Example floating
Example floating
Example 468x60 Example 468x60
BeritaHeadlineKota PalembangSumatera Selatan

Moderasi Beragama Berbasis Nilai Islam Melayu, Ilham: Teguh Bersyariat, Moderat dalam Kemajemukan

38
×

Moderasi Beragama Berbasis Nilai Islam Melayu, Ilham: Teguh Bersyariat, Moderat dalam Kemajemukan

Sebarkan artikel ini
Example 468x60

BERITAOPINI.ID PALEMBANG, SUMSEL | Ketua Lembaga Seni Budaya Muslimin Indonesia (Lesbumi) PWNU Sumatera Selatan, Kgs. M. Ilham Akbar, S.H., M.H., menegaskan bahwa nilai-nilai Islam Melayu, khususnya di Palembang, memiliki landasan kuat dalam membangun moderasi beragama, toleransi, dan keharmonisan di tengah masyarakat majemuk. Prinsip “adat dipangku, syariat dijunjung” menjadi salah satu cerminan kearifan lokal yang mempertemukan nilai keislaman dengan penghormatan terhadap adat dan kehidupan sosial.

Hal tersebut disampaikannya saat menjadi narasumber dalam Seminar Nasional bertema “Moderasi Beragama Berbasis Nilai-nilai Islam Melayu: Membentuk Mahasiswa FITK yang Moderat, Toleran, dan Berkarakter” yang diselenggarakan Fakultas Ilmu Tarbiyah dan Keguruan (FITK) UIN Raden Fatah Palembang, Rabu (14/10/2026), di Gedung Academic Center Kampus Jenderal Sudirman, Palembang. Kegiatan tersebut diikuti sekitar 1.200 mahasiswa baru FITK angkatan 2026 serta perwakilan mahasiswa dari sejumlah perguruan tinggi.

Dalam pemaparannya, Ilham menjelaskan bahwa moderasi beragama bukan berarti melemahkan keyakinan atau mengurangi ketaatan terhadap ajaran agama. Sebaliknya, moderasi merupakan sikap menjalankan agama secara teguh, adil, dan bijaksana, sekaligus menghormati hak orang lain dalam kehidupan bermasyarakat.

“Teguh bersyariat bukan berarti menutup diri dari keberagaman. Kita dapat berpegang teguh pada ajaran Islam, menjalankan syariat dengan penuh keyakinan, tetapi tetap santun, adil, dan menghormati orang lain yang berbeda. Inilah esensi moderasi beragama yang perlu kita rawat dalam kehidupan masyarakat Melayu Palembang,” ungkap Ilham.

Menurutnya, masyarakat Melayu, khususnya Palembang, memiliki khazanah budaya yang menjunjung tinggi kesantunan, penghormatan terhadap sesama, serta keseimbangan antara agama dan adat. Prinsip “adat dipangku, syariat dijunjung” tidak hanya menggambarkan identitas budaya, tetapi juga mengandung pesan tentang pentingnya menempatkan nilai agama dan kearifan lokal secara harmonis dalam kehidupan sosial.

Ilham memandang bahwa sejarah dan tradisi masyarakat Palembang menyimpan pelajaran penting tentang bagaimana kehidupan yang majemuk dapat dirawat melalui sikap saling menghormati. Keberagaman suku, budaya, tradisi, dan keyakinan merupakan kenyataan sosial yang membutuhkan kedewasaan dalam bersikap, bukan alasan untuk membangun permusuhan.

“Palembang memiliki tradisi keterbukaan dan perjumpaan berbagai kelompok masyarakat. Nilai-nilai ini menjadi modal sosial untuk merawat kerukunan. Kita harus mampu membedakan antara keteguhan dalam akidah dan sikap terhadap sesama. Keyakinan harus dijaga, sementara hubungan kemanusiaan harus dibangun di atas penghormatan, keadilan, dan persaudaraan,” jelasnya.

Ia menambahkan bahwa nilai-nilai Islam Melayu perlu terus digali dan diaktualisasikan agar tidak berhenti sebagai warisan masa lalu. Kebudayaan harus menjadi ruang pendidikan yang menanamkan karakter religius, santun, toleran, dan bertanggung jawab kepada generasi muda.

Dalam konteks pendidikan tinggi, Ilham menekankan posisi strategis mahasiswa Fakultas Ilmu Tarbiyah dan Keguruan sebagai calon pendidik dan pembentuk karakter generasi bangsa. Menurutnya, seorang pendidik tidak cukup hanya menguasai ilmu pengetahuan, tetapi juga harus memiliki keluasan wawasan, kematangan sikap, serta kemampuan memberikan keteladanan dalam menghadapi perbedaan.

“Mahasiswa, terutama calon guru, adalah agen perubahan sekaligus calon pembentuk karakter generasi mendatang. Mereka harus menjadi pribadi yang kuat dalam prinsip, luas dalam wawasan, santun dalam perkataan, dan bijaksana dalam tindakan. Jangan sampai perbedaan menjadi alasan untuk merendahkan orang lain, apalagi memecah belah persaudaraan,” tegasnya.

Ilham berharap moderasi beragama berbasis nilai Islam Melayu dapat menjadi pendekatan yang kontekstual dalam membangun karakter mahasiswa. Dengan menggali kearifan lokal, generasi muda diharapkan mampu memahami bahwa menjadi muslim yang taat, warga negara yang bertanggung jawab, dan bagian dari masyarakat majemuk bukanlah sesuatu yang saling bertentangan.

Seminar nasional tersebut juga menghadirkan pakar pendidikan Dr. Rohmadi, M.Pd., serta dibuka secara resmi oleh Wakil Rektor I UIN Raden Fatah Palembang, Prof. Dr. Munir, M.Ag., yang hadir mewakili rektor. Dalam sambutannya, Prof. Munir turut menekankan pentingnya adab, keberkahan ilmu, serta pengamalan nilai moderasi beragama dalam kehidupan sehari-hari.

Melalui forum akademik tersebut, Ilham berharap nilai-nilai Islam Melayu Palembang semakin mendapat tempat dalam pengembangan wacana moderasi beragama di Indonesia. Baginya, merawat tradisi bukan sekadar mengenang masa lalu, melainkan mengambil nilai-nilai luhur yang relevan untuk menjawab tantangan zaman.

“Kita harus mampu menjaga agama tanpa kehilangan rasa kemanusiaan, merawat adat tanpa meninggalkan syariat, serta menyikapi kemajemukan tanpa kehilangan jati diri. Itulah semangat Islam Melayu yang perlu diwariskan kepada generasi mendatang: teguh bersyariat, moderat dalam kemajemukan,” pungkasnya.

Example 300250 Example 468x60

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Example 468x60