Example floating
Example floating
Example 468x60 Example 468x60
BeritaHeadlineJawa TengahKabupaten Batang

Dialog Annahdliyah di Batang Soroti Krisis Sosial Ekologi, Ajak Warga NU Peduli Lingkungan

30
×

Dialog Annahdliyah di Batang Soroti Krisis Sosial Ekologi, Ajak Warga NU Peduli Lingkungan

Sebarkan artikel ini
Example 468x60

BERITAOPINI.ID BATANG, JAWA TENGAH | Puluhan warga Nahdlatul Ulama (NU) se-Kabupaten Batang menghadiri Dialog Annahdliyah bertajuk “Indonesia Darurat Krisis Sosial Ekologi” di Masjid KH Hasyim Asy’ari, Selasa (27/10/2026). Kegiatan yang menjadi penutup rangkaian Sekolah Ekologi Politik tersebut membahas persoalan kerusakan lingkungan, kebijakan pembangunan, serta peran masyarakat dalam menjaga kelestarian alam.

Dialog ini menghadirkan lima narasumber, yakni Rais Syuriyah Pengurus Wilayah Nahdlatul Ulama (PWNU) Jawa Tengah KH Ubaidullah Shodaqoh, Ketua Partai Hijau Indonesia Gus Roy Murtadho, Manajer Kampanye Iklim dan Energi Greenpeace Indonesia Iqbal Damanik, Direktur Eksekutif WALHI Jawa Tengah Fahmi Bastian, serta Dewan Penasihat Jaringan Gusdurian Inayah Wahid. Kegiatan tersebut menjadi ruang diskusi mengenai krisis sosial ekologi dari perspektif keagamaan, kebijakan politik, dan kepedulian masyarakat terhadap lingkungan..

Dalam sambutannya, KH Ubaidullah Shodaqoh menekankan bahwa manusia dan alam merupakan satu kesatuan yang tidak dapat dipisahkan. Menurutnya, merusak lingkungan sama halnya dengan merugikan kehidupan manusia sendiri, sehingga menjaga kelestarian alam juga menjadi bagian dari tanggung jawab moral dan keagamaan.

“Artinya kalau kita menyakiti alam ini berarti kita menyakiti diri kita sendiri. Artinya ketika kita menyakiti alam ini berarti kita menyakiti ibu kita,” ujar KH Ubaidullah.

Ia menjelaskan bahwa seluruh unsur kehidupan, mulai dari manusia, hewan, tumbuhan, hingga benda-benda di alam, saling berkaitan. Karena itu, manusia perlu menjaga keseimbangan lingkungan dan tidak memperlakukan alam semata-mata sebagai sumber daya yang dapat dimanfaatkan tanpa mempertimbangkan dampaknya.

“Alam yang kita katakan mati misalkan, kemudian alam yang kita namakan tumbuhan, alam yang kita namakan hewan, dan alam yang kita namakan manusia. Itu suatu kesatuan dan sinergi yang sangat indah sekali,” jelasnya.

Sementara itu, Gus Roy Murtadho menjelaskan bahwa Sekolah Ekologi Politik bertujuan memperluas pemahaman masyarakat mengenai hubungan antara kerusakan lingkungan dan keputusan politik. Ia menegaskan bahwa kegiatan tersebut bukan untuk mengarahkan peserta masuk ke partai politik, melainkan membekali kader NU agar lebih memahami persoalan keadilan sosial dan ekologi.

“Ekologi politik itu adalah pandangan yang melihat bahwa kerusakan lingkungan yang sedang terjadi ini disebabkan, dimungkinkan oleh keputusan politik. Mohon diingat-ingat, semua kerusakan yang terjadi hari ini di depan kita ini keputusan politik,” kata Gus Roy.

Menurut Gus Roy, persoalan bencana tidak hanya berkaitan dengan fenomena alam, tetapi juga dipengaruhi kebijakan dalam pengelolaan sumber daya alam. Karena itu, masyarakat perlu memahami proses pengambilan keputusan yang menentukan arah pembangunan, termasuk dampaknya terhadap keselamatan dan kehidupan warga.

Di sisi lain, Inayah Wahid mengajak warga NU lebih berani menyuarakan persoalan lingkungan yang terjadi di daerah masing-masing. Menurutnya, masyarakat merupakan pihak yang paling merasakan dampak eksploitasi sumber daya alam, sehingga memiliki hak untuk mempertanyakan kebijakan yang dinilai merugikan kehidupan mereka.

“Kalau kemudian sumber daya alam terus-menerus dikeruk, siapa yang bayar paling mahal? Siapa? Bapak Ibu. Bapak Ibu yang bayar paling mahal. Bukan penguasa. Percayalah bukan penguasa,” ujar Inayah.

Inayah juga menegaskan bahwa kecintaan terhadap tanah air harus diwujudkan melalui kepedulian terhadap kelestarian lingkungan. Ia menilai masyarakat tidak cukup hanya diajak mencintai tanah air melalui slogan nasionalisme, sementara tanah dan sumber daya alam yang menopang kehidupan mereka terus mengalami tekanan akibat eksploitasi.

“Yang susah itu kalau disuruh cinta tanah air, tapi tanahnya dipatok terus, digali terus,” katanya.

Lebih lanjut, Inayah mengajak warga NU di Batang menjadikan forum tersebut sebagai awal untuk memperkuat gerakan bersama dalam menjaga alam. Ia berharap masyarakat semakin berani menyuarakan kepentingan lingkungan demi keberlangsungan hidup generasi mendatang.

“Kita kuatkan suara kita. Kita buat gelombang yang besar. Kita buat gelombang keberpihakan terhadap pemeliharaan lingkungan hidup,” tegasnya.

Example 300250 Example 468x60

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Example 468x60