BERITAOPINI.ID SURABAYA |Momentum peringatan Hari Buruh Internasional atau May Day 2026 di Surabaya diwarnai dengan kegiatan diskusi publik bertajuk “Cangkru’an & Diskusi May Day Aliansi BEM Surabaya” yang diselenggarakan di Universitas Bhayangkara Surabaya pada Selasa, 28 April 2026. Kegiatan yang mengusung tema “Mahasiswa & Buruh Bersatu, Mengkritisi Ketimpangan dan Mengawal Keadilan” tersebut menjadi ruang konsolidasi antara mahasiswa, akademisi, dan elemen buruh untuk membahas berbagai persoalan ketenagakerjaan dan ketimpangan sosial yang masih terjadi di Indonesia.
Acara ini menghadirkan anggota DPRD Kota Surabaya M. Saifuddin, S.Sos., akademisi sekaligus dosen hukum Dr. Jamil, S.H., M.H., serta Syahril Romadhon dari Dewan Buruh Nasional Konfederasi KASBI sebagai narasumber. Diskusi dipantik oleh Devano Faradiska Eka Candra selaku Presiden Mahasiswa BEM Ubhara dan Nasrawi Ibnu Dahlan sebagai Koordinator Umum Aliansi BEM Surabaya, dengan moderator Viky Dwi Nurviyanto dari Universitas Muhammadiyah Surabaya.
Dalam pengantar diskusi, Devano Faradiska Eka Candra menegaskan bahwa momentum May Day bukan hanya menjadi peringatan seremonial tahunan, melainkan ruang refleksi bersama untuk melihat berbagai persoalan ketimpangan sosial dan ketenagakerjaan yang masih dirasakan masyarakat. Menurutnya, mahasiswa memiliki tanggung jawab moral untuk hadir bersama rakyat dan tidak bersikap apatis terhadap isu-isu sosial yang terjadi di sekitarnya.
Ia menyampaikan bahwa mahasiswa dan buruh sejatinya memiliki semangat perjuangan yang sama, yakni memperjuangkan keadilan dan kesejahteraan masyarakat. Oleh karena itu, ruang diskusi seperti ini penting untuk membangun kesadaran kolektif sekaligus memperkuat solidaritas antarelemen gerakan.
Sementara itu, Nasrawi Ibnu Dahlan selaku Koordinator Umum Aliansi BEM Surabaya menekankan pentingnya persatuan gerakan mahasiswa di tengah berbagai tantangan sosial dan ekonomi yang dihadapi masyarakat saat ini. Ia menilai bahwa mahasiswa tidak cukup hanya menjadi pengamat, tetapi harus mampu menjadi penggerak perubahan sosial yang nyata.
Menurutnya, mahasiswa perlu menjaga sikap kritis terhadap berbagai kebijakan yang tidak berpihak kepada rakyat, khususnya terhadap persoalan ketenagakerjaan, kesejahteraan buruh, dan akses keadilan sosial. Ia juga mengajak mahasiswa untuk terus membangun gerakan yang progresif, kolaboratif, dan dekat dengan masyarakat.
Dalam pemaparannya, Dr. Jamil menjelaskan mengenai sejarah revolusi industri dan kaitannya dengan kondisi sosial-ekonomi Indonesia saat ini. Ia menilai bahwa Indonesia tidak pernah mengalami revolusi industri sebagaimana yang terjadi di Inggris dan negara-negara Eropa. Menurutnya, revolusi industri di Inggris terjadi karena adanya perkembangan besar dalam sektor produksi dan industri yang kemudian diperluas ke berbagai negara jajahan untuk kepentingan pasar. Sementara itu, Indonesia yang dijajah Belanda justru dijadikan sebagai wilayah eksploitasi sumber daya alam tanpa adanya pembangunan industri yang kuat bagi rakyat pribumi.
“Belanda datang ke Indonesia bukan untuk membangun industri rakyat, tetapi untuk mengambil sumber daya yang kita miliki,” ujar Dr. Jamil dalam forum diskusi tersebut. Ia juga menegaskan bahwa Indonesia pada dasarnya merupakan negara welfare state atau negara kesejahteraan yang memiliki cita-cita besar untuk mensejahterakan rakyatnya. Karena itu, negara tidak boleh hanya menjadi “penjaga malam”, tetapi harus hadir secara nyata dalam menjamin kesejahteraan sosial, pendidikan, kesehatan, dan perlindungan terhadap hak-hak pekerja.
Sementara itu, M. Saifuddin menyoroti pentingnya peran mahasiswa dalam menghadapi tantangan dunia kerja dan pembangunan ekonomi di Indonesia. Menurutnya, mahasiswa tidak boleh hanya berpikir untuk mencari pekerjaan setelah lulus, melainkan harus mulai membangun pola pikir kreatif dan inovatif agar mampu membuka lapangan pekerjaan bagi masyarakat.
Ia juga mengingatkan bahwa tugas utama mahasiswa adalah belajar, membaca, dan mencari pengetahuan sebanyak mungkin selama berada di dunia kampus. Kesempatan yang dimiliki mahasiswa saat ini harus dimanfaatkan sebaik mungkin sebagai bekal untuk menghadapi tantangan sosial dan ekonomi di masa depan.
“Mahasiswa harus mampu memanfaatkan kesempatan belajar dengan baik. Cari tahu apa yang belum diketahui dan terus tingkatkan kapasitas diri,” ungkapnya.
Dari pihak buruh, Syahril Romadhon menyampaikan harapannya agar gerakan mahasiswa dapat terus menjalin kolaborasi dengan gerakan buruh dalam memperjuangkan keadilan sosial dan kesejahteraan masyarakat. Menurutnya, mahasiswa dan buruh memiliki posisi yang strategis dalam mengawal kebijakan pemerintah agar tetap berpihak kepada rakyat kecil.
Diskusi berlangsung hangat dan interaktif. Para peserta aktif menyampaikan pandangan dan pertanyaan terkait kondisi ketenagakerjaan, eksploitasi buruh, hingga tantangan generasi muda dalam menghadapi dunia kerja saat ini. Kegiatan tersebut menjadi salah satu bentuk konsolidasi gerakan mahasiswa dan buruh di Surabaya dalam menyambut May Day 2026 sekaligus memperkuat semangat kolektif untuk mengawal keadilan sosial di tengah berbagai ketimpangan yang masih terjadi di masyarakat.
















