BERITAOPINI.ID JAKARTA | Salah satu pendiri perusahaan kecerdasan buatan (AI) Anthropic, Jack Clark, menilai dunia perlu memiliki mekanisme untuk memperlambat laju perkembangan teknologi AI. Menurutnya, kemajuan AI saat ini semakin mendekati fase di mana sistem dapat berkembang secara mandiri dengan keterlibatan manusia yang semakin minim.
“Anda tentu menginginkan opsi untuk bisa melepaskan kaki dari pedal gas dan menginjak pedal rem. Saat ini industri AI ibaratnya hanya memiliki pedal gas, tanpa pedal rem,” kata Clark, seperti dikutip dari BBC.
Clark menegaskan bahwa kendali atas perkembangan AI harus tetap berada di tangan masyarakat melalui kebijakan dan regulasi pemerintah. Hal tersebut dinilai penting mengingat kemampuan AI diperkirakan akan terus meningkat dan membawa pengaruh yang semakin besar terhadap berbagai aspek kehidupan.
Ia menilai sudah saatnya masyarakat secara luas mulai memikirkan konsekuensi dari perkembangan AI dan merumuskan regulasi yang dapat memberikan rasa aman terhadap penggunaan teknologi tersebut.
“Dunia perlu merenungkan hal ini dan pada akhirnya kita harus menyusun sejumlah regulasi baru yang membuat kita merasa yakin dan aman dengan sistem-sistem ini,” ujarnya.
Clark juga mengungkapkan bahwa chatbot andalan Anthropic, Claude, saat ini beroperasi menggunakan kode yang sekitar 80 persen ditulis oleh AI itu sendiri. Ia memperkirakan angka tersebut dapat mencapai 100 persen dalam dua tahun mendatang, sebuah perkembangan yang menurutnya akan membawa dampak signifikan.
Meski demikian, Clark tidak menjelaskan secara rinci bentuk mekanisme “pedal rem” yang dimaksud. Ia justru membandingkan situasi perkembangan AI saat ini dengan masa pertumbuhan industri minyak yang pada akhirnya diikuti oleh pembentukan kebijakan dan kerangka regulasi.
“Respons masyarakat kala itu adalah merumuskan kebijakan dan kerangka regulasi masuk akal, memberi masyarakat keyakinan akan minyak beserta manfaat yang bisa diberikan ke dunia. Ini berarti Anda tidak perlu lagi mengkhawatirkan karakter dari orang-orang yang memimpin perusahaan tersebut. Itulah arah yang jelas akan kita tuju saat ini,” sebutnya.
Di sisi lain, Anthropic pada pekan ini menyambut positif perintah eksekutif terkait AI yang diterbitkan Presiden Amerika Serikat Donald Trump. Kebijakan tersebut tidak mewajibkan perusahaan AI untuk menjalani pengujian keamanan oleh pemerintah sebelum meluncurkan produknya.
Dalam lima tahun terakhir, Anthropic berkembang pesat dan kini tengah bersiap melantai di bursa saham. Perusahaan tersebut diproyeksikan menjadi salah satu startup AI pertama yang melakukan penawaran saham perdana (IPO) dengan valuasi yang diperkirakan mendekati USD 1 triliun, menjadikannya salah satu IPO paling bernilai dalam sejarah.
Clark menepis anggapan bahwa keterbukaan Anthropic dalam membahas perkembangan AI dilakukan untuk kepentingan citra perusahaan. Menurutnya, perusahaan hanya ingin memberikan gambaran kepada publik mengenai perkembangan teknologi yang mereka saksikan secara langsung.
Sejak didirikan oleh Dario Amodei, Jack Clark, dan sejumlah eksekutif lainnya, Anthropic dikenal cukup vokal dalam menyoroti risiko AI. Perusahaan tersebut bahkan pernah terlibat perbedaan pandangan dengan Departemen Pertahanan Amerika Serikat terkait potensi penggunaan AI untuk pengawasan massal dan sistem persenjataan otonom.
“Saya khawatir akan nasib anak-anak saya jika kita sebagai masyarakat tidak melakukan pembicaraan serius mengenai makna dari implikasi kemajuan AI yang terus berlanjut. Ada potensi manfaat yang besar. Namun ada pula risiko-risikonya,” ungkap Clark.
Salah satu dampak yang menjadi perhatian adalah potensi gangguan terhadap perekonomian dan pasar tenaga kerja. Sejumlah perusahaan teknologi besar diketahui telah melakukan pemutusan hubungan kerja (PHK) dalam beberapa tahun terakhir, dengan meningkatnya kemampuan AI untuk mengerjakan tugas-tugas teknis sebagai salah satu faktor yang kerap disebut.
Meski demikian, Clark meyakini manusia masih memiliki keunggulan pada aspek kreativitas dan kemampuan menghasilkan ide baru. Ia menilai hingga saat ini belum terdapat bukti yang benar-benar menunjukkan bahwa AI mampu memiliki kreativitas setara manusia.
“Masih ada pertanyaan yang belum terjawab mengenai apakah sistem AI bisa benar-benar kreatif belum ada bukti nyata untuk itu saat ini,” tambahnya.


















