Example floating
Example floating
Example 468x60 Example 468x60
BeritaHeadlineKota PalembangSumatera Selatan

Muktamar Ke-35 Nahdlatul Ulama di Tambakberas: Jalan Pulang Kembali Ke Akar Peradaban

64
×

Muktamar Ke-35 Nahdlatul Ulama di Tambakberas: Jalan Pulang Kembali Ke Akar Peradaban

Sebarkan artikel ini
Example 468x60

Kgs. M. Ilham Akbar Ketua Lesbumi PWNU Sumsel & Sekretaris MDS Rijalul Ansor Sumsel

BERITAOPINI.ID PALEMBANG  SUMSEL | Mungkin sejarah tidak pernah benar-benar berulang. Namun, sejarah sering kali menemukan jalannya untuk mengingatkan sebuah bangsa agar tidak melupakan akar tempat ia bertumbuh.

Example 468x60

Refleksi itu terasa mengemuka ketika Pondok Pesantren Bahrul Ulum Tambakberas, Jombang, ditetapkan sebagai tuan rumah Muktamar Ke-35 Nahdlatul Ulama. Bagi banyak warga NU, keputusan tersebut bukan sekadar penetapan lokasi penyelenggaraan, melainkan momentum untuk kembali menapaki jejak para muassis dan meneguhkan nilai-nilai yang menjadi fondasi lahirnya Nahdlatul Ulama sebagai gerakan keagamaan yang sejak awal tidak hanya menjaga tradisi, tetapi juga membangun peradaban.

Menjelang muktamar, sejumlah rangkaian kegiatan menghadirkan semangat yang selaras. Pada 26 April 2026, dalam rangka memperingati Hari Lahir ke-92 Gerakan Pemuda Ansor, digelar Gowes Spiritual dari Makam Syaikhona Kholil Bangkalan menuju Jombang, yang Finish di Pondok Pesantren Bahrul Ulum Tambakberas, Jombang. Sekaligus ziarah ke Pahlawan Nasional KH. Abdul Wahab Hasbullah selaku pendiri GP Ansor.

Perjalanan tersebut dimaknai sebagai napak tilas atas kisah yang hidup dalam tradisi Nahdlatul Ulama, yaitu ketika Syaikhona Kholil Bangkalan mengirimkan tongkat dan tasbih kepada Hadratussyaikh KH. Hasyim Asy’ari melalui KH. As’ad Syamsul Arifin. Dalam tradisi NU, peristiwa itu dipahami sebagai simbol restu atas perjuangan para ulama. Napak tilas tersebut mengingatkan bahwa sebuah peradaban yang besar selalu lahir dari sanad keilmuan, keteladanan guru, dan keberanian murid untuk melanjutkan perjuangan.

Semangat itu berlanjut melalui Muktamar Kebudayaan dan Rakornas LESBUMI NU Ke-7 pada 12–14 Juni 2026 dengan tema “Kembali ke Akar.” Forum tersebut melahirkan Maklumat Tambakberas, yang memuat gagasan mengenai kebudayaan, pendidikan, pelestarian warisan leluhur, penguatan identitas kebangsaan, dan pembangunan peradaban. Nilai-nilai yang terkandung di dalamnya tidak hanya ditujukan bagi LESBUMI atau warga NU, tetapi menawarkan visi kebudayaan sebagai rumah bersama bagi seluruh rakyat Indonesia dalam merawat persatuan dan membangun masa depan bangsa.

Tidak lama kemudian, Muktamar Ke-35 Nahdlatul Ulama dipastikan berlangsung di Tambakberas. Tema “Kembali ke Akar” pun menemukan maknanya. Sebab, membangun masa depan tidak mungkin dilakukan tanpa memahami akar sejarah yang melahirkan nilai-nilai peradaban.

Jombang, yang dikenal sebagai Kota Santri, menjadi saksi tumbuhnya pesantren-pesantren besar seperti Tebuireng, Bahrul Ulum Tambakberas, Darul Ulum Peterongan, Mambaul Ma’arif Denanyar. Dari rahim pesantren-pesantren inilah lahir ulama besar seperti Hadratussyaikh KH. Hasyim Asy’ari, KH. Abdul Wahab Chasbullah, dan KH. Bisri Syansuri, yang bersama para ulama Nusantara lainnya mendirikan Nahdlatul Ulama.

Pondok Pesantren Bahrul Ulum Tambakberas sendiri dirintis sekitar tahun 1825 oleh Kiai Abdus Salam (Mbah Shoichah). Selama hampir dua abad, pesantren ini tidak hanya menjadi tempat menuntut ilmu, tetapi juga menjadi pusat pembentukan karakter, lahirnya pemimpin, dan berkembangnya pemikiran yang memberi arah bagi kehidupan umat

Dari lingkungan pesantren inilah tumbuh perjuangan KH. Abdul Wahab Chasbullah, yang melahirkan gagasan Komite Hijaz pada tahun 1926. Bersama para ulama Nusantara, beliau memperjuangkan kebebasan bermazhab di Tanah Suci dan menjaga warisan sejarah Islam. Perjuangan tersebut kemudian menjadi salah suatu jalan menuju berdirinya Nahdlatul Ulama pada 16 Rajab 1344 H atau 31 Januari 1926, diprakarsai oleh Hadratussyaikh KH. Hasyim Asy’ari, KH. Abdul Wahab Chasbullah, KH. Bisri Syansuri, bersama para ulama Nusantara lainnya.

Sejak awal berdirinya, Nahdlatul Ulama tidak hanya mengemban amanah menjaga ajaran Ahlussunnah wal Jamaah, tetapi juga membangun pendidikan, menguatkan ekonomi umat, merawat kebudayaan, menjaga persatuan bangsa, dan melahirkan generasi yang berilmu serta berakhlak. Itulah hakikat membangun peradaban—membangun manusia, membangun nilai, dan membangun kehidupan yang berkeadilan.

Karena itu, tema “Kembali ke Akar” bukan berarti kembali hidup di masa lalu. Maknanya adalah kembali kepada nilai-nilai yang telah melahirkan peradaban: ilmu yang mencerahkan, adab yang memuliakan manusia, musyawarah yang memperkuat persatuan, budaya yang menjaga jati diri, serta pengabdian yang menghadirkan kemaslahatan.

Peradaban tidak dibangun hanya dengan kemajuan teknologi atau kekuatan ekonomi. Peradaban dibangun oleh manusia yang berilmu, berakhlak, menghormati sejarah, dan mampu menjadikan warisan para pendahulu sebagai inspirasi untuk melahirkan inovasi bagi masa depan.

Maka, penyelenggaraan Muktamar Ke-35 Nahdlatul Ulama di Tambakberas adalah lebih dari sekadar agenda organisasi. Ia merupakan momentum untuk meneguhkan kembali akar peradaban, memperkuat khidmah, serta memperbarui komitmen agar Nahdlatul Ulama terus menjadi pelopor dalam membangun peradaban Indonesia yang maju, berbudaya, bermartabat, dan membawa rahmat bagi seluruh alam.

Example 300250 Example 468x60

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Example 468x60