Example floating
Example floating
Example 468x60 Example 468x60
BeritaHeadlineJawa TengahKabupaten Batang

34 Warga Rowobelang Diduga Keracunan Usai Konsumsi PMT Posyandu

13
×

34 Warga Rowobelang Diduga Keracunan Usai Konsumsi PMT Posyandu

Sebarkan artikel ini
Example 468x60

BERITAOPINI.ID, BATANG, JAWA TENGAH | Sebanyak 34 warga Desa Rowobelang, Kecamatan Batang, Kabupaten Batang, mengalami gangguan kesehatan yang diduga akibat keracunan setelah menyantap Pemberian Makanan Tambahan (PMT) dalam kegiatan Posyandu Mawar di Dukuh Rowosoko, Senin (21/9/2026) sore. Warga yang terdampak berasal dari kelompok lansia hingga balita dengan keluhan antara lain mual, diare dan pusing.

Dugaan keracunan terjadi setelah kegiatan Posyandu Mawar yang melayani warga RT 1 dan RT 2, RW 2. Camat Batang Luksono Pramudito mengatakan, keluhan muncul setelah peserta mengikuti kegiatan dan menerima PMT yang dibagikan oleh kader kesehatan desa.

“Memang ada indikasi keracunan di Desa Rowobelang ini, tepatnya di Posyandu Mawar RT 1, RT 2, RW 2, Dukuh Rowosoko. Indikasi keracunan ketika pembagian PMT, baik itu Posyandu Lansia maupun Posyandu Balita,” kata Luksono kepada Tribunjateng, Selasa (22/9/2026).

Menurut Luksono, Posyandu awalnya dijadwalkan berlangsung pada Senin pagi. Namun, kegiatan terpaksa ditunda hingga sore karena pada pagi hari terdapat warga setempat yang meninggal dunia. Sementara itu, makanan yang akan dibagikan sebagai PMT telah dimasak sejak pagi.

“Pelaksanaan Posyandu itu harusnya pagi. Karena pagi itu ada warga yang meninggal, akhirnya Posyandu diundur pada sore harinya. Sedangkan PMT itu sudah dimasak di pagi hari,” jelasnya.

Dalam kegiatan tersebut, peserta mendapatkan sejumlah jenis makanan, di antaranya kacang hijau, tahu bacem dan roti tawar. Meski demikian, pemerintah belum dapat memastikan apakah salah satu makanan tersebut menjadi penyebab munculnya keluhan pada puluhan warga.

“Kita kurang tahu apakah kacang ijonya, apakah tahu bacemnya, apakah roti tawarnya,” ungkapnya.

Keluhan kesehatan mulai diketahui pada Senin malam. Sekitar pukul 21.00 WIB, seorang warga mendatangi Rumah Sakit Kalisari Batang secara mandiri untuk mendapatkan pemeriksaan. Pada awalnya, kondisi tersebut belum diketahui berkaitan dengan PMT Posyandu. Setelah dilakukan penelusuran, ditemukan warga lain yang mengalami gejala serupa.

“Malamnya, karena Posyandunya Senin sore. Sekitar jam 9 ada warga datang sendiri ke Kalisari. Karena saat itu belum tahu, ternyata banyak yang mengalami gejala yang sama,” ujarnya.

Berdasarkan pendataan terhadap peserta Posyandu, jumlah warga yang mengalami keluhan kemudian tercatat sebanyak 34 orang. Mereka mengalami gejala dengan tingkat kondisi yang berbeda-beda.

“Sebagian warga mau diangkut langsung ke UGD di Rumah Sakit Kalisari, sebagian ditangani di Musala Al-Ikhlas ini sama Puskesmas Batang 3,” terangnya.

Tidak semua warga yang mengalami keluhan bersedia dibawa ke rumah sakit. Menurut Luksono, beberapa warga dengan gejala ringan memilih menjalani pemeriksaan dan penanganan medis di lokasi.

“Bagi yang ringan-ringan, karena ada sebagian warga yang juga tidak mau dibawa ke rumah sakit,” tuturnya.

Petugas juga melakukan penyisiran dan penjemputan terhadap warga yang diketahui mengalami gejala tetapi sebelumnya belum melaporkan kondisi mereka. Langkah tersebut dilakukan untuk memastikan seluruh warga terdampak mendapatkan pemeriksaan kesehatan.

“Karena ada warga yang tidak langsung melaporkan, kami jemput,” ucapnya.

Selain menangani warga, petugas mengambil sampel sejumlah makanan yang dibagikan saat Posyandu. Penanganan melibatkan pemerintah kecamatan, pemerintah desa, kepolisian, Dinas Kesehatan, Puskesmas serta pihak rumah sakit untuk memastikan kondisi warga sekaligus menelusuri penyebab kejadian.

“Begitu kita mendapat laporan, baik itu dari Polsek, Kecamatan, Pemerintah Desa, dari Dinkes, bahkan dari Ibu Direktur Rumah Sakit sendiri Kalisari, semuanya turun tangan dan mengambil sampel,” ucapnya.

Sampel makanan tersebut selanjutnya diserahkan kepada Dinas Kesehatan Kabupaten Batang untuk menjalani pemeriksaan. Hasil pemeriksaan diperlukan sebelum pemerintah dapat memastikan penyebab gangguan kesehatan yang dialami puluhan warga.

Sementara terkait rincian jumlah korban berdasarkan kelompok usia, termasuk berapa lansia dan balita yang mengalami keluhan, pihak kecamatan belum menyampaikan angka secara terperinci. Luksono mengatakan data tersebut lebih tepat disampaikan tenaga kesehatan agar tidak terjadi kekeliruan informasi.

“Nanti datanya bisa ditanyakan ke Nakes. Saya kurang valid nanti data saya,” tutupnya.

Hingga penanganan berlangsung, penyebab pasti keluhan yang dialami 34 warga tersebut belum dapat disimpulkan dan masih menunggu hasil pemeriksaan sampel makanan. Beberapa warga masih menjalani penanganan medis di rumah sakit, sementara sekitar empat orang dilaporkan telah diperbolehkan pulang ke rumah. Pemerintah desa, kecamatan dan tenaga kesehatan masih memprioritaskan pemantauan kondisi warga serta pemeriksaan lebih lanjut untuk memastikan penyebab kejadian tersebut.

Example 300250 Example 468x60

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Example 468x60