BERITAOPINI.ID SURAKARTA, JAWA TENGAH | Informasimengenai tutupnya pusat grosir terbesar di Surakarta mengundang banya tanya. Di laman media sosial, banyak tersebar potongan video pendek yang menampilkan para pedagang PGS mengemasi barangnya. Mereka berjabat tangan satu sama lain pedagang untuk mengucapkan salam perpisahan.(07/08/2026).
Di balik perpisahan itu mengundang tanya, salah satunya di laman facebook. Beberapa akun menanggapi dengan perasaan pesimis. Ia menilai ditutupnya PGS dikaitkan dengan permasalahan republic kiwari yang mengyinggung terkait perekonomian dan permasalahan kini.
Mafhum, informasi itu membuat situasi semakin keruh. Melalui pengamatan Beritaopini.id, sejak 04 Agustus 2026, lorong-lorong PGS sudah senyap. Hal tersebut diakibatkan oleh permasalahan tata Kelola PT Putera Griya Sentosa yang mengalami pailit oleh Pengadilan Niaga Pengadilan Negeri Semarang.
Bachtiar Ibnu Fazil selaku menejer PGS membenarkan informasi itu. Menurutnya penutupan PGS diakibatkan silang-sengkarut investasi. Sebuah keputusan bertanda Pengadilan Niaga Semarang Nomor: 06/Pdt Sus-PKPU/2023/PN Niaga Smg Pengadilan Niaga pada Pengadilan Negeri Semarang pada (26/02/2024), mengakhiri eksistensi PGS dalam kancah ekonomi grosir Solo.
Menyikapi hal tersebut, Walikota Surakarta Respati Ardi mengajak para pedagang PGS untuk mengisi ruko-ruko milik pemerintah Surakarta yang masih kosong. Pasar Klewer, Pasar Singosaren menjadi opsi Walikota Surakarta untuk ditempati eks pedagang PGS.
Meski demikian, tawaran mulia itu agaknya masih membuat gundah. Kendati penjualan grosir itu telah berlangsung belasan tahun lamanya, kesadaran tempat dan produk berimbas kepada pembeli. Menyikapi masalah demikian, Respati juga menandaskan program Rumah Siap Kerja untuk mengatasi kemungkinan terburuk dalam perekonomian kita kiwari.

















