Example floating
Example floating
Example 468x60 Example 468x60
BeritaHeadlineJawa TengahKota Surakarta

Para Wartawan Solo Kecam capan Prabowo Subianto Londo Ireng

22
×

Para Wartawan Solo Kecam capan Prabowo Subianto Londo Ireng

Sebarkan artikel ini
Example 468x60

BERITAOPINI.ID SURAKARTA, JAWA TENGAH | Buntut ujaran kebencian oleh Prabowo Subianto yang menunjuk wartawan sebagai Londo Ireng, para Wartawan se-Solo Raya melangsungkan unjuk rasa di depan halaman Monumen Pers Nasional di Surakarta pada Rabu (27/07) siang.

Aksi ini dihadiri oleh ratusan wartawan dari pelbagai media. Mereka mengecam orang nomor satu di Indonesia itu yang mencederai martabat pers.

Sri Hartanto selaku ketua PWI Surakarta menandaskan bahwa apa yang disampaikan oleh Presiden Prabowo mencoreng nama baik wartawan.

“Pak Prabowo harus minta maaf ke seluruh media yang ada di seluruh Indonesia,” tukas Sri Hartanto saat diwawancarai selepas unjuk rasa, pada (27/07).

Hartanto menandaskan bawa aksi ini merupakan wujud sikap wartawan se-Solo Raya atas ujaran kebencian yang disampaikan oleh Prabowo Subianto. Ia berharapa agar presiden lekas menyampaikan permintaan maaf. Tidak menutup kemungkinan, wartawan se Solo Raya akan melangsungkan aksi kembali bila tidak ada langkah baik dari Presiden Prabowo Subianto untuk meminta maaf.

Hal senada turut pula disampaikan oleh ketua Aji Solo Ika Yuniati. Sambil mengutip tokoh SK Trimurti ia menggetarkan halaman gedung Monumen Pers Nasional. Menurutnya pers itu bagian penting dari demokrasi. Bila Presiden Prabowo mengatakan insan pers itu adalah londo ireng, sejatinya presiden sedang mencoreng nama baik republik.

SK Trimurti merupakan tokoh penting dari republik yang juga berkecimpung di pers. Ia sempat mendirikan majalah Mawas Diri. Majalah itu berisi konten ienting menyoal psikologi. Sepak terjang SK Trimurti juga tidak dipandang remeh. Di zaman revolusi ia bersama Sjahrir, Soekarno, dsb untuk ikut serta memperjuangakan kemerdekaan republik.

Terlebih, Ika menandaskan bahwa tuduhan Londo Ireng kepada wartawan sebagai stigma buruk. Ujaran itu akan memperburuk dan menghambar kerja-kerja jurnalistik.

“Siapapun yang sedang menstigmasisasi kita sebagai londo ireng, secara tidak langsung di sedang menghambar demokrasi kita,” ujar Ika saat menyampaikan orasinya

Mafhum pers merupkan pilar keempat demokrasi. Apabila keberadaannya ditunjuk sebagai londo ireng, hal tersebut akan memghambat kerja pers.

Unjuk ras ini juga melangsungkan aksi teatrikal. Para wartawan berjalan mundur mengelilingi bundaran monumen pers dengan mulut tertutup. Teatrikal itu sebagai sebuah kritik di mana berjalan mundur dan mulut tertutup sebagai simbol atas sikap negara yang miring terhadap pers. Tuduhan londo ireng bagi pers mencedari profesi kewartawanan.

Beberapa jurnalis nampak pula menyampaikan orasi. Mereka resah dengan dikap negara terhadap pers. Ujara itu menadi cermin republik, bahwa orang nomor satu di Indonesia memandang remeh pers yang di mana cermin dari demokrasi.

Example 300250 Example 468x60

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Example 468x60