Example floating
Example floating
Example 468x60 Example 468x60
BeritaHeadlineKota PalembangSumatera Selatan

Kiai Lokal, Kiai Pribumi, dan Kiai Pendatang: Berbeda Asal Usul, Bersatu dalam Sanad, Bersama Membangun Peradaban Nusantara

64
×

Kiai Lokal, Kiai Pribumi, dan Kiai Pendatang: Berbeda Asal Usul, Bersatu dalam Sanad, Bersama Membangun Peradaban Nusantara

Sebarkan artikel ini
Example 468x60

BERITAOPINI.ID PALEMBANG, SUMSEL | Belakangan ini, istilah kiai lokal, kiai pribumi, dan kiai pendatang kerap menjadi perbincangan. Padahal, dalam tradisi keilmuan Islam, khususnya di lingkungan Nahdlatul Ulama, istilah-istilah tersebut sejatinya hanya menjelaskan asal-usul atau tempat pengabdian seorang ulama, bukan ukuran kemuliaan, kewibawaan, ataupun otoritas keilmuan.

Dalam pandangan Ahlussunnah wal Jamaah, seorang ulama dimuliakan karena ilmu, sanad, akhlak, ketakwaan, dan khidmahnya kepada umat, bukan karena ia lahir di suatu daerah tertentu. Oleh sebab itu, mempertentangkan kiai lokal, kiai pribumi, dan kiai pendatang justru mengaburkan warisan besar yang telah dibangun oleh para ulama selama berabad-abad.

Example 468x60

Islam telah mengajarkan fondasi persaudaraan melalui peristiwa hijrah Rasulullah SAW. Ketika kaum Muhajirin meninggalkan Makkah menuju Madinah, mereka datang bukan untuk menguasai, melainkan untuk membangun kehidupan bersama. Di sisi lain, kaum Ansar tidak memandang mereka sebagai orang asing yang mengancam kedudukannya, tetapi sebagai saudara yang harus dimuliakan. Muhajirin datang dengan ilmu, iman, dan pengorbanan. Ansar menyambut dengan kasih sayang, penghormatan, dan keikhlasan. Dari perjumpaan keduanya lahirlah masyarakat Islam yang kokoh dan menjadi fondasi lahirnya sebuah peradaban besar. Nilai inilah yang kemudian diwariskan kepada generasi-generasi setelahnya: yang datang menjaga adab, sementara yang menerima membuka pintu persaudaraan.

 

Semangat tersebut hidup dalam perjalanan dakwah Islam di Nusantara. Tradisi para ulama bukanlah tradisi mempertanyakan asal-usul, melainkan tradisi rihlah fi thalabil ’ilmi—mengembara mencari ilmu. Para santri meninggalkan kampung halaman demi berguru kepada ulama yang alim dan berakhlak. Setelah selesai menuntut ilmu, mereka kembali ke daerah asal atau mengabdi di daerah lain. Sangat lumrah apabila seorang ulama lahir di Sumatra, belajar di Jawa, melanjutkan pendidikan di Haramain, kemudian mengabdikan dirinya di Kalimantan, Sulawesi, Maluku, atau wilayah Nusantara lainnya.

 

Inilah yang menjadikan Islam Nusantara tumbuh sebagai sebuah peradaban, bukan sekadar kumpulan komunitas yang dipisahkan oleh batas-batas geografis.

 

Semangat Wali Songo juga harus dipahami dalam perspektif ini. Dakwah mereka memang berpusat di Pulau Jawa, tetapi visi mereka tidak pernah terbatas pada Jawa semata. Mereka meletakkan fondasi peradaban Islam Nusantara melalui pendidikan, pesantren, perdagangan, seni, budaya, dan pembentukan karakter masyarakat. Dari jaringan murid dan penerus mereka, dakwah Islam berkembang ke Sumatra, Kalimantan, Sulawesi, Bali, Nusa Tenggara, Maluku, Ternate, Tidore, dan berbagai wilayah lainnya. Peradaban Islam Nusantara lahir karena adanya kerja sama, saling belajar, dan saling menguatkan antarulama dari berbagai daerah.

 

Peradaban itu dibangun oleh ulama Melayu, ulama Jawa, ulama Madura, ulama Sunda, ulama Banten, ulama Betawi, ulama Aceh, ulama Banjar, ulama Bugis, ulama Minangkabau, ulama Palembang, ulama Ternate dan Tidore, serta ulama dari berbagai daerah Nusantara lainnya. Bersamaan dengan itu hadir pula ulama dari dunia Islam seperti Arab, Persia, Kurdi, India, Afrika, dan negeri-negeri lainnya yang memperkaya khazanah keilmuan Islam di Nusantara. Mereka tidak datang untuk menghapus identitas lokal, melainkan berdialog dengan budaya masyarakat sehingga Islam tumbuh sebagai agama yang damai, beradab, dan mengakar.

 

Jika ditelusuri lebih dalam, para ulama Nusantara justru dipersatukan oleh sanad keilmuan. Mereka saling berguru, saling menerima ijazah, saling meriwayatkan hadis, dan saling menyambungkan mata rantai ilmu. Tradisi pesantren mengenal sanad, bukan sekat. Yang dipertanyakan seorang santri bukanlah, “Dari mana guruku berasal?” melainkan, “Kepada siapa guruku berguru?”

 

Sejarah menjadi saksi akan hal itu. Hadratussyaikh KH. Muhammad Hasyim Asy’ari, pendiri Nahdlatul Ulama, berguru kepada Syaikhona Kholil Bangkalan, ulama besar asal Madura. Namun, murid-murid Syaikhona Kholil tidak hanya berasal dari Jawa dan Madura. Sejarah juga mencatat Kiagus Muhammad Saleh, ulama asal Palembang, yang berguru kepada Syaikhona Kholil, kemudian mengabdikan dirinya dalam perkembangan Nahdlatul Ulama di Kabupaten Banyuwangi, Jawa Timur. Kisah ini menjadi bukti bahwa pengabdian seorang ulama tidak dibatasi oleh tanah kelahirannya.

Demikian pula Syekh Nawawi al-Bantani, ulama besar asal Banten yang menjadi mahaguru di Masjidil Haram. Murid-murid beliau datang dari Aceh, Minangkabau, Palembang, Jawa, Madura, Sunda, Banjar, Bugis, Lombok, dan berbagai wilayah Nusantara lainnya. Setelah kembali ke daerah masing-masing, mereka mendirikan pesantren, melahirkan generasi ulama, dan membangun masyarakat.

Syekh Ahmad Khatib Sambas, ulama asal Kalimantan Barat, menjadi guru bagi banyak ulama Nusantara dari berbagai daerah. Syekh Muhammad Yasin bin Isa al-Fadani, ulama keturunan Minangkabau yang lahir di Makkah, memberikan sanad hadis kepada banyak ulama Indonesia tanpa membedakan asal-usul mereka. Syekh Mahfudz at-Tarmasi, ulama besar asal Tremas, Pacitan, dikenal sebagai ahli hadis terkemuka di Masjidil Haram dan menjadi guru bagi banyak tokoh ulama Nusantara.

Dari Sumatra Selatan lahir Syekh Abdusshamad al-Falimbani, ulama besar yang karya-karyanya menjadi rujukan pesantren di Nusantara dan Asia Tenggara. Dari Kalimantan lahir Syekh Muhammad Arsyad al-Banjari, pengarang Sabilal Muhtadin, yang hingga kini tetap dipelajari di berbagai pesantren. Dalam sejarah pesantren Nusantara, KH. Muhammad Hasan Besari dari Tegalsari juga dikenal sebagai salah satu mahaguru pada zamannya yang melahirkan banyak ulama dari berbagai daerah.

Semua contoh tersebut menunjukkan bahwa ulama Nusantara saling terhubung dalam satu mata rantai keilmuan. Ulama Jawa berguru kepada ulama Melayu. Ulama Melayu berguru kepada ulama Madura. Ulama Sumatra berguru kepada ulama Jawa. Ulama Kalimantan berguru kepada ulama Haramain. Mereka saling menerima sanad, saling mengijazahkan ilmu, dan saling melanjutkan perjuangan dakwah. Tidak ada batas etnis, tidak ada batas pulau, dan tidak ada batas kedaerahan dalam mencari ilmu.

Inilah wajah sejati Nahdlatul Ulama. NU tidak dibangun oleh fanatisme kedaerahan, melainkan oleh ukhuwah, sanad, adab, dan khidmah. Kekuatan NU selama satu abad lebih terletak pada kemampuannya merangkul keberagaman dalam satu ikatan Ahlussunnah wal Jamaah.

Karena itu, sudah saatnya kita menghentikan pengotak-ngotakan identitas di tengah kehidupan umat. Tidak perlu lagi mempertentangkan kiai lokal, kiai pribumi, dan kiai pendatang, karena sejarah Islam dan sejarah Nahdlatul Ulama justru dibangun oleh perjumpaan, persaudaraan, dan jaringan sanad yang melampaui batas-batas geografis.

Para ulama terdahulu tidak mewariskan fanatisme terhadap daerah, melainkan kecintaan kepada ilmu, penghormatan kepada guru, dan pengabdian kepada umat. Mereka mengembara dari satu negeri ke negeri lain, saling menerima sanad, saling mengijazahkan ilmu, lalu kembali mengabdi di mana pun Allah menakdirkan mereka berada. Mereka memahami bahwa ilmu adalah milik umat, bukan milik suatu daerah.

Karena itu, siapa pun yang datang hendaknya mengamalkan falsafah “Di mana bumi dipijak, di situ langit dijunjung.” Menghormati adat, budaya, ulama, dan masyarakat tempat ia berkhidmah. Sebaliknya, masyarakat hendaknya meneladani kaum Ansar, yang menyambut Muhajirin dengan kasih sayang, penghormatan, dan persaudaraan. Ketika adab dari yang datang bertemu dengan kelapangan hati dari yang menerima, lahirlah harmoni yang melahirkan peradaban.

Pada akhirnya, sejarah tidak pernah mengingat seorang ulama karena ia lahir di mana, melainkan karena ilmu yang diajarkannya, sanad yang diwariskannya, akhlak yang diteladankannya, serta peradaban yang dibangunnya. Peradaban Islam Nusantara tidak lahir dari persaingan antara ulama lokal dan ulama pendatang, tetapi dari persaudaraan para ulama yang dipersatukan oleh ilmu, sanad, dan cita-cita besar untuk menghadirkan rahmat bagi seluruh alam.

Selama sanad tetap dijaga, adab tetap ditegakkan, dan ukhuwah tetap dirawat, maka perbedaan tanah kelahiran tidak akan pernah menjadi penghalang. Sebaliknya, ia akan menjadi mozaik indah yang menyempurnakan bangunan besar peradaban Islam Nusantara dan Nahdlatul Ulama. Sebab, dalam tradisi NU, yang diwariskan bukanlah identitas kedaerahan, melainkan sanad keilmuan, akhlak, dan khidmah yang terus menyambung dari generasi ke generasi.

Kgs.M Ilham Akbar (Ketua Lembaga Seni & Budaya Muslimin Indonesia PWNU Sumatera Selatan & Sekretaris MDS Rijalul Ansor Sumatera Selatan)

Example 300250 Example 468x60

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Example 468x60