Example floating
Example floating
Example 468x60 Example 468x60
BeritaHeadlineJawa TengahKabupaten Batang

WALHI Jateng Ingatkan Ancaman Bencana Ekologis dan Hilangnya Ruang Hidup Masyarakat

19
×

WALHI Jateng Ingatkan Ancaman Bencana Ekologis dan Hilangnya Ruang Hidup Masyarakat

Sebarkan artikel ini
Example 468x60

BERITAOPINI.ID BATANG, JAWA TENGAH | Direktur Eksekutif Wahana Lingkungan Hidup Indonesia (WALHI) Jawa Tengah, Fahmi Bastian, menyoroti semakin seriusnya ancaman krisis ekologis akibat aktivitas manusia yang dinilai telah melampaui daya dukung lingkungan. Hal tersebut disampaikannya dalam forum Dialog Annahdliyin yang bertemakan “Indonesia Darurat Krisis Sosial Ekologis”.

Dalam pemaparannya, Fahmi menegaskan bahwa berbagai bencana ekologis yang terjadi di Indonesia tidak dapat dilepaskan dari pola pembangunan, eksploitasi sumber daya alam, dan keputusan politik yang memengaruhi kondisi lingkungan.

Ia menjelaskan, krisis iklim bukan lagi ancaman masa depan, melainkan persoalan nyata yang telah dirasakan masyarakat, terutama kelompok rentan seperti anak-anak, petani, dan warga yang tinggal di kawasan rawan bencana.

“Tidak sulit untuk mengatakan bahwa bencana yang hari ini kita terima itu adalah akibat dari ulah manusia. Ada perubahan hidup kita yang kemudian menciptakan kebencanaan. Ada rasa rakus yang sangat dalam di kita, sehingga kita seakan-akan tidak punya pilihan lain,” ujar Fahmi.

Ia menjelaskan bahwa persoalan lingkungan memiliki keterkaitan erat dengan kebijakan politik dan arah pembangunan ekonomi. Keputusan yang diambil pemerintah maupun pelaku industri, baik di tingkat nasional maupun global, dapat menentukan kualitas lingkungan dan keselamatan masyarakat dalam jangka panjang.

Fahmi kemudian menggambarkan dampak kebakaran hutan dan lahan di Sumatera dan Kalimantan terhadap kesehatan anak-anak. Ia menyebut puluhan ribu anak mengalami gangguan pernapasan akibat paparan asap. Untuk menggambarkan besarnya persoalan tersebut, Fahmi mengajak peserta dialog membayangkan Stadion Gelora Bung Karno dipenuhi anak-anak yang harus menghirup udara tercemar.

“Bayangkan Gelora Bung Karno, lalu semuanya diisi oleh anak bayi. Kemudian kita membakar asap di ruangan itu. Seluruh anak bayi itu terbatuk-batuk dan mereka kesulitan bernapas. Begitulah sulitnya bernapas di Kalimantan sana saat ini,” katanya.

Menurut Fahmi, dampak pencemaran udara tidak hanya terlihat melalui gangguan kesehatan sesaat. Paparan polusi dalam jangka panjang juga berpotensi mengganggu tumbuh kembang anak, termasuk kemampuan kognitif dan proses belajar. Ia menyoroti risiko yang dihadapi masyarakat di sekitar kawasan industri dan pembangkit listrik berbahan bakar batu bara.

Selain persoalan polusi udara, Fahmi mengangkat pengalaman kunjungannya ke Sumatera Utara setelah bencana besar yang melanda sejumlah wilayah di Pulau Sumatera pada akhir tahun sebelumnya. Ia mengaku mendengar langsung kesaksian warga yang menyaksikan air dalam jumlah besar menerjang permukiman hingga merusak rumah dan lahan pertanian.

“Saya bertanya kepada seorang bapak, bagaimana situasi pada saat bencana itu terjadi? Dia bilang berdiri di depan rumahnya, lalu melihat air sangat besar keluar dari atas bukit. Dia bilang, saya tidak pernah membayangkan air dari Batang Toru bisa naik sampai ke rumah. Itu sangat menyeramkan, saya pikir hari kiamat,” tutur Fahmi saat menceritakan kembali kesaksian warga.

Fahmi mengatakan bahwa kerusakan akibat bencana tidak berhenti ketika air mulai surut. Masyarakat masih harus menghadapi persoalan pemulihan ekonomi, kehilangan tempat tinggal, dan rusaknya lahan pertanian.

Ia juga menyoroti besarnya kebutuhan air untuk kegiatan industri dan pengembangan pusat data atau data center. Menurutnya, peningkatan konsumsi air oleh sektor industri berpotensi menimbulkan persaingan pemanfaatan sumber daya air dengan masyarakat, terutama petani yang menggantungkan kehidupannya pada ketersediaan air untuk mengolah lahan.

“Petani bersaing dengan perusahaan-perusahaan besar. Yang tadinya petani mampu mendapatkan air dengan gampang menjadi lebih sulit. Karena apa? Karena semuanya dialihkan kepada wilayah-wilayah industri,” tegas Fahmi.

Fahmi juga mengajak masyarakat mempertanyakan kembali ukuran keberhasilan pembangunan. Menurutnya, pertumbuhan ekonomi seharusnya tidak hanya dilihat dari peningkatan investasi dan aktivitas industri, tetapi juga dari kemampuan masyarakat mempertahankan ruang hidup, memperoleh air bersih, serta menikmati lingkungan yang sehat.

“Kita sangat ingin sekali pertumbuhan ekonomi tinggi. Kita ingin sebuah kesejahteraan, tapi kesejahteraan dan kebahagiaan seperti apa yang kita inginkan,” ujarnya.

Menjelang akhir pemaparannya, Fahmi mengaitkan perjuangan lingkungan dengan semangat kebangsaan yang selama ini dijunjung warga Nahdlatul Ulama (NU).

Example 300250 Example 468x60

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Example 468x60