Example floating
Example floating
Example 468x60 Example 468x60
BeritaHeadlineKab. Nagan RayaProvinsi Aceh

Daerah Bertumbuh, Generasi Bertanya: Di Mana Rumah Pendidikan Kami?

54
×

Daerah Bertumbuh, Generasi Bertanya: Di Mana Rumah Pendidikan Kami?

Sebarkan artikel ini
Example 468x60

BERITAOPINI.ID NAGAN RAYA, ACEH | Sebagai anak muda yang lahir dan tumbuh di Nagan Raya, tentu ada rasa bangga melihat daerah ini berkembang begitu pesat. Kabupaten yang baru dimekarkan pada tahun 2002 ini perlahan menjelma menjadi salah satu daerah yang diperhitungkan di Aceh. Perekonomian tumbuh, infrastruktur terus berbenah, sektor perkebunan berkembang, investasi semakin diminati, dan berbagai potensi lainnya terus bergerak.

Bahkan, Nagan Raya kini menjadi salah satu daerah dengan Pendapatan Asli Daerah (PAD) terbesar di Aceh setelah Banda Aceh. Bagi kami sebagai putra daerah, capaian tersebut tentu bukan sekadar angka. Ia adalah kebanggaan sekaligus bukti bahwa Nagan Raya memiliki potensi besar untuk terus tumbuh dan maju.

Namun, di tengah berbagai kemajuan tersebut, ada satu hal yang membuat kami gelisah: Yakni PENDIDIKAN.

Nagan Raya sebenarnya tidak kekurangan sumber daya manusia. Orang-orang Nagan Raya tersebar di berbagai daerah dan mengisi beragam sektor, termasuk sektor pendidikan. Banyak putra-putri Nagan yang justru menjadi tenaga pendidik, akademisi, profesional, dan penggerak pembangunan di luar daerah, khususnya di wilayah ibu kota provinsi.

Pertanyaannya kemudian: mengapa potensi sebesar itu belum sepenuhnya memiliki ruang untuk tumbuh di tanah kelahirannya sendiri?

Kegelisahan kami bukan tentang tidak adanya generasi yang potensial. Justru sebaliknya, Nagan Raya memiliki begitu banyak anak muda yang cerdas, kreatif, dan memiliki semangat untuk berkembang. Persoalannya adalah bagaimana keseriusan pemerintah, tokoh masyarakat, dunia usaha, dan seluruh elemen masyarakat dalam menciptakan ekosistem pendidikan yang mampu menjaga dan mengembangkan potensi tersebut.

Hari ini, tidak sedikit masyarakat Nagan Raya yang rela mengeluarkan biaya yang tidak sedikit demi pendidikan anak-anaknya. Mereka mengirim anaknya keluar daerah untuk mendapatkan pendidikan.

yang dianggap lebih baik dan lebih menjanjikan.

Tentu kita patut bertanya: mengapa harus keluar Nagan?

Jika masyarakat harus terus-menerus mengirim anak-anaknya ke luar daerah untuk mendapatkan pendidikan yang berkualitas, bukankah itu menjadi tanda bahwa masih ada pekerjaan besar yang harus kita selesaikan di rumah sendiri?

Kita tidak sedang mengatakan bahwa pendidikan di luar daerah tidak penting. Menimba ilmu ke berbagai tempat tentu merupakan sesuatu yang baik. Namun, akan jauh lebih baik apabila suatu hari nanti Nagan Raya memiliki lembaga dan ekosistem pendidikan yang maju, unggul, dan mampu menjadi tempat bagi generasinya sendiri untuk belajar, bertumbuh, berprestasi, sekaligus kembali membangun daerah.

Sebab pembangunan tidak boleh hanya berhenti pada apa yang mengisi perut, tetapi juga harus memikirkan apa yang mengisi otak.

Kita tentu membutuhkan jalan yang baik, perkebunan yang produktif, investasi yang besar, pusat-pusat ekonomi yang berkembang, dan berbagai pembangunan fisik lainnya. Tetapi kita juga membutuhkan manusia-manusia berkualitas yang kelak akan mengelola semua itu. Infrastruktur yang megah tidak akan memiliki arti maksimal apabila tidak ditopang oleh generasi yang berpendidikan, berkarakter, dan memiliki kapasitas untuk mengelolanya.

Lalu, sampai kapan fenomena ini akan kita biarkan?

Apakah kita hanya akan sibuk membangun sektor-sektor yang menghasilkan angka dan keuntungan ekonomi, sementara pembangunan manusia kita letakkan sebagai urusan berikutnya?

Bagi kami, ini bukan semata-mata tugas pemerintah. Ini adalah tugas kita bersama.

Di tengah kegelisahan ini, pembangunan Sekolah Rakyat di Nagan Raya tentu patut diapresiasi sebagai langkah positif. Namun, sekolah bukan sekadar bangunan; yang lebih penting adalah bagaimana ia menjadi bagian dari ekosistem pendidikan yang mampu melahirkan generasi unggul dan berdaya saing. Membangun sekolah adalah awal, membangun manusianya adalah tujuan.

Sebagai anak muda yang bergelut di bidang pendidikan, kami merasa perlu mengambil bagian dalam menyuarakan kegelisahan ini. Bukan karena kami merasa paling tahu, tetapi karena kami percaya bahwa perubahan selalu membutuhkan orang-orang yang berani memulai pembicaraan.

Kekayaan yang paling abadi bukan hanya tentang berapa banyak nominal yang mampu kita hasilkan hari ini, tetapi tentang seberapa besar kekayaan itu mampu kita investasikan untuk masa depan—terutama untuk membangun manusia.

Sebagaimana sebuah kalimat yang pernah kami dengar dari Wakil Direktur Pascasarjana kampus kami di Sumatra Barat:

“Investasi terbaik adalah investasi leher ke atas.”

Kalimat sederhana, tetapi memiliki makna yang sangat dalam. Sebab investasi pada pendidikan mungkin tidak selalu memberikan hasil secara instan. Namun, dari sanalah lahir manusia-manusia yang kelak mampu menciptakan perubahan, menggerakkan ekonomi, membangun daerah, dan menjaga masa depan.

Karena itu, barangkali sudah waktunya kita bertanya kembali: jika Nagan Raya ingin menjadi daerah yang besar, apakah kita sudah cukup serius membesarkan manusianya?

Semoga kegelisahan ini tidak berhenti sebagai tulisan. Semoga ia menjadi bahan renungan, diskusi, dan ikhtiar bersama untuk menghadirkan masa depan pendidikan yang lebih baik di Nagan Raya.

Sebab membangun daerah bukan hanya tentang membangun tempat untuk manusia hidup, tetapi juga membangun manusia yang mampu membuat daerah itu terus hidup dan berkembang.

Muhammad Aulia

Mahasiswa Pascasarjana UIN Mahmud Yunus Batusangkar, Sumatera Barat

Example 300250 Example 468x60

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Example 468x60