BERITAOPINI.ID SURABAYA, JAWA TIMUR | Kenaikan harga sejumlah bahan pokok dan bahan baku makanan mulai berdampak pada usaha mikro dan pedagang kaki lima di Kota Surabaya. Salah satu yang terdampak adalah pedagang batagor yang terpaksa melakukan penyesuaian porsi penjualan untuk mempertahankan keberlangsungan usahanya.
Seorang pedagang batagor di sekitar kawasan pusat kota Surabaya mengaku harga berbagai bahan baku seperti tepung, minyak goreng, ikan, serta bumbu mengalami kenaikan dalam beberapa bulan terakhir. Kondisi tersebut membuat biaya produksi meningkat cukup signifikan, sementara daya beli masyarakat belum sepenuhnya pulih.
“Kalau harga saya naikkan, khawatir pelanggan berkurang. Jadi untuk sementara saya pertahankan harga, tetapi jumlah batagor dalam satu porsi saya kurangi,” ujarnya.
Sebelumnya, satu porsi batagor dan siomay yang sebelumnya dijual berisi empat potong dengan harga Rp10.000. Namun akibat meningkatnya biaya produksi, kini satu porsi hanya berisi tiga potong dengan harga yang tetap sama. Langkah tersebut diambil sebagai upaya menjaga kualitas bahan baku sekaligus mempertahankan pelanggan yang sudah terbiasa dengan harga tersebut.
Menurut pedagang, sebagian pelanggan memahami kondisi yang sedang terjadi. Meski demikian, tidak sedikit pembeli yang mempertanyakan berkurangnya jumlah porsi dibandingkan sebelumnya. Untuk menghindari kesalahpahaman, pedagang berusaha memberikan penjelasan bahwa kebijakan tersebut merupakan dampak langsung dari kenaikan harga bahan baku.
Strategi tersebut dipilih karena dianggap lebih dapat diterima konsumen dibandingkan kenaikan harga secara langsung. Di sisi lain, para pedagang berharap pemerintah dapat terus menjaga stabilitas harga bahan pokok dan memperkuat program pengendalian inflasi daerah. Dengan harga bahan baku yang lebih terkendali, pelaku usaha mikro dapat kembali menjual produknya dengan porsi normal tanpa harus mengurangi keuntungan maupun membebani konsumen.
Kondisi ini menunjukkan bahwa kenaikan harga bahan pokok tidak hanya berdampak pada rumah tangga, tetapi juga memengaruhi keberlangsungan usaha kecil yang menjadi salah satu penggerak ekonomi masyarakat di Kota Surabaya.


















