Example floating
Example floating
Example 468x60 Example 468x60
BeritaHeadlineKota PalembangSumatera Barat

Relevansi Pledoi “Indonesia Menggugat” dan Patriotisme Aktivis di Era Demokrasi Saat Ini

28
×

Relevansi Pledoi “Indonesia Menggugat” dan Patriotisme Aktivis di Era Demokrasi Saat Ini

Sebarkan artikel ini
Example 468x60

BERITAOPINI.ID PALEMBANG, SUMSEL | Ketua DPD GMNI Sumatera Selatan menegaskan bahwa semangat perjuangan yang terkandung dalam pledoi “Indonesia Menggugat” yang disampaikan oleh Bung Karno pada tahun 1930 masih memiliki relevansi yang kuat dalam kehidupan berbangsa dan bernegara saat ini.

“Indonesia Menggugat” bukan sekadar pembelaan Bung Karno di hadapan pengadilan kolonial Belanda, melainkan sebuah kritik fundamental terhadap sistem yang melahirkan ketidakadilan, kemiskinan, dan penindasan terhadap rakyat. Bung Karno mengajarkan bahwa keberanian untuk berpihak kepada rakyat dan melawan ketidakadilan merupakan bagian dari tanggung jawab moral kaum pergerakan.

Dalam konteks Indonesia yang telah merdeka dan menganut sistem demokrasi, bentuk tantangan yang dihadapi bangsa memang berbeda dengan masa kolonial. Namun berbagai persoalan seperti ketimpangan ekonomi, praktik korupsi, dominasi oligarki, eksploitasi sumber daya alam, serta melemahnya akses masyarakat terhadap pelayanan publik yang berkualitas masih menjadi pekerjaan rumah yang harus diselesaikan bersama.

Sebagai organisasi kader ideologis yang berlandaskan ajaran Marhaenisme, GMNI memandang bahwa semangat “menggugat” yang diwariskan Bung Karno harus dimaknai sebagai keberanian untuk melakukan kritik yang konstruktif terhadap setiap kebijakan yang tidak berpihak kepada rakyat. Kritik bukanlah bentuk permusuhan terhadap negara, melainkan bagian dari kecintaan terhadap bangsa dan upaya menjaga demokrasi agar tetap berjalan sesuai cita-cita kemerdekaan.

Patriotisme aktivis pada era demokrasi tidak lagi diwujudkan melalui perjuangan mengangkat senjata melawan penjajah, tetapi melalui keberanian menjaga nilai-nilai demokrasi, mengawal konstitusi, memperjuangkan keadilan sosial, serta memastikan negara hadir untuk melindungi seluruh rakyat Indonesia.

Oleh karena itu, GMNI Sumatera Selatan berpandangan bahwa aktivis harus tetap menjadi kekuatan moral dan intelektual yang independen. Aktivis tidak boleh kehilangan daya kritisnya akibat kepentingan politik praktis maupun tarik-menarik kepentingan elite. Gerakan mahasiswa harus tetap berpijak pada kepentingan rakyat, bukan menjadi alat legitimasi kekuasaan ataupun instrumen konflik antarkelompok.

Di tengah berbagai tantangan demokrasi saat ini, mulai dari polarisasi politik, penyebaran disinformasi, hingga kecenderungan pragmatisme dalam kehidupan publik, semangat “Indonesia Menggugat” menjadi pengingat bahwa perjuangan harus dilandasi keberanian moral, integritas, dan keberpihakan kepada rakyat kecil.

Ketua DPD GMNI Sumatera Selatan menegaskan bahwa cita-cita Indonesia yang merdeka, bersatu, berdaulat, adil, dan makmur hanya dapat diwujudkan apabila seluruh elemen bangsa, termasuk mahasiswa dan kaum muda, tetap menjaga tradisi berpikir kritis serta terus mengawal jalannya demokrasi.

“Patriotisme hari ini bukanlah membenarkan seluruh tindakan penguasa, melainkan keberanian untuk mengoreksi arah bangsa ketika menyimpang dari amanat konstitusi dan cita-cita kemerdekaan. Sebagaimana Bung Karno menggugat kolonialisme karena kecintaannya kepada Indonesia, maka aktivis hari ini harus berani mengkritik setiap bentuk ketidakadilan demi menjaga masa depan bangsa.” Ucapnya.

Example 300250 Example 468x60 Example 300250

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Example 468x60