BERITAOPINI.ID, SURAKARTA JAWA TENGAH | Cendekiawan, Budayawan, Seniman dan Spiritualis Surakarta menggelar peringatan hari kebangkitan nasional ke-118 di Tugu Lilin Surakarta pada (19/05/2026) malam. Selain itu nampak pula aktivis 98 dan trah Pakubuwana X serta Mangkunegara turut pula meramaikan kegiatan tersebut.
Kegiatan diramaikan dengan pelantunan doa yang dipimpin para spiritualis yang berasal penjuru se-Solo Raya. Sebuah dupa disumat membuat kelangsungan kegiatan begitu hikmat, menilik sejarah silam mengenai kebangkitan nasional.
Fajar selaku koordinator kegiatan tersebut mengatakan bahwak peringatan hari kebangkitan nasional ke-118 ini merupakan wadah konsolidasi dan refleksi. Selain itu, kegiatan ini sebagai kontrol sosial kepada pemerintah.
“Peringatan seratus delapan belas tahun kebangkitan nasional ini sebagai bentuk refleksi, terhadap situasi republik hari ini,” jelas Fajar.
Menurut Fajar peringatan hari kebangkitan nasional ini merupakan kehendak dari beberapa pihak; cendekiawan, budayawan, spritulis dan aktivis se-Solo Raya. “Hari kebangkitan nasional sebagai refleksi dan konsolidasi untuk bangsa kita. Selain itu, kami turur pula mwnyampaikan doa,” jelasnya.
Putra trah Pakubuwana X itu turut pula menandaskan terkait kebngkitan nasional dan kepemimpinan. Mwnurutnya kepemimpinn adalah aspek penting berbangsa dan bernegara.
“Bila pemimpin melakukan tindakan yang tidak baik, maka akan mendekap karma nya sendiri,” papar Fajar saat menjelaskan arti kejujuran pemimpin yang bakal berpengaruh kepada rakyat yang dipimpinnya.
Luki salah satu peserta dan penggagas kegiatan menandaskan kritik kepada pemerintah pusat.
“Potret paling runyam bagaimana pemimpin tidak memahami sejarah, misalnya substansi Konferensi Asia Afrika, Gerakan non blok,” jelas Luki.
Selanjutnya ia menandaskan bahwasannya pemerintah kurang begitu memahami bagaimana negeri ini kurang merefleksikan sejarah. Kendati demikian, keberadaan peringatan hari kebangkitan nasional ini, sebagai bentuk refleksi.
Saat ditanya terkait dengan subtansi kegiatan ini, Luki menandaskan bahwa peringatan hari kebangkitan nasional dimulai dari kesadaran. “Dengan peringatan hari kebangkitan nasional, kita akan sadar untuk meluruskan kebijakan-kebijakan untuk dapat dikoreksi,” jelasnya.
Mantan aktivis Sembilan Delapan itu, mengatakan bila pemerintah tidak lekas berbenah, kemungkinan rakyat yang jengah bisa saja terjadi. “Kita merasa kedaulatan kita sudah terjajah bangsa kita sendiri, elit tidak memiliki sejarah dalam menyejahterakan rakyatnya,” paparnya.
Dalam peringatan tersebut, dilangsungkan pula diskusi sejarah yang dibawa oleh mantan aktivis 98 dan budayawan membicarakan Solo, Kebangkitan Nasional dan Sikap. Selain itu pembacaan puisi bernada kritik menggema di bawah tugu lilin (baca: tugu kebangkitan nasional).
Perlu diketahui bahwa Tugu Lilin Aurakarta, didirikan oleh Pakubuwana X untuk memperingati kebngkitan nasional ke-25 pada 1933. Hingga kini tugu itu masih berdiri, mengajak kita mengingat yang silam untuk benderang di masa depan.


















