BERITAOPINI.ID DKI JAKARTA | Direktur Kajian dan Riset Anatomi Pertambangan Indonesia (API), Safrudin Taher, yang juga merupakan tokoh pemuda Maluku Utara di Jakarta sekaligus mantan aktivis Pengurus Besar Himpunan Mahasiswa Islam (PB HMI), mengajak generasi muda, khususnya kalangan mahasiswa serta tokoh masyarakat Indonesia Timur di Jakarta, untuk memperingati Hari Pahlawan pada 10 November 2026 melalui berbagai kegiatan positif dan konstruktif. Ia menekankan pentingnya menjadikan momentum tersebut sebagai sarana mengenang jasa dan pengorbanan para pahlawan sekaligus memperkuat semangat nasionalisme, persatuan, dan kecintaan terhadap tanah air.
Dalam wawancara pada Jumat (6/11/2026), Safrudin menyampaikan bahwa Hari Pahlawan tidak semestinya hanya dimaknai sebagai kegiatan seremonial tahunan, melainkan momentum refleksi untuk memahami kembali nilai-nilai perjuangan, keberanian, pengorbanan, dan semangat persatuan yang telah diwariskan para pendahulu bangsa.
Menurutnya, generasi muda, mahasiswa, serta para tokoh masyarakat memiliki tanggung jawab untuk melanjutkan perjuangan tersebut melalui pendidikan, pengembangan kapasitas diri, kepedulian sosial, serta kontribusi nyata bagi kemajuan bangsa dan negara
“Peringatan Hari Pahlawan harus menjadi pengingat bagi kita semua bahwa kemerdekaan yang dinikmati saat ini diperoleh melalui perjuangan dan pengorbanan yang luar biasa. Generasi muda, khususnya mahasiswa, bersama tokoh masyarakat dan tokoh adat harus mampu meneruskan semangat para pahlawan melalui kegiatan positif, memperkuat kebersamaan, serta memberikan manfaat bagi masyarakat,” ujar Safrudin.
Berbekal pengalamannya dalam dunia aktivisme mahasiswa, Safrudin juga mengingatkan agar kalangan mahasiswa tetap menjaga idealisme dan daya kritis dalam menyikapi berbagai persoalan bangsa. Di sisi lain, ia mengajak tokoh masyarakat dan tokoh adat untuk mengambil peran dalam menjaga keharmonisan sosial, memperkuat komunikasi antarkelompok, serta memberikan teladan dalam merawat persaudaraan. Ia meminta seluruh elemen tersebut tidak mudah terpengaruh oleh ajakan maupun informasi yang berpotensi dimanfaatkan pihak tertentu untuk memprovokasi gerakan massa dan memperkeruh situasi menjelang peringatan Hari Pahlawan.
“Kita harus mewaspadai adanya pihak-pihak yang mencoba memanfaatkan momentum Hari Pahlawan untuk memprovokasi gerakan massa dan memperkeruh suasana. Jangan sampai idealisme dan semangat perjuangan mahasiswa maupun pengaruh tokoh masyarakat dimanfaatkan untuk kepentingan tertentu. Kita harus tetap kritis, tetapi juga cerdas dan bijak dalam menentukan sikap,” tegasnya.
Lebih lanjut, Safrudin menilai bahwa menjaga persatuan bangsa merupakan salah satu bentuk nyata dalam meneruskan perjuangan para pahlawan. Komitmen tersebut perlu diwujudkan melalui dukungan terhadap persatuan nasional, penghormatan terhadap kepemimpinan pemerintahan, serta ketaatan terhadap konstitusi sebagai landasan kehidupan berbangsa dan bernegara. Dalam konteks tersebut, ia turut menyampaikan kecaman terhadap segala bentuk upaya makar yang ditujukan kepada Presiden Prabowo Subianto. Menurutnya, perbedaan pandangan politik dalam kehidupan demokrasi harus tetap disikapi melalui mekanisme konstitusional dan tidak boleh berkembang menjadi tindakan yang mengancam stabilitas pemerintahan maupun keutuhan bangsa.
Ia juga menegaskan bahwa penyampaian aspirasi merupakan hak setiap warga negara dalam kehidupan demokrasi. Namun, pelaksanaannya harus tetap mengedepankan cara-cara damai, tertib, dan bertanggung jawab sesuai ketentuan hukum yang berlaku. Menurutnya, sikap kritis terhadap pemerintah merupakan bagian dari demokrasi, tetapi tetap harus disertai tanggung jawab untuk menjaga persatuan dan menghormati konstitusi.
“Mahasiswa harus tetap kritis dan berani menyampaikan aspirasi. Begitu juga tokoh masyarakat dan tokoh adat harus terus mengedepankan kebijaksanaan dalam menyikapi dinamika yang berkembang. Jangan sampai kebebasan dan perbedaan pandangan dimanfaatkan oleh pihak-pihak tertentu untuk menciptakan kegaduhan. Kita harus mengedepankan akal sehat, menjaga persaudaraan, serta menghormati konstitusi sebagai landasan kehidupan berbangsa dan bernegara,” tambahnya.
Secara khusus, Safrudin berharap mahasiswa, tokoh masyarakat, dan tokoh adat Indonesia Timur, khususnya masyarakat Maluku Utara yang berada di Jakarta, dapat menjadi bagian dari elemen masyarakat yang aktif menjaga persatuan dan kondusivitas. Ia mengajak seluruh elemen tersebut untuk memperkuat solidaritas, menjaga hubungan kekeluargaan, serta menghindari segala bentuk provokasi yang dapat merusak keharmonisan antarmasyarakat.
“Perjuangan generasi muda saat ini memang berbeda dengan perjuangan para pahlawan terdahulu. Jika dahulu para pahlawan berjuang merebut dan mempertahankan kemerdekaan, maka tugas kita sekarang adalah mengisi kemerdekaan dengan ilmu pengetahuan, karya, persatuan, dan kepedulian terhadap sesama. Mari kita hormati jasa para pahlawan dengan menjaga Indonesia, memperkuat persaudaraan, dan tidak membiarkan perbedaan menjadi alasan untuk saling memecah belah,” pungkas Safrudin.

















