Example floating
Example floating
Example 468x60 Example 468x60
BeritaHeadlineJawa TengahKabupaten Batang

Hasil Uji Laboratorium Ungkap Cemaran Mikroba pada MBG di Bawang

25
×

Hasil Uji Laboratorium Ungkap Cemaran Mikroba pada MBG di Bawang

Sebarkan artikel ini
Example 468x60

BERITAOPINI.ID, BATANG, JAWA TENGAH | Dinas Kesehatan (Dinkes) Kabupaten Batang menemukan adanya cemaran mikroba dalam sampel makanan program Makan Bergizi Gratis (MBG) yang berkaitan dengan dugaan keracunan massal di Kecamatan Bawang. Temuan tersebut diperoleh melalui pemeriksaan laboratorium setelah 717 orang dilaporkan mengalami gejala keracunan usai mengonsumsi makanan MBG pada 23 September 2026.

Kepala Dinkes Kabupaten Batang, dr. Ida Susilaksmi, mengatakan hasil pemeriksaan terhadap sejumlah sampel menunjukkan adanya pertumbuhan mikroba. Pengujian dilakukan terhadap makanan serta sampel biologis penderita untuk membantu mengidentifikasi faktor yang berkaitan dengan munculnya keluhan kesehatan secara massal.

“Untuk makanan sampel ini ditemukan adanya mikroba ya, makanan sampel. Kemudian di feses dan di muntahan juga ada… Kalau di muntahan enggak ada, di muntahan enggak ditemukan, di feses ada,” ujar Ida, Jumat (9/10/2026).

Meski ditemukan cemaran mikroba, Dinkes Batang belum dapat memastikan jenis makanan yang menjadi sumber utama dugaan keracunan. Hal ini disebabkan keterbatasan sampel yang diperiksa, yakni makanan yang tersimpan di bank sampel Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG), bukan makanan yang telah diterima dan dikonsumsi para penerima manfaat di sekolah.

 

“Jadi kelemahannya itu begini lho… Karena sampelnya itu kan sampel yang di bank sampel ya, kami tidak mendapatkan yang… yang begitu diterima oleh penerima manfaat. Misalnya begitu sampai di sekolah kondisinya seperti apa. Jadi kalau mau ditanya ini penyebabnya apa sih, ya kita gak bisa menyimpulkan ini penyebabnya apa,” jelasnya.

Adapun sejumlah menu yang menjadi objek pemeriksaan laboratorium meliputi nasi putih, telur bolognese, cah sayur, tahu goreng tepung, dan buah anggur. Selain makanan, petugas juga mengambil sampel air bersih serta air yang digunakan untuk mencuci wadah makanan atau ompreng guna menelusuri kemungkinan sumber kontaminasi.

Kepala Seksi Surveilans Dinkes Batang, Nisa, menjelaskan bahwa cemaran mikroba pada makanan dapat dipengaruhi berbagai faktor, mulai dari proses pengolahan yang kurang higienis hingga penanganan makanan selama distribusi. Mikroba yang awalnya terdapat dalam jumlah kecil berpotensi berkembang apabila makanan berada pada kondisi suhu dan waktu penyimpanan yang mendukung pertumbuhannya.

“Awalnya dari proses pemasakan. Dari proses pemasakan mungkin yang kurang matang, nggih, atau kurang higienis gitu bisa. Nah, terus dalam waktu rentang beberapa jam, itu kan mikroba itu tumbuhnya suhu… suhu sekitar 5 sampai 7 derajat. Nah, itu kan ketika ompleng ditutup dengan suhu tersebut, apabila di masakannya itu ada cemaran yang awalnya itu posisinya tidak banyak dan aman dikonsumsi, nah ketika di proses distribusi akhirnya tumbuh mikroba tersebut,” terang Nisa.

Menurutnya, proses distribusi menjadi salah satu tahapan yang perlu mendapat perhatian dalam menjaga keamanan pangan. Makanan yang telah dimasak tetap berisiko mengalami peningkatan jumlah mikroba apabila penanganan, penyimpanan, maupun waktu pengirimannya tidak memenuhi standar keamanan pangan.

Dari hasil investigasi epidemiologi, Dinkes juga menemukan keterkaitan antara gejala yang dialami para penderita dan hasil pemeriksaan laboratorium. Ratusan penerima manfaat mengalami keluhan kesehatan dalam rentang waktu yang berdekatan, sementara pemeriksaan sampel feses menunjukkan adanya mikroba. Sejumlah penderita sebelumnya mendapatkan penanganan di Puskesmas Bawang, RSUD Limpung, dan RSUD Kalisari.

 

“Untuk orang-orang yang mengalami gejala, nggih, yang secara bersama dalam kurun waktu juga yang hampir bersamaan seperti itu, dari hasil laboratoriumnya itu ada cemaran mikroba… Jadi di fesesnya itu kan ada positif mikrobanya… Ya kalau istilah awam kan biasanya keracunan gitu ya,” ungkap Nisa.

 

Menindaklanjuti temuan tersebut, Dinkes Batang menekankan pentingnya pengawasan keamanan pangan secara menyeluruh dalam pelaksanaan program MBG. Pengawasan tidak hanya dilakukan pada makanan yang telah matang, tetapi juga mencakup kualitas bahan baku, kebersihan tenaga pengolah, peralatan memasak, air yang digunakan, hingga kondisi lingkungan dapur.

“Perhatikan benar keamanan pangan. Yang namanya keamanan pangan itu baik dari sisi yang mengolah makanan, alat-alat yang dipakai untuk makanan, maupun lingkungannya, termasuk kebersihan air yang digunakan… Pengolah makanannya itu juga harus cuci tangan pakai sabun sebelum mengolah makanan, harus dalam kondisi sehat, bahan-bahan yang digunakan juga harus benar-benar bahan yang fresh,” tegas Ida.

Selain memastikan kebersihan selama proses pengolahan, Ida mengingatkan pentingnya memperhatikan jarak waktu antara makanan selesai dimasak hingga dikonsumsi. Menurutnya, beberapa jenis makanan memiliki risiko lebih tinggi mengalami kerusakan apabila dibiarkan terlalu lama, terutama makanan berkuah, bersantan, maupun olahan berbahan hewani.

“Maka intinya adalah untuk makanan-makanan yang lebih berisiko untuk lebih cepat basi, seperti yang bersantan ya, yang berkuah-berkuah itu kan secara ini kan akan lebih cepat basi, seperti yang ada makanan olahan dari hewani gitu ya. Itu sebaiknya segera dikonsumsi setelah makanan masak,” pungkasnya.

Hasil pemeriksaan laboratorium tersebut memperkuat indikasi adanya kejadian keracunan makanan yang dialami ratusan penerima manfaat MBG di Kecamatan Bawang. Kendati demikian, sumber kontaminasi secara spesifik belum dapat dipastikan karena keterbatasan sampel yang diperiksa. Temuan ini menjadi bahan evaluasi terhadap penerapan standar keamanan pangan, khususnya dalam proses pengolahan, penyimpanan, dan distribusi makanan agar kejadian serupa tidak kembali terulang.

Example 300250 Example 468x60

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Example 468x60