Example floating
Example floating
Example 468x60 Example 468x60
BeritaHeadlineKabupaten Lubuk LinggauSumatera Selatan

PMII Lubuk Linggau Gelar FGD Eksistensi Pesantren, Dorong Penguatan Marwah Pesantren dan Perlindungan Santri

44
×

PMII Lubuk Linggau Gelar FGD Eksistensi Pesantren, Dorong Penguatan Marwah Pesantren dan Perlindungan Santri

Sebarkan artikel ini
Example 468x60

BERITAOPINI.ID, LUBUK LINGGAU, SUMSEL | PC PMII Kota Lubuk Linggau menggelar Focus Group Discussion (FGD) bertema “Eksistensi Pesantren di Tengah Krisis Moral Pendidikan” sebagai bentuk kepedulian terhadap berbagai persoalan yang belakangan menjadi sorotan publik terkait dunia pesantren, Cinema Hall lantai 5 pemkot lubuk linggau,Kamis 4 juni 2026.

 Kegiatan ini bertujuan untuk menghadirkan ruang dialog yang objektif, edukatif, dan solutif dalam melihat posisi pesantren di tengah berkembangnya berbagai stigma dan opini di masyarakat.

Ketua III Bidang Keagamaan PC PMII Kota Lubuk Linggau, M. Ibnu Athoillah, yang juga menjadi inisiator kegiatan tersebut, menjelaskan bahwa forum ini dilatarbelakangi oleh maraknya narasi yang cenderung menggeneralisasi pesantren akibat tindakan segelintir oknum. Menurutnya, kondisi tersebut berpotensi mengikis kepercayaan masyarakat terhadap pesantren sebagai lembaga pendidikan Islam yang telah memiliki kontribusi besar dalam perjalanan bangsa.

“Pesantren merupakan lembaga pendidikan yang telah hadir jauh sebelum Indonesia merdeka. Banyak ulama, tokoh bangsa, dan pemimpin lahir dari pesantren. Karena itu, ketika muncul persoalan yang melibatkan oknum, kita harus mampu melihatnya secara proporsional dan tidak serta-merta menghakimi seluruh pesantren,” ujar Ibnu.

Untuk menghadirkan diskusi yang berimbang, panitia menghadirkan dua narasumber dari latar belakang yang berbeda namun saling melengkapi. Narasumber pertama adalah Ustaz Edi Prayitno, M.Pd, selaku Sekretaris MUI Kota Lubuk Linggau yang memberikan pandangan mengenai nilai-nilai kepesantrenan, tradisi keilmuan Islam, serta peran pesantren dalam membangun moral dan karakter umat.

Sementara itu, narasumber kedua adalah Hj. Kunti Maharani, selaku Kepala Dinas Pemberdayaan Perempuan, Perlindungan Anak, dan Pemberdayaan masyarakat (DP3APM) Kota Lubuk Linggau. Kehadiran DP3APM dalam forum tersebut menjadi bentuk keseriusan panitia untuk membangun kolaborasi dalam menciptakan lingkungan pendidikan yang aman, nyaman, dan ramah anak, termasuk di lingkungan pesantren.

Ibnu menegaskan bahwa kegiatan ini bukanlah upaya untuk membela ataupun menyudutkan pihak tertentu. Sebaliknya, forum ini dihadirkan sebagai ruang bersama untuk mencari solusi atas berbagai persoalan yang ada.

“Kami tidak menutup mata terhadap berbagai kasus yang terjadi. Justru karena kami peduli terhadap pesantren, maka kami merasa perlu menghadirkan diskusi ini. Kami ingin membangun kolaborasi dengan DP3APM dan seluruh pihak terkait agar pesantren semakin kuat, semakin baik, dan benar-benar menjadi ruang yang aman bagi santri, khususnya perempuan dan anak-anak,” jelasnya.

Kegiatan tersebut turut dihadiri oleh mahasiswa, organisasi kepemudaan yang tergabung dalam Cipayung Plus, Badan Eksekutif Mahasiswa (BEM), akademisi, dosen, tokoh masyarakat, anggota DPRD, perwakilan pemerintah, serta sejumlah tokoh pesantren di Kota Lubuk Linggau.

Dalam kesempatan tersebut, panitia juga memberikan apresiasi kepada pondok pesantren yang hadir dan terlibat aktif dalam forum diskusi. Dari sejumlah undangan yang telah disampaikan secara langsung kepada berbagai pesantren di Kota Lubuk Linggau, tercatat tiga pondok pesantren yang mengikuti kegiatan hingga selesai, yaitu Pondok Pesantren Uswatun Hasanah, Pondok Pesantren Al-Madani, dan Pondok Pesantren Al-Azhar.

Menurut Ibnu, kehadiran ketiga pesantren tersebut menunjukkan keterbukaan dan komitmen untuk bersama-sama menjaga marwah pesantren melalui dialog, evaluasi, dan perbaikan yang berkelanjutan.

FGD ini menghasilkan berbagai masukan, kritik, dan rekomendasi yang diharapkan dapat menjadi bahan pertimbangan bagi seluruh pemangku kepentingan dalam memperkuat sistem pendidikan pesantren, meningkatkan perlindungan terhadap santri, serta membangun kepercayaan publik terhadap lembaga pesantren.

Sebagai organisasi yang lahir dari tradisi pesantren, PC PMII Kota Lubuk Linggau menegaskan komitmennya untuk terus mengawal isu-isu kepesantrenan dan menjadi mitra konstruktif bagi pesantren, pemerintah, serta masyarakat dalam menciptakan lingkungan pendidikan yang berkualitas, berkeadaban, dan ramah anak.

“Menjaga marwah pesantren bukan berarti menutupi kekurangan yang ada, tetapi berani melakukan perbaikan. Dengan cara itulah pesantren akan tetap menjadi benteng moral, pusat keilmuan, dan tempat lahirnya generasi yang berakhlak mulia,” tutup M. Ibnu Athoillah.

Example 300250 Example 468x60 Example 300250

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Example 468x60