BERITAOPINI.ID NAGAN RAYA, ACEH | Himpunan Mahasiswa Islam (HMI) Cabang Nagan Raya melontarkan kritik keras terhadap pelaksanaan Musabaqah Tilawatil Qur’an (MTQ) tingkat Kecamatan Kuala yang dinilai jauh dari prinsip penyelenggaraan yang baik. Selain belum diserahkannya piala dan penghargaan kepada para juara, HMI juga menilai kesiapan pelaksanaan kegiatan menunjukkan lemahnya perencanaan dan tanggung jawab penyelenggara.
Ketua Umum HMI Cabang Nagan Raya, Muhammad Agus Rifa’i, menegaskan bahwa alasan minimnya anggaran yang disampaikan panitia dan pihak kecamatan tidak dapat dijadikan pembenaran.
Jika memang anggaran belum tersedia, mengapa MTQ tetap dilaksanakan? Dalam tata kelola pemerintahan yang baik, perencanaan harus mendahului pelaksanaan. Bukan sebaliknya, kegiatan dilaksanakan terlebih dahulu, kemudian baru mencari alasan karena anggaran belum siap. Cara seperti ini mencerminkan lemahnya perencanaan dan manajemen penyelenggaraan, tegas Agus.
Ia juga menyoroti kondisi lokasi pelaksanaan yang dinilai sangat sederhana dan tidak mencerminkan kesiapan sebuah agenda resmi tingkat kecamatan.
MTQ bukan kegiatan yang dibuat sekadar menggugurkan kewajiban atau memenuhi agenda seremonial. Ini adalah syiar Islam dan ruang pembinaan generasi Qurani. Ketika pelaksanaan hanya terkesan seadanya, bahkan fasilitas yang disediakan sebatas meja dan kursi, publik berhak mempertanyakan keseriusan pemerintah dan panitia dalam mempersiapkan kegiatan ini. Hal seperti ini tidak boleh dianggap sebagai sesuatu yang wajar,” ujarnya.
Menurut Agus, kualitas penyelenggaraan MTQ tidak hanya diukur dari terlaksananya acara, tetapi juga dari sejauh mana penyelenggara mampu menghormati para peserta, memberikan fasilitas yang layak, serta memenuhi hak para juara.
MTQ bukan sekadar membuka acara, melaksanakan perlombaan, lalu selesai. Ada tanggung jawab moral, administratif, dan kelembagaan yang harus dipenuhi. Jangan sampai kegiatan yang membawa nama Al-Qur’an justru dipertontonkan dengan persiapan yang minim dan meninggalkan kekecewaan bagi para peserta, katanya.
HMI Cabang Nagan Raya mendesak Pemerintah Kecamatan Kuala dan panitia pelaksana segera menyelesaikan persoalan tersebut dengan menyerahkan hak para juara serta melakukan evaluasi menyeluruh terhadap mekanisme perencanaan dan pelaksanaan MTQ.
Jangan jadikan MTQ sebagai kegiatan formalitas tahunan. Jika pemerintah ingin melahirkan generasi Qurani yang berkualitas, maka penyelenggaraannya juga harus berkualitas, profesional, dan bertanggung jawab. Menghormati Al-Qur’an dimulai dari keseriusan dalam menyelenggarakan MTQ, bukan dengan pelaksanaan yang terkesan asal jadi, tutup Agus.


















