BERITAOPINI.ID ACEH BARAT| Ketua Komite SMAN 1 Meulaboh, Mahrizal, meluruskan opini dan informasi terkait pemberitaan yang menyebut biaya atribut siswa baru mencapai Rp1,9 juta per orang dan dinilai memberatkan wali murid, Rabu 20 Mei 2026.
Menurutnya, informasi yang berkembang perlu diluruskan agar tidak menimbulkan kesalahpahaman di tengah masyarakat. Ia menegaskan bahwa biaya atribut sekolah bukan merupakan pungutan atau keputusan sepihak komite dan sekolah, melainkan hasil musyawarah bersama antara pihak komite dengan wali murid siswa baru.
“Semua kebutuhan atribut dan seragam dibahas dalam rapat bersama wali murid. Jadi bukan keputusan sepihak dari sekolah ataupun komite,kita sangat memahami aturan Permendikbud no 50 tahun 2022 dan himbauan ombusman”ujar Mahrizal.
Ia menjelaskan, dalam rapat pada 12 mei 2026 tersebut yang diselenggarakan di musala SMAN 1 Meulaboh dihadiri oleh 162 orang tua siswa/wali diberikan ruang untuk menyampaikan pendapat terkait kebutuhan perlengkapan sekolah maupun nominal biaya yang disepakati bersama. Selain itu, pembayaran juga tidak bersifat wajib sekaligus atau lunas karena dapat dilakukan secara bertahap sesuai kemampuan masing-masing ekonomi keluarga.
Mahrizal juga membantah adanya unsur paksaan terhadap wali murid. Bahkan, menurutnya, pihak komite bersama sekolah hanya memfasilitasi pertemuan seluruh orangtua wali siswa baru, bahkan pihak komite selaku perakilan yang dipercaya oleh orang tua walu turut membantu beberapa siswa kurang mampu dalam penyelesaian kebutuhan seragam dan atribut sekolah sesuai dengan aturan yang berlaku.
“kita hanya memfasilitasi tidak ada itu intervensi apalagi memaksa, soal pendaftaran atau administrasi pendaftaran ulang itu sepenuhnya disekolah forum komite hanya membahas soal atribut dikarenakan sesuai aturan yang ada atribut harus seragam makanya ada pertemuan wali murid membahas hal tersebut, bahkan beberapa siswa dari keluarga kurang mampu yang kita bantu sebagai bentuk komitmen Komite dan sekolah sebagai bentuk tanggung jawab agar semua siswa tetap bisa bersekolah dengan baik,” katanya.
Hal senada disampaikan Andri, salah satu wali murid siswa baru bernama thariqatul mukasyfa. Ia membenarkan bahwa pembahasan terkait atribut sekolah dilakukan melalui rapat bersama yang melibatkan orang tua siswa secara terbuka.
“Orang tua wali siswa sepenuhnya dilibatkan dalam penetapan harga dan kebutuhan seragam penunjang sekolah. Semua dibahas bersama dalam rapat yang difasilitasi komite dan sekolah,” ujar Andri.
Ia berharap masyarakat tidak langsung menyimpulkan negatif terhadap pihak sekolah sebelum mengetahui penjelasan lengkap dari komite maupun wali murid yang ikut dalam proses musyawarah tersebut.
“bagusnya memang tabayun dulu coba konfirmasi dulu dan sepengetahuan saya yang juga hadir dalam rapat, diskusi soal penentuan biaya atribut itu sangat alot pembahasannya sampek akhirnya biaya yang disepakati seperti yang beredar, karena memang aturan atirubut seingat saya dibahas kemarin harus seragam dan sesuai aturan pihak sekolah cuman menetepkan bentuk dan batik nya kalau harga dan lainnya itu memang kami wali murid yang tentukan pihak komite dan sekolah sekedar memfasilitasi” ungkap andri orang tua wali.


















