Example floating
Example floating
Example 468x60 Example 468x60
BeritaHeadlineJawa TengahKabupaten Batang

276 Orang Terdampak Dugaan Keracunan MBG di Batang, SPPG Dihentikan Sementara

35
×

276 Orang Terdampak Dugaan Keracunan MBG di Batang, SPPG Dihentikan Sementara

Sebarkan artikel ini
Example 468x60

BERITAOPINI.ID, BATANG, JAWA TENGAH | Ratusan warga di Kecamatan Bawang, Kabupaten Batang, dilaporkan mengalami gangguan kesehatan yang diduga berkaitan dengan konsumsi Makan Bergizi Gratis (MBG), Rabu (23/9/2026). Berdasarkan data lapangan hingga pukul 20.38 WIB, sebanyak 276 orang tercatat terdampak dalam kejadian tersebut.

Wakil Bupati Batang sekaligus Ketua Pengawas Satgas MBG, Suyono, mendatangi rumah sakit untuk memantau langsung penanganan pasien sekaligus memastikan tindak lanjut terhadap Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) yang menyalurkan makanan kepada para penerima manfaat.

Suyono mengatakan dirinya datang setelah menerima informasi adanya warga dari Kecamatan Bawang yang mengalami gejala dugaan keracunan. Saat memberikan keterangan, ia menyebut data yang diterimanya masih terus berkembang sehingga jumlah warga terdampak belum dapat dipastikan sebagai angka akhir.

“Kita bersama-sama di rumah sakit karena ada kabar dari wilayah Kecamatan Bawang, SPPG menimbulkan keracunan. Yang tentu ini saya belum komplit,” ujar Suyono.

Berdasarkan pembaruan data hingga pukul 20.38 WIB, sebanyak 22 orang menjalani perawatan di RSUD Kabupaten Batang. Mereka terdiri atas satu balita, 11 pelajar, dan 10 orang dewasa. Sementara secara keseluruhan, sebanyak 276 orang tercatat terdampak di Kecamatan Bawang. Pendataan masih terus dilakukan seiring penanganan warga di sejumlah fasilitas kesehatan.

Suyono menjelaskan, berdasarkan kronologi sementara, makanan MBG dikonsumsi para pelajar pada Selasa, 22 September 2026 sekitar pukul 11.00 WIB. Keluhan kesehatan kemudian mulai dirasakan pada sore hari. Tidak hanya pelajar, terdapat pula orang tua yang mengalami keluhan setelah mengonsumsi jatah makanan milik anaknya yang dibawa pulang.

“Iya, jatah anaknya. Yang anak sekolah makan jam 11.00, tapi terasanya sore,” katanya.SPPG yang berkaitan dengan kejadian tersebut diketahui melayani sekitar 2.700 penerima manfaat di Kecamatan Bawang. Penyaluran MBG dilakukan ke TK Al Ikhlas, SDN 3 Bawang, TK Pertiwi, MA Sunan Kalijaga, MTs Sunan Kalijaga, TK Kuncup Mekar, TP Ananda, Pos PAUD Anggrek Mas, TK Korotaayun, RA Al Hidayah, dan MI Salafiyah Pasusukan.

Adapun menu MBG yang dibagikan pada Selasa, 22 September 2026, terdiri atas nasi putih, telur bolognese, sayur, tahu mendoan, dan buah anggur. Untuk memastikan penyebab gangguan kesehatan yang dialami para penerima manfaat, Dinas Kesehatan Kabupaten Batang telah mengambil sampel makanan untuk diperiksa di laboratorium

“Kita tunggu bersama hasil lab nanti. Tadi saya sudah telepon Dinas Kesehatan agar ambil sampel, sudah dapat sampelnya untuk dilab, nanti kepastiannya seperti apa,” ujar Suyono.

Menurut Suyono, kejadian tersebut menjadi bagian penting dalam evaluasi pengawasan pelaksanaan program MBG di Kabupaten Batang. Ia kembali mengingatkan seluruh pengelola SPPG agar menjalankan standar operasional prosedur secara ketat karena berkaitan langsung dengan keamanan makanan yang dikonsumsi masyarakat.

“Nah ini bagian dari kontrol kita yang harus diefektifkan kembali, yang sudah berulang kali saya menyampaikan, jaga SOP benar-benar karena berkaitan tentang makan. Yang bisa menimbulkan kalau ada salah dari masak atau yang bersifat tidak sehat, akan menimbulkan keracunan,” tegasnya.

Ia menilai proses pengolahan hingga distribusi makanan membutuhkan pengawasan ketat. Seluruh pengelola SPPG diminta meningkatkan kewaspadaan agar program MBG yang ditujukan untuk memberikan manfaat kepada masyarakat tidak justru menimbulkan persoalan kesehatan.

“Ini program negara yang harusnya bagus, tapi tidak dijaga dengan baik. Meskipun tidak semuanya, tapi ini harus menjadi kewaspadaan, ini harus menjadi apa namanya, protect dari SPPG yang ada di wilayah Kabupaten Batang,” ujarnya.

Terkait langkah pemerintah setelah kejadian tersebut, Suyono mengatakan pihaknya akan meminta keterangan dari koordinator wilayah yang bertanggung jawab dalam pelaksanaan program MBG, termasuk pengelola SPPG yang menyuplai makanan ke sekolah-sekolah penerima manfaat.

“Kita akan memanggil tentunya, Korwil sebagai yang bertanggung jawab, juga yang punya SPPG itu sendiri,” katanya.

Hasil pemeriksaan laboratorium dan proses klarifikasi nantinya akan menjadi bagian dari bahan evaluasi pemerintah terhadap SPPG terkait. Menurut Suyono, tindakan lebih lanjut dapat dilakukan apabila ditemukan persoalan dalam pelaksanaan program maupun tidak adanya pertanggungjawaban dari pihak pengelola.

“Bisa menjadi suspek ini nantinya, bisa berakibat ditutup kalau benar-benar nanti tidak ada pertanggungjawaban,” ujarnya.

Hingga Rabu malam, penanganan medis terhadap warga terdampak masih berlangsung dan pendataan terus diperbarui. Pemerintah Kabupaten Batang juga masih menunggu hasil pemeriksaan laboratorium terhadap sampel makanan untuk memastikan penyebab kejadian sebelum menentukan langkah lanjutan terhadap pengelola SPPG terkait.

Example 300250 Example 468x60

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Example 468x60