Example floating
Example floating
Example 468x60 Example 468x60
BeritaDKI JakartaHeadline

Halaqoh BEM Pesantren se-Indonesia Wilayah DKI Jakarta Gelar MUSKERWIL 2026, Dorong Transformasi Pesantren Digital di Era Society 5.0

27
×

Halaqoh BEM Pesantren se-Indonesia Wilayah DKI Jakarta Gelar MUSKERWIL 2026, Dorong Transformasi Pesantren Digital di Era Society 5.0

Sebarkan artikel ini
Example 468x60

BERITAOPINI.ID DKI JAKARTA | Halaqoh BEM Pesantren se-Indonesia Wilayah DKI Jakarta akan menggelar Musyawarah Kerja Wilayah (MUSKERWIL) 2026 pada Sabtu–Minggu, 19–20 September 2026, di Sekolah Tinggi Ilmu Tarbiyah An-Nu’aimiyah, Jakarta.

Mengusung semangat “Pesantren Digital di Era Society 5.0”, MUSKERWIL 2026 menjadi momentum konsolidasi mahasiswa pesantren untuk merumuskan arah gerakan dan program kerja yang mampu menjawab perubahan zaman. Pesantren tidak hanya dituntut mempertahankan tradisi keilmuan dan nilai-nilai kepesantrenan, tetapi juga perlu mengambil peran aktif dalam ekosistem digital yang semakin membentuk kehidupan masyarakat.

Era Society 5.0 menghadirkan tantangan sekaligus peluang baru bagi pesantren. Perkembangan kecerdasan buatan, teknologi informasi, ekonomi digital, hingga transformasi pola komunikasi masyarakat menuntut pesantren dan generasi mudanya untuk memiliki kemampuan adaptasi tanpa kehilangan akar nilai dan identitas keislamannya.

Dalam konteks tersebut, mahasiswa pesantren memiliki posisi strategis sebagai jembatan antara tradisi pesantren dan perkembangan teknologi. Mereka diharapkan mampu melahirkan gagasan tentang digitalisasi pendidikan pesantren, penguatan literasi digital santri, pengembangan ekosistem ekonomi digital pesantren, serta pemanfaatan teknologi untuk dakwah dan pengabdian kepada masyarakat.

MUSKERWIL 2026 juga diarahkan menjadi ruang untuk membangun peta jalan gerakan mahasiswa pesantren di Jakarta agar lebih responsif terhadap persoalan pendidikan, teknologi, kepemudaan, dan masyarakat. Digitalisasi dipandang bukan sekadar persoalan penggunaan perangkat teknologi, melainkan bagaimana teknologi dapat dimanfaatkan untuk memperluas manfaat pesantren.

“Pesantren harus mampu hadir di tengah perubahan teknologi tanpa kehilangan jati dirinya. Digitalisasi bukan berarti meninggalkan tradisi, tetapi menjadikan tradisi dan nilai-nilai pesantren memiliki daya jangkau yang lebih luas di tengah masyarakat digital,” menjadi semangat yang diusung dalam MUSKERWIL 2026.

Forum ini sekaligus menjadi momentum untuk memperkuat kolaborasi antara mahasiswa pesantren, lembaga pendidikan, pemerintah, dan berbagai elemen masyarakat dalam mendorong lahirnya ekosistem pesantren yang adaptif, inovatif, dan berdaya saing.

Dengan semangat tersebut, Halaqoh BEM Pesantren se-Indonesia Wilayah DKI Jakarta ingin memastikan bahwa pesantren tidak hanya menjadi penonton dalam arus transformasi digital, tetapi menjadi salah satu aktor yang ikut menentukan arah perubahan.

Example 300250 Example 468x60

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Example 468x60