BERITAOPINI.ID JAYAPURA, PAPUA | Tim kolaborasi film Pesta Babi–Kolonialisme di Zaman Kita menyalurkan bantuan kemanusiaan senilai Rp517.928.770 kepada para pengungsi internal di Papua. Dana tersebut berasal dari sumbangan sukarela penonton selama rangkaian pemutaran film melalui kegiatan nonton bareng (nobar).
Dalam siaran pers yang diterima pada Senin (6/7), tim kolaborasi menjelaskan bahwa sejak awal penyelenggaraan nobar, hasil penjualan tiket sukarela memang diperuntukkan sebagai bentuk solidaritas bagi warga Papua yang mengungsi akibat konflik bersenjata dan operasi militer di sejumlah wilayah.
Penyaluran bantuan dilakukan melalui Sinode Gereja Kingmi di Tanah Papua. Bantuan berupa bahan makanan dan uang disalurkan kepada pengungsi di Papua Tengah dan Papua Pegunungan pada pertengahan Juni 2026.
Di Papua Tengah, bantuan diberikan kepada pengungsi di Distrik Sinak, Kabupaten Puncak, pada 16 Juni, serta kepada pengungsi di Sugapa, Kabupaten Intan Jaya, pada 18 Juni. Penyaluran dilakukan oleh Ketua Sinode Kingmi di Tanah Papua, Pdt. Yahya Lagowan, bersama sejumlah pendeta dan staf sekretariat sinode.
“Ini anak-anak Tuhan—mereka membuat film Pesta Babi dan memberi sumbangan untuk yang sedang dalam pengungsian. Mereka tidak bisa datang ke sini dan meminta kami yang datang mengantarkan bantuan kemanusiaan,” ujar Yahya Lagowan di hadapan para pengungsi di Sugapa.
Namun, proses penyaluran bantuan berlangsung di tengah situasi keamanan yang disebut masih memprihatinkan. Tim penyalur mengaku menghadapi aktivitas pesawat nirawak (drone) di sekitar lokasi pengungsian dan gereja tempat mereka menginap. Mereka juga menyebut sebuah granat meledak di sekitar lokasi warga mencuci ubi hingga melukai dua perempuan.
Mengutip catatan Komisi Nasional Hak Asasi Manusia (Komnas HAM) Papua, siaran pers tersebut menyebut sedikitnya terjadi enam rangkaian peristiwa kekerasan di Kabupaten Intan Jaya sepanjang Mei hingga Juni 2026.
Tim kolaborasi film juga mengutip data Yayasan Keadilan dan Keutuhan Manusia Papua (YKKMP) yang menyebut jumlah pengungsi internal di Tanah Papua sejak 2018 telah mencapai 122.932 jiwa. Angka tersebut disebut belum termasuk warga yang meninggal di lokasi pengungsian akibat kondisi yang terus memburuk.
Selain di Papua Tengah, bantuan juga disalurkan kepada pengungsi asal Kabupaten Nduga di sejumlah titik pengungsian di Wamena, Kabupaten Jayawijaya, serta Distrik Mbua, Kabupaten Nduga, pada 17–18 Juni 2026.
Salah satu anggota tim penyalur, Pdt. Marthen Kelya, mengatakan seluruh bantuan disampaikan sesuai amanat para penonton film.
“Kami datang dalam rangka membawa sesuai dengan apa yang mereka (penonton Pesta Babi) minta. Kami tidak tambah-tambah dan tidak kurangi, tapi sesuai yang mereka minta,” kata Marthen.
Meski bantuan telah disalurkan, tim kolaborasi menilai persoalan kemanusiaan di Papua belum berakhir. Mereka menyatakan konflik bersenjata dan operasi militer masih berlangsung di berbagai wilayah, bersamaan dengan pelaksanaan sejumlah proyek strategis nasional.
Menurut mereka, pemerintah tengah mengembangkan proyek pangan dan energi di lahan seluas sekitar 2,5 juta hektare, yang disebut mencakup wilayah adat masyarakat Papua. Kondisi tersebut, menurut tim, turut memicu penolakan dari masyarakat adat di sejumlah daerah.
Anggota tim kolaborasi film, Yuliana Lantipo, mengajak masyarakat untuk terus menunjukkan solidaritas kepada warga Papua. Ia juga menyerukan penyelesaian konflik melalui pendekatan damai.
Sementara itu, Ketua Sinode Kingmi di Tanah Papua, Pdt. Yahya Lagowan, meminta negara mengutamakan perlindungan terhadap masyarakat sipil dan mengevaluasi pendekatan keamanan dalam penyelesaian konflik di Papua.
“Militer dan moncong senjata bukan solusi. Negara perlu melindungi masyarakat sipil serta menghargai hak masyarakat adat atas tanah dan hutannya,” ujarnya.


















