Example floating
Example floating
Example 468x60 Example 468x60
BeritaHeadlineKota PalembangSumatera Selatan

Bumi Sriwijaya: Poros Peradaban Nusantara 

32
×

Bumi Sriwijaya: Poros Peradaban Nusantara 

Sebarkan artikel ini
Example 468x60

BERITAOPINI.ID PALEMBANG, SUMSEL | Tidak banyak daerah di Indonesia yang memiliki kesinambungan sejarah sepanjang Sumatera Selatan. Negeri yang dialiri Sungai Musi beserta sembilan anak sungainya—yang dikenal sebagai Negeri Batang Hari Sembilan—bukan sekadar ruang geografis, melainkan ruang lahir, tumbuh, dan berkembangnya berbagai peradaban besar yang memberi pengaruh terhadap Nusantara bahkan Asia Tenggara. Dari masa prasejarah, era Kedatuan Sriwijaya, Kerajaan Palembang, Kesultanan Palembang Darussalam, masa kolonial, hingga Indonesia merdeka, kawasan ini hampir selalu menempati posisi strategis dalam percaturan geopolitik, ekonomi, kebudayaan, dan peradaban.

Perjalanan panjang itu dimulai jauh sebelum nama Sriwijaya dikenal dunia. Bukti arkeologi menunjukkan bahwa Sumatera Selatan telah dihuni manusia sejak zaman Paleolitikum. Penemuan berbagai alat batu di Sungai Saling dan Sungai Kikim di Kabupaten Lahat, serta ditemukannya 78 kerangka manusia berusia sekitar 3.000 hingga 14.000 tahun di Situs Gua, Kabupaten Ogan Komering Ulu, membuktikan bahwa kawasan ini telah menjadi ruang kehidupan manusia sejak ribuan tahun silam.

Keunggulan geografis menjadi fondasi lahirnya peradaban besar. Sungai Musi beserta Batang Hari Sembilan bukan hanya menjadi sumber kehidupan, tetapi juga menjadi jalur perdagangan yang menghubungkan pedalaman Sumatra dengan Selat Bangka, Selat Malaka, Samudra Hindia, hingga Laut Tiongkok Selatan. Dari wilayah pedalaman mengalir hasil bumi, sementara dari berbagai penjuru dunia datang para pedagang yang membawa komoditas, ilmu pengetahuan, budaya, dan teknologi.

Tidak mengherankan apabila sejak masa lampau Bumi Sriwijaya dikenal sebagai kawasan yang kaya akan emas dan berbagai logam bernilai tinggi. Kekayaan sumber daya alam tersebut menjadi salah satu faktor yang mengangkat posisi Palembang sebagai simpul perdagangan internasional sekaligus menjadikannya kawasan yang memiliki nilai strategis dalam peta geopolitik Asia Tenggara.

Memasuki abad ke-7 Masehi, Bumi Sriwijaya memasuki babak baru dalam sejarah. Pada tahun 683 Masehi, Prasasti Kedukan Bukit mencatat berdirinya Kedatuan Sriwijaya, sebuah kerajaan maritim yang mampu mengendalikan jalur perdagangan internasional dan membangun jaringan diplomasi yang luas. Sriwijaya tidak hanya menguasai lautan, tetapi juga berhasil menjadikan Palembang sebagai pusat peradaban yang dihormati di kawasan Asia

Tidak sampai di situ, pada 23 Maret 684 Masehi, melalui Prasasti Talang Tuo, Sriwijaya memperlihatkan bahwa ukuran kejayaan sebuah negara bukan hanya terletak pada luas wilayah atau kekuatan militernya. Pembangunan Taman Sriksetra mencerminkan perhatian penguasa terhadap kesejahteraan rakyat, kelestarian lingkungan, dan ketahanan pangan. Lebih dari tiga belas abad yang lalu, Bumi Sriwijaya telah menunjukkan bahwa pembangunan harus berpijak pada kemaslahatan masyarakat.

Kejayaan Sriwijaya juga tampak dalam hubungan internasionalnya. Sejumlah sumber sejarah Arab mencatat adanya hubungan diplomatik antara Maharaja Sriwijaya dengan Kekhalifahan Umayyah, khususnya pada masa Khalifah Umar bin Abdul Aziz. Hubungan tersebut memperlihatkan bahwa Sriwijaya telah menjadi bagian dari jaringan diplomasi dan perdagangan dunia pada awal abad ke-8 Masehi

Selain menjadi pusat perdagangan, Sriwijaya juga berkembang sebagai pusat pendidikan agama Buddha yang didatangi para pelajar dari India dan Tiongkok. Di sisi lain, kawasan pedalaman atau uluan telah mengenal sistem pemerintahan berbasis marga, yang kemudian berkembang menjadi salah satu karakteristik pemerintahan tradisional di Sumatera Selatan pada masa-masa berikutnya.

Seiring perubahan zaman, konstelasi politik di Nusantara terus berkembang. Pada tahun 1275 Masehi, kawasan Sriwijaya kembali menjadi bagian dari dinamika geopolitik melalui Ekspedisi Pamalayu, yang menunjukkan bahwa wilayah ini tetap memiliki arti strategis dalam hubungan antarkerajaan di Nusantara.

Tidak berhenti di sana, pada awal abad ke-15 Laksamana Cheng Ho singgah di Palembang dalam pelayaran besarnya. Persinggahan armada Dinasti Ming tersebut memperlihatkan bahwa Palembang tetap menjadi salah satu pelabuhan penting dalam jaringan perdagangan dan diplomasi internasional.

Lebih menarik lagi, dari bumi inilah tradisi sejarah dan sejumlah sumber mengaitkan lahirnya dua tokoh yang kemudian mengubah lanskap geopolitik Asia Tenggara, yakni Parameswara dan Raden Fatah. Parameswara kemudian mendirikan Kesultanan Melaka yang berkembang menjadi pusat perdagangan internasional dan kekuatan politik baru di kawasan. Sementara Raden Fatah mendirikan Kesultanan Demak yang menjadi tonggak penting perkembangan politik Islam di Pulau Jawa. Kehadiran kedua tokoh tersebut memperlihatkan besarnya pengaruh Bumi Sriwijaya terhadap arah sejarah Asia Tenggara.

Memasuki masa Kerajaan Palembang yang berada dalam pengaruh Kesultanan Mataram Islam, Palembang kembali menunjukkan kematangannya dalam bidang pemerintahan dan hukum. Pada masa inilah, menurut tradisi sejarah Palembang, Ratu Sinuhun menyusun Kitab Undang-Undang Simbur Cahaya. Kitab tersebut menjadi salah satu kodifikasi hukum adat terpenting di Nusantara yang mengatur pemerintahan, hukum keluarga, pertanahan, perdagangan, serta kehidupan masyarakat marga. Simbur Cahaya membuktikan bahwa Palembang tidak hanya melahirkan kekuatan politik, tetapi juga melahirkan tradisi hukum yang menjadi fondasi kehidupan masyarakat.

Babak berikutnya ditandai dengan berdirinya Kesultanan Palembang Darussalam. Kesultanan ini melanjutkan peran strategis Palembang sebagai pusat perdagangan sekaligus berkembang menjadi salah satu pusat peradaban Islam dan dunia Melayu. Pada abad ke-18 terjadi perpindahan arus intelektual Islam dari Aceh menuju Palembang. Kota ini berkembang sebagai pusat penulisan manuskrip, pendidikan Islam, dan jaringan ulama yang menghubungkan Nusantara dengan Makkah, Madinah, Yaman, dan berbagai pusat keilmuan Islam. Dari bumi ini lahir ulama besar seperti Syekh Abdus Samad al-Falimbani, yang karya-karyanya memberi pengaruh luas dalam khazanah pemikiran Islam.

Perjalanan sejarah kembali membuktikan pentingnya Sumatera Selatan ketika memasuki Perang Dunia Kedua. Kekayaan minyak bumi yang dimiliki kawasan ini menjadikan Sumatera Selatan sebagai wilayah strategis yang diperebutkan Jepang dan Sekutu. Kilang-kilang minyak di Plaju dan Sungai Gerong menjadi aset vital yang sangat menentukan strategi perang di kawasan Asia Pasifik. Sekali lagi, posisi geopolitik Bumi Sriwijaya terbukti tetap memiliki nilai yang sangat tinggi.

Setelah Indonesia merdeka, Sumatera Selatan tetap menjadi salah satu provinsi yang memiliki kekayaan sumber daya alam terbesar di Indonesia. Minyak bumi, gas alam, batubara, serta berbagai mineral menjadi kekuatan ekonomi yang sangat penting. Di samping itu, perkebunan kelapa sawit dan karet, serta hamparan lahan pertanian padi dan tebu menjadikan Sumatera Selatan sebagai salah satu penopang ketahanan energi, ketahanan pangan, dan pertumbuhan ekonomi nasional.

 

Namun, sejarah juga mengajarkan bahwa kekayaan sumber daya alam saja tidak cukup untuk membangun sebuah peradaban yang besar. Peradaban lahir ketika kekayaan alam dipadukan dengan ilmu pengetahuan, tata kelola pemerintahan yang baik, kepemimpinan yang berintegritas, serta semangat persatuan. Di sinilah tantangan besar Sumatera Selatan hari ini. Potensi yang dimiliki masih sangat besar, tetapi masih banyak pekerjaan yang harus diselesaikan, mulai dari peningkatan kualitas sumber daya manusia, penguatan riset dan inovasi, hilirisasi industri, pelestarian warisan budaya, hingga pengelolaan lingkungan yang berkelanjutan.

Di tengah tantangan tersebut, sesungguhnya Sumatera Selatan memiliki modal sejarah yang luar biasa. Daerah ini pernah menjadi pusat perdagangan dunia, pusat diplomasi internasional, pusat hukum, pusat intelektual, sekaligus pusat peradaban Islam. Modal sejarah itu seharusnya menjadi energi untuk membangun masa depan, bukan sekadar menjadi kebanggaan masa lalu.

Karena itu, sudah saatnya seluruh masyarakat Sumatera Selatan kembali membangkitkan semangat membangun peradaban. Semangat itu tidak boleh berhenti pada nostalgia terhadap kejayaan Sriwijaya, tetapi harus diwujudkan dalam peningkatan kualitas pendidikan, penguasaan ilmu pengetahuan dan teknologi, penguatan ekonomi, pelestarian budaya, serta pembangunan yang berkeadilan dan berkelanjutan.

Semangat tersebut sejalan dengan tema besar Nahdlatul Ulama, “Merawat Jagat, Membangun Peradaban.” Merawat jagat berarti menjaga alam, sejarah, kebudayaan, dan harmoni sosial yang telah diwariskan oleh para pendahulu. Sementara membangun peradaban berarti menghadirkan ilmu pengetahuan, keadilan, kesejahteraan, inovasi, serta kepemimpinan yang mampu membawa kemajuan bagi seluruh masyarakat.

Dalam semangat membangun peradaban itu, tidak boleh ada sekat-sekat yang memecah kekuatan Sumatera Selatan. Tidak boleh ada sekat suku, marga, agama, organisasi, profesi, maupun pilihan politik yang menghambat cita-cita bersama. Sejarah Sriwijaya mengajarkan bahwa kejayaan lahir karena kemampuan menyatukan berbagai kekuatan dalam satu tujuan besar. Sungai Musi sejak dahulu menjadi ruang perjumpaan berbagai bangsa dan kebudayaan; demikian pula Sumatera Selatan hari ini harus menjadi rumah bersama bagi seluruh warganya untuk bergotong royong membangun masa depan.

Pemerintah, ulama, akademisi, budayawan, pelaku usaha, pemuda, perempuan, masyarakat adat, dan seluruh elemen bangsa memiliki tanggung jawab yang sama. Tidak ada satu kelompok pun yang dapat membangun Sumatera Selatan sendirian. Peradaban selalu lahir dari kolaborasi, persatuan, dan cita-cita bersama.

Pada akhirnya, menjadi punggawa pengawal Peradaban Sriwijaya bukan hanya menjaga prasasti, manuskrip, makam, atau situs sejarah. Amanah yang jauh lebih besar adalah menjaga semangat peradaban itu sendiri: semangat mencintai ilmu, membangun keadilan, memperkuat persatuan, mengelola kekayaan alam dengan bijaksana, dan menghadirkan kemaslahatan bagi seluruh masyarakat.

Apabila pada masa lalu Bumi Sriwijaya menjadi poros perdagangan dunia, pusat diplomasi internasional, pusat hukum, dan pusat intelektual, maka pada abad ke-21 Sumatera Selatan memiliki peluang untuk kembali menjadi salah satu pusat pertumbuhan Indonesia melalui inovasi, pendidikan, hilirisasi industri, ekonomi kreatif, dan penguatan sumber daya manusia. Masa depan tidak dibangun dengan nostalgia, melainkan dengan keberanian meneruskan nilai-nilai luhur yang telah diwariskan oleh para pendahulu.

Inilah amanah seluruh anak Negeri Batang Hari Sembilan: merawat jagat, membangun peradaban. Sebab, peradaban yang besar tidak hanya dikenang karena kejayaan masa lalunya, tetapi juga karena kemampuan generasi penerusnya menjaga persatuan, mengubah potensi menjadi kemajuan, dan mewariskan masa depan yang lebih baik kepada generasi berikutnya.

Oleh: Kgs. M. Ilham Akbar

(Ketua Lembaga Seni & Budaya Muslimin Indonesia PWNU Sumatera Selatan)

Example 300250 Example 468x60

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Example 468x60