Example floating
Example floating
Example 468x60 Example 468x60
BeritaHeadlineKota PalembangSumatera Selatan

PWNU Sumsel dan Kejati Sumsel Bahas PAKEM, Perkuat Sinergi Jaga Kerukunan dan NKRI

19
×

PWNU Sumsel dan Kejati Sumsel Bahas PAKEM, Perkuat Sinergi Jaga Kerukunan dan NKRI

Sebarkan artikel ini
Example 468x60

BERITAOPINI.ID, PALEMBANG, SUMSEL | Pengurus Wilayah Nahdlatul Ulama (PWNU) Sumatera Selatan menggelar rapat koordinasi Pengawasan Aliran Kepercayaan dan Aliran Keagamaan dalam Masyarakat (PAKEM) bersama Kejaksaan Tinggi (Kejati) Sumatera Selatan di Kantor PWNU Sumsel, Selasa (15/9/2026).

Pertemuan tersebut menjadi momentum memperkuat silaturahmi, komunikasi, dan koordinasi antara PWNU Sumsel dengan Kejati Sumsel dalam menyikapi dinamika kehidupan keagamaan dan sosial kemasyarakatan di Sumatera Selatan.

Dari Kejati Sumsel hadir Kasi II Bidang Intelijen, Bob Sulistiyan, SH., MH., bersama sejumlah staf. Dalam penyampaiannya, Bob terlebih dahulu menyampaikan permohonan maaf karena Kepala Kejaksaan Tinggi (Kajati) Sumatera Selatan dan Asisten Intelijen (Asintel) Kejati Sumsel berhalangan hadir.

Bob mengatakan, pertemuan tersebut merupakan bagian dari upaya memperkuat hubungan dan silaturahmi yang selama ini telah terjalin antara Kejati Sumsel dan PWNU Sumsel, baik melalui koordinasi maupun komunikasi.

“Pertama, kami ingin menjalin dan memperkuat silaturahmi yang selama ini telah terjalin dengan PWNU Sumsel, baik koordinasi maupun komunikasi,” ujar Bob.

Selain memperkuat silaturahmi, Kejati Sumsel melalui forum PAKEM juga ingin memperoleh gambaran mengenai berbagai persoalan yang berkembang di tengah masyarakat, khususnya yang berkaitan dengan kehidupan keagamaan dan sosial kemasyarakatan.

“Kami ingin mengetahui atau mungkin menginventarisasi apa saja permasalahan yang ada di PWNU. Nanti kita pecahkan bersama bagaimana terkait permasalahan-permasalahan yang ada,” katanya.

 

Bob juga menekankan pentingnya membangun komunikasi yang lebih intensif antara Kejati Sumsel dan PWNU Sumsel. Menurutnya, komunikasi yang baik diperlukan agar berbagai dinamika yang berkembang di tengah masyarakat dapat dibicarakan dan dicarikan solusi bersama.

“Dan kita hendak komunikasi yang intens,” ujarnya.

Menanggapi hal tersebut, Ketua Tanfidziyah PWNU Sumsel KH. Hendra Zainuddin Al-Qadiri menyampaikan apresiasi atas pelaksanaan pertemuan tersebut. Ia mengungkapkan bahwa PWNU Sumsel memang telah lama memiliki keinginan untuk bersilaturahmi dan membangun komunikasi lebih erat dengan Kejati Sumsel.

“Memang sudah lama kami ingin bersilaturahmi kepada Kejati Sumsel,” ujar KH. Hendra.

Dalam forum tersebut, KH. Hendra juga menyampaikan gambaran mengenai kondisi kehidupan keagamaan yang selama ini diamati PWNU Sumsel. Ia mengatakan, sejauh kepengurusan saat ini, PWNU Sumsel tidak menemukan adanya persoalan terkait aliran yang menyimpang maupun jaringan terorisme di lingkungan yang menjadi perhatian organisasinya.

“Sejauh ini yang kami lihat, kami di PWNU Sumsel tidak pernah melihat ataupun mendengar adanya aliran-aliran yang menyimpang ataupun teroris dan lain-lain, sejauh kepengurusan ini yang kami lihat,” jelasnya.

Menurut KH. Hendra, pertemuan tersebut merupakan langkah positif karena mempertemukan unsur organisasi keagamaan dengan institusi penegak hukum untuk membangun komunikasi mengenai kondisi sosial-keagamaan di Sumatera Selatan.

“Apa yang hari ini kita lakukan adalah suatu langkah yang baik. Kami menyambut dengan formasi yang lengkap. Ada lembaga dan juga Banom-Banom yang hadir,” katanya.

Sementara itu, Rois Syuriyah PWNU Sumsel KH. Syaifudin Yakub memberikan arahan mengenai pentingnya memahami perbedaan dalam kehidupan keagamaan secara proporsional dengan tetap berpegang pada prinsip-prinsip Ahlussunnah wal Jamaah (Aswaja).

Dalam arahannya, KH. Syaifudin mengingatkan hadis Nabi Muhammad SAW mengenai perbedaan umat serta pentingnya berpegang kepada sunnah Rasulullah SAW dan para sahabat.

Ia kemudian menjelaskan pandangan Nahdlatul Ulama mengenai persoalan bid’ah. Menurutnya, tidak setiap perkara yang disebut bid’ah secara otomatis bermakna sesuatu yang harus dipandang sebagai kesesatan. Ia merujuk pada pembagian bid’ah dalam pandangan Imam Syafi’i yang membedakan antara bid’ah hasanah dan bid’ah dhalalah.

Ia juga menekankan pentingnya memahami suatu aliran atau pemahaman keagamaan berdasarkan prinsip ma ana ‘alaihi wa ashabihi, yakni tetap berpegang pada jalan Rasulullah SAW dan para sahabat.

Setelah penyampaian materi dan arahan, kegiatan dilanjutkan dengan diskusi mengenai kondisi kehidupan keagamaan di Kota Palembang dan Sumatera Selatan saat ini. Para peserta bertukar pandangan mengenai berbagai dinamika sosial dan keagamaan yang berkembang di tengah masyarakat

Forum tersebut menjadi ruang untuk membangun kesepahaman bahwa dinamika kehidupan keagamaan perlu dihadapi melalui komunikasi, koordinasi, serta pendekatan yang mengedepankan ketertiban, kerukunan, dan penghormatan terhadap kehidupan masyarakat yang majemuk.

Pertemuan PWNU Sumsel bersama Kejati Sumsel tersebut menghasilkan komitmen bersama untuk terus memperkuat komunikasi dan koordinasi dalam menjaga kehidupan masyarakat yang aman, damai, dan harmonis.

Sinergi tersebut diharapkan menjadi bagian dari ikhtiar bersama dalam merawat Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI) serta menjaga nilai-nilai Islam Ahlussunnah wal Jamaah (Aswaja) di tengah dinamika kehidupan sosial-keagamaan masyarakat Sumatera Selatan.

Kegiatan dihadiri jajaran PWNU Sumsel, PW GP Ansor Sumsel, PKC PMII Sumsel, serta sejumlah lembaga di lingkungan PWNU Sumsel.

Sementara dari Kejati Sumsel hadir Kasi II Bidang Intelijen Bob Sulistiyan, SH., MH., beserta para staf.

Rakor PAKEM berlangsung dalam suasana khidmat dan terbuka sebagai bentuk komitmen bersama memperkuat komunikasi lintas lembaga serta menjaga kerukunan, ketertiban masyarakat, dan keutuhan NKRI.

Example 300250 Example 468x60

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Example 468x60