BERITAOPINI.ID PALEMBANG, SUMSEL | Tidak semua turnamen sepak bola memiliki daya tarik yang sama. Final Liga Champions, Final Euro, maupun Final Copa America memang selalu menyedot perhatian jutaan penonton. Namun, Piala Dunia memiliki magnet yang berbeda. Setiap empat tahun sekali, turnamen ini mampu menyatukan perhatian miliaran orang dari berbagai belahan dunia dalam satu euforia yang sama.
Ironisnya, sejak Indonesia merdeka hingga saat ini, Tim Nasional Indonesia belum pernah tampil di putaran final Piala Dunia FIFA. Namun, kenyataan itu tidak pernah mengurangi antusiasme masyarakat Indonesia terhadap pesta sepak bola terbesar di dunia. Justru setiap penyelenggaraan Piala Dunia, jutaan rakyat Indonesia memenuhi warung kopi, halaman rumah, balai desa, hingga ruang-ruang publik untuk mengikuti setiap pertandingan. Piala Dunia telah menjelma menjadi tradisi sosial yang selalu dinantikan.
Tradisi nonton bareng (nobar) Piala Dunia selalu lebih semarak dibandingkan turnamen sepak bola lainnya. Bahkan jika dibandingkan dengan Final Liga Champions, Final Euro, maupun Final Copa America, atmosfer nobar Piala Dunia tetap memiliki daya tarik yang sulit ditandingi. Mereka yang sehari-hari tidak mengikuti sepak bola pun sering kali ikut larut dalam kemeriahan tersebut. Ketika dunia bermain, Indonesia berkumpul.
Yang menarik, sebagian besar masyarakat Indonesia justru mendukung negara-negara lain. Ada yang setia kepada Argentina, Portugal, Brasil, Prancis, Spanyol, dan berbagai negara peserta lainnya. Nama-nama seperti Lionel Messi, Cristiano Ronaldo, hingga bintang muda Lamine Yamal begitu akrab di telinga masyarakat Indonesia. Padahal, sebagian dari mereka mungkin belum pernah sekalipun menginjakkan kaki di Indonesia. Namun, jutaan penggemar di Tanah Air mengikuti perjalanan karier mereka, mengenakan jersey mereka, dan rela begadang demi menyaksikan aksi mereka di lapangan
Besarnya kecintaan masyarakat itu bahkan melahirkan guyonan yang sering terdengar di tengah obrolan para pecinta sepak bola, “Kalau Lionel Messi atau Cristiano Ronaldo maju sebagai calon presiden atau calon legislatif di Indonesia, bisa-bisa mereka menang.” Tentu saja itu hanyalah candaan. Namun, guyonan tersebut menunjukkan betapa besarnya pengaruh dan popularitas para bintang sepak bola dunia di tengah masyarakat Indonesia. Sepak bola telah melampaui batas negara, bahasa, dan budaya, menjadi bahasa universal yang mampu menyatukan manusia.
Euforia Piala Dunia juga menghadirkan sisi emosional yang unik. Tidak jarang terjadi perdebatan antarteman, antarkeluarga, bahkan antarsesama pengunjung warung kopi karena perbedaan tim favorit. Ada yang bersorak gembira ketika tim idolanya menang, ada pula yang larut dalam kesedihan ketika tim favoritnya tersingkir. Bagi sebagian orang, sepak bola bukan sekadar hiburan, melainkan ikatan emosional yang telah terbangun selama bertahun-tahun. Namun, semua emosi itu umumnya berakhir dengan senyum, tawa, dan saling berjabat tangan setelah peluit akhir dibunyikan. Inilah indahnya sportivitas.
Di balik sorak sorai pertandingan, Piala Dunia juga menghidupkan ekonomi kerakyatan. Pedagang makanan dan minuman kebanjiran pembeli, warung kopi dipenuhi pelanggan, penjual jersey dan atribut sepak bola menikmati peningkatan penjualan, sementara penyedia layar proyektor dan perlengkapan audio ikut merasakan manfaatnya. Perputaran ekonomi terjadi hingga ke tingkat akar rumput, menjadikan Piala Dunia bukan hanya pesta olahraga, tetapi juga momentum yang menggerakkan usaha masyarakat.
Lebih dari itu, tradisi nobar menghadirkan kehangatan dalam kehidupan berwarga negara. Di depan satu layar, perbedaan latar belakang seolah melebur. Warga yang sebelumnya tidak saling mengenal dapat duduk berdampingan, berbincang, bercanda, dan menikmati pertandingan bersama. Ruang-ruang publik berubah menjadi ruang silaturahmi yang memperkuat rasa kebersamaan. Dalam suasana seperti itu, nilai-nilai persaudaraan, toleransi, gotong royong, dan saling menghormati tumbuh secara alami. Piala Dunia menjadi pengingat bahwa kehidupan berbangsa tidak hanya dibangun melalui institusi negara, tetapi juga melalui momen-momen sederhana yang mempererat hubungan antarsesama warga.
Meskipun demikian, kecintaan masyarakat Indonesia terhadap tim-tim dan pemain sepak bola dunia tidak pernah mengurangi rasa nasionalisme mereka. Dukungan kepada Argentina, Portugal, Brasil, Prancis, Spanyol, maupun negara lainnya merupakan bentuk apresiasi terhadap kualitas permainan dan prestasi olahraga, bukan pergeseran identitas kebangsaan. Ketika Tim Nasional Indonesia bertanding, dukungan rakyat tetap utuh mengalir kepada Merah Putih. Mengagumi prestasi bangsa lain tidak berarti kehilangan kecintaan kepada bangsa sendiri.
Pada akhirnya, Piala Dunia bukan sekadar kompetisi sepak bola. Ia telah menjadi fenomena budaya global yang mempererat persaudaraan, menghangatkan kehidupan berwarga negara, dan menggerakkan ekonomi kerakyatan. Di atas lapangan hanya ada 22 pemain yang bertanding, tetapi di luar lapangan jutaan masyarakat Indonesia dipersatukan oleh semangat yang sama. Ketika dunia bermain, Indonesia berkumpul; ketika peluit akhir dibunyikan, yang tersisa bukan hanya hasil pertandingan, melainkan kenangan tentang kebersamaan, persaudaraan, dan hangatnya kehidupan sebagai sesama warga negara Indonesia.
Oleh: Kgs. M. Ilham Akbar
Ketua Lembaga Seni & Budaya Muslimin Indonesia (Lesbumi) PWNU Sumatera Selatan


















