Example floating
Example floating
Example 468x60 Example 468x60
BeritaHeadlineJawa TengahKabupaten Batang

Pimpin Upacara Hari Santri Nasional di Tersono, Bupati Batang Dorong Santri Adaptif Teknologi Tanpa Tinggalkan Nilai Pesantren

33
×

Pimpin Upacara Hari Santri Nasional di Tersono, Bupati Batang Dorong Santri Adaptif Teknologi Tanpa Tinggalkan Nilai Pesantren

Sebarkan artikel ini
Example 468x60

BERITAOPINI.ID BATANG, JAWA TENGAH | Ribuan peserta dari berbagai kalangan, mulai dari santri, pelajar, pengasuh pondok pesantren, hingga masyarakat umum, mengikuti upacara peringatan Hari Santri Nasional (HSN) di Stadion Mini Tersono, Kecamatan Tersono, Kabupaten Batang, Kamis (22/10/2026).

Bupati Batang, M. Faiz Kurniawan, S.H., M.H., bertindak sebagai inspektur upacara sekaligus mengajak para santri untuk terus mengembangkan kemampuan diri dalam menghadapi tantangan zaman tanpa meninggalkan nilai-nilai keislaman dan tradisi pesantren.

Dalam amanatnya, Bupati Batang menyampaikan bahwa peringatan Hari Santri Nasional yang diperingati setiap 22 Oktober menjadi momentum untuk mengenang perjuangan para ulama dan santri dalam merebut serta mempertahankan kemerdekaan Indonesia.

“Kami berharap pondok pesantren bisa semakin baik dalam menjalankan tiga tugas utamanya, yakni pendidikan, dakwah, dan pemberdayaan masyarakat,” ujar Faiz.

Usai pelaksanaan upacara, Faiz menegaskan bahwa santri memiliki peluang besar untuk berkontribusi dalam berbagai bidang kehidupan. Menurutnya, tantangan global menuntut santri tidak hanya memiliki pemahaman agama yang kuat, tetapi juga mampu mengikuti perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi. Meski demikian, nilai-nilai keislaman dan ajaran Ahlussunnah wal Jamaah (Aswaja) harus tetap menjadi landasan utama.

“Pertama, santri harus tetap meneguhkan nilai-nilai keislaman dan nilai-nilai keaswajaan yang telah tumbuh dari dulu sampai sekarang. Kedua, harus adaptif terhadap perubahan dan kemajuan teknologi. Sehingga ke depan santri bisa tumbuh menjadi pribadi-pribadi yang maju,” ungkapnya.

Faiz menjelaskan bahwa pendidikan pesantren tidak membatasi santri untuk menekuni profesi tertentu. Sebaliknya, bekal ilmu agama dan karakter yang diperoleh selama menempuh pendidikan di pesantren dapat menjadi modal penting untuk berkiprah di berbagai sektor, termasuk pendidikan, kesehatan, pemerintahan, hingga kepemimpinan nasional.

“Mereka bisa tumbuh menjadi seorang pendidik, menjadi dokter, bahkan mungkin ketua DPRD, kepala daerah, atau pemimpin bangsa. Tetapi mereka tetap memegang nilai-nilai keislaman dan nilai-nilai luhur yang diwariskan dari pesantren dari tahun ke tahun,” jelasnya.

Terkait dukungan pemerintah daerah, Faiz menyampaikan bahwa Pemerintah Kabupaten Batang bersama DPRD telah menyetujui penganggaran untuk meningkatkan kesejahteraan para ustaz atau asatiz yang mengajar di lingkungan pendidikan keagamaan. Dukungan tersebut mencakup tunjangan, jaminan hari tua, serta jaminan keselamatan kerja sebagai bentuk perhatian terhadap tenaga pendidik yang berperan dalam mencetak generasi santri.

“Sekarang para ustadz sudah mulai mendapatkan tunjangan, jaminan hari tua, serta jaminan keselamatan kerja. Supaya ustadz-ustadz yang mengajar para santri bisa lebih fokus dan bisa mentransfer ilmunya kepada para santri dengan lebih baik, dengan kesejahteraan yang semakin meningkat,” terangnya.

Selain peningkatan kesejahteraan tenaga pendidik, Pemkab Batang juga tengah menyiapkan sejumlah program pengembangan keterampilan bagi santri. Di antaranya pelatihan kewirausahaan, pelibatan dalam program-program pemerintah daerah, serta bimbingan belajar untuk mempersiapkan santri melanjutkan pendidikan ke perguruan tinggi negeri.

“Kita juga sekarang sedang merancang program untuk pelatihan entrepreneur kepada para santri. Termasuk kita libatkan dalam program-program daerah, bimbingan belajar persiapan masuk ke perguruan tinggi negeri, dan peningkatan skill lainnya,” katanya.

Di sisi lain, Faiz mengakui bahwa perkembangan teknologi dan perubahan pola kehidupan masyarakat menjadi tantangan tersendiri bagi dunia pesantren. Menurutnya, diperlukan pendekatan yang tepat untuk mempertemukan sistem pendidikan pesantren tradisional yang berakar pada pengajian kitab kuning dengan kebutuhan kompetensi generasi muda di era digital.

“Memang ini tantangan yang luar biasa. Saya harus akui bahwa ini membutuhkan penyesuaian, bagaimana menyeimbangkan antara warisan tradisi pesantren klasik, tradisi pesantren yang dulu bandongan, yang berakar pada kitab-kitab kuning, dengan tantangan ke depan dan tantangan kecepatan perubahan,” tuturnya.

Faiz menilai bahwa proses penyesuaian tersebut tidak dapat dilakukan secara instan. Diperlukan perencanaan yang matang agar modernisasi pendidikan pesantren tidak justru menghilangkan kekayaan keilmuan Islam yang telah diwariskan secara turun-temurun.

Melalui momentum Hari Santri Nasional, Pemerintah Kabupaten Batang berharap pondok pesantren dapat terus memperkuat perannya sebagai pusat pendidikan agama sekaligus pemberdayaan masyarakat.

Example 300250 Example 468x60

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Example 468x60