi setelah keputusan ditetapkan, persaudaraan harus kembali menjadi panglima.

Tambak Beras tidak hanya harus menjadi tempat lahirnya keputusan Muktamar.

Ia harus menjadi saksi bahwa Nahdlatul Ulama mampu menunjukkan kepada bangsa Indonesia bahwa perbedaan dapat dikelola dengan ilmu, musyawarah, adab, dan persaudaraan.

Selamat bermuktamar.

Berbeda dalam gagasan, bersatu dalam perjuangan.

Silang pendapat boleh terjadi, tetapi ukhuwah Nahdliyin harus tetap terjaga.

Karena NU bukan dibangun untuk menjadi rumah bagi orang-orang yang selalu sepakat, melainkan rumah besar bagi mereka yang mampu berbeda dengan tetap menjaga adab, ilmu, dan persaudaraan.

Kgs. M. Ilham Akbar

Ketua LESBUMI PWNU Sumatera Selatan dan Sekretaris MDS Rijalul Ansor Sumatera Selatan

Example 300250 Example 468x60

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Example 468x60